KUDUS – Mutu lulusan madrasah tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan kurikulum, tetapi juga oleh kualitas serta komitmen guru dalam mendampingi peserta didik. Guru memiliki peran strategis untuk memastikan proses pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak sekadar berpengetahuan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Dr. H. Shony Wardana, S.Ag., M.Pd., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus, saat menyampaikan materi dalam kegiatan Capacity Building Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Muhammadiyah Kabupaten Kudus, Sabtu (10/10/2026), di lantai 8 RS Sarkies ‘Aisyiyah Kudus.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus bersama Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS) SD/MI Muhammadiyah Kudus.
Dalam pemaparannya, Shony menekankan bahwa guru merupakan salah satu faktor paling dominan dalam menentukan mutu lulusan. Sarana prasarana, fasilitas, dan kurikulum tetap dibutuhkan, tetapi efektivitas seluruh komponen tersebut sangat bergantung pada peran guru sebagai pelaksana utama proses pembelajaran.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya menyelesaikan tugas mengajar sesuai ketentuan. Lebih dari itu, guru diharapkan mampu mendorong peserta didik menjadi pribadi yang berkembang dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Intensi Guru, Kesediaan Berkontribusi Melampaui Tugas Formal
Salah satu poin penting yang disampaikan Shony adalah pentingnya menumbuhkan intensi dalam diri setiap guru. Dalam konteks pemaparannya, intensi dimaknai sebagai kesediaan untuk membantu rekan kerja dan melakukan hal-hal terbaik bagi satuan pendidikan maupun organisasi secara sukarela, termasuk di luar tugas pokok dan fungsi.
Sikap ini dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti membantu rekan guru yang mengalami kesulitan, mendukung program madrasah, hingga mengambil peran ketika sebuah kegiatan membutuhkan tenaga tambahan.
Shony mencontohkan, ketika madrasah menetapkan target prestasi tertentu, seluruh unsur pendidikan diharapkan ikut mengambil bagian dalam mewujudkannya. Guru pembimbing menjalankan tugasnya, sementara guru lain dapat memberikan dukungan sesuai kemampuan, meskipun tidak tercantum dalam kepanitiaan atau pembagian tugas formal.
Semangat tersebut, lanjutnya, bukan semata-mata tentang bekerja lebih banyak, melainkan membangun kepedulian terhadap kemajuan lembaga dan keberhasilan peserta didik.
Ia juga mengingatkan bahwa kontribusi sukarela perlu dilandasi keikhlasan, bukan hanya pertimbangan imbalan. Ketika guru saling membantu tanpa harus selalu diminta, hubungan antarrekan kerja akan semakin kuat dan suasana di lingkungan madrasah menjadi lebih harmonis.
Kepuasan batin atas keberhasilan bersama pun menjadi nilai tersendiri. Ketika peserta didik berkembang dan madrasah mencapai kemajuan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh seluruh warga sekolah dan masyarakat.
Kurikulum Berbasis Cinta, Membangun Kedekatan Guru dan Siswa
Selain intensi, Shony menyoroti pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan di lingkungan Kementerian Agama. Pendekatan ini menempatkan nilai cinta sebagai landasan dalam membangun hubungan yang baik antarmanusia, memperkuat kerukunan, dan menumbuhkan sikap saling menghormati.
Dalam dunia pendidikan, cinta tidak dimaknai sebatas perasaan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, empati, kesabaran, dan kesungguhan dalam mendampingi peserta didik.
Guru diharapkan mampu menghadirkan suasana belajar yang membuat siswa merasa aman, nyaman, dihargai, dan terbuka untuk berkomunikasi. Dengan demikian, hubungan antara guru dan siswa tidak berhenti pada proses penyampaian materi, tetapi juga berkembang menjadi hubungan pendidikan yang membangun karakter.
Shony mengingatkan bahwa guru menjalankan peran sebagai orang tua bagi peserta didik selama berada di sekolah. Kedekatan yang sehat antara keduanya dapat membantu siswa menyampaikan kesulitan, memahami arahan, serta memperoleh pendampingan ketika menghadapi persoalan.
Sebaliknya, hubungan yang terlalu berjarak dapat membuat siswa merasa sungkan untuk berkomunikasi. Karena itu, guru perlu memahami karakteristik setiap peserta didik agar pendekatan pembelajaran dan pendampingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Kedekatan tersebut tetap perlu dibangun dengan menjaga keteladanan, penghormatan, dan batas-batas yang tepat. Tujuannya adalah menciptakan hubungan yang positif sehingga siswa menghormati guru bukan hanya karena kedudukannya, melainkan juga karena sikap dan keteladanannya.
Menguatkan Budaya Kolaborasi di Madrasah Muhammadiyah
Pesan tentang intensi dan Kurikulum Berbasis Cinta memiliki keterkaitan erat. Keduanya menempatkan kepedulian sebagai dasar untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih baik.
Intensi mendorong guru untuk berkontribusi secara sukarela demi kemajuan lembaga, sedangkan pendekatan berbasis cinta menguatkan hubungan antarguru dan antara guru dengan peserta didik. Jika keduanya tumbuh secara konsisten, madrasah berpeluang membangun budaya kerja yang kolaboratif sekaligus lingkungan belajar yang lebih manusiawi.
Bagi madrasah Muhammadiyah, penguatan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Keberhasilan tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan lulusan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan capacity building ini, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan semakin menyadari pentingnya peran masing-masing dalam proses pendidikan. Peningkatan kompetensi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter, keikhlasan dalam mengabdi, serta kemauan untuk terus berkolaborasi.
Pada akhirnya, pendidikan yang bermutu tidak hanya lahir dari kurikulum yang baik atau fasilitas yang memadai. Pendidikan juga bertumbuh melalui guru yang bersedia memberikan kemampuan terbaiknya, membangun hubungan yang penuh kepedulian, dan mendampingi peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, serta bermanfaat bagi kehidupan.



