Terbaru

Fenomena Alam Jadi Pengingat, Ustadz Adi Hidayat Ajak Umat Kembali kepada Allah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din, wash shalatu was salamu ‘ala nabiyyina wa sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihit thahirina wa shahbihi ajma’in, wa dzurriyyatihi wa ummatihi ila yaumiddin, wa ba’du.
Saudara-saudariku sebangsa se-tanah air di manapun kita semua berada, semoga video ini menemui kita semua dalam keadaan sehat, dalam keadaan baik, dalam keadaan semangat menunaikan aktivitas kita dalam rangka mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Teman-teman keluargaku di manapun berada, seperti diketahui oleh kita bersama, diakui khususnya oleh umat Islam dalam ibadah kita sehari kita ucapkan 17 kali untuk menegaskan pujian kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai perawat, penguasa, penjaga alam semesta ini. Kita ucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah yang menguasai, merawat, menjaga, melindungi alam semesta ini.
Yang merawat, menjaga, dan melindungi tentu memiliki aturan-aturan, tentu memiliki ketentuan yang dengan ketentuan itu penjagaan ditetapkan, yang dengan aturan itu perawatan diberikan.
Di antara sekian aturan yang Allah tetapkan kepada kita agar menjadikan bumi setidaknya bagian dari alam semesta ini menjadi selalu terawat adalah senantiasa menjaga dengan baik, tidak mengganggu stabilitas, kemudian juga tidak melakukan tindakan-tindakan yang mungkin berpengaruh, merusak kepada lingkungan alam sekitaran kita. Zaharal-fasaadu fil-barri wal-bahri bimaa kasabat aydin-naas. Seringkali tampak banyak kerusakan di daratan, di lautan karena perilaku manusia itu sendiri yang menyimpang.
Teman-teman, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak mengingatkan hamba-hamba yang sudah melampaui batas yang perbuatan ini berdampak kepada tidak stabilnya lingkungan, berdampak kepada kemarahan Tuhan yang merawat beragam bentuk keseimbangan di alam semesta ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tanda-tanda di sekitaran kehidupan kita. Allah berfirman di Al-Qur’an surah ke-17 misalnya di ayat ke-59:

وَمَا مَنَعَنَآ اَنْ نُّرْسِلَ بِالْاٰيٰتِ اِلَّآ اَنْ كَذَّبَ بِهَا الْاَوَّلُوْنَۗ وَاٰتَيْنَا ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوْا بِهَاۗ وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا

Dan tidak ada yang dapat mencegah Kami dengan keagungan Kami, kata Allah, “Kami” di sini memberikan kesan ta’dzimun-nafsi li ta’dzimis-sya’ni, kesan keagungan, kehebatan, kedahsyatan menunjuk pada sesuatu yang besar sifatnya, sesuatu yang mengguncang. Jadi bila Allah sedang mengingatkan, maka peringatan itu sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang mengguncang, sesuatu yang harusnya menyadarkan kita semua. Tidak ada yang bisa mencegah Kami dengan keagungan-Ku untuk memberikan pelajaran berupa tanda-tanda yang menjadikan seorang hamba seharusnya mengerti untuk memperbaiki diri.
Kecuali dulu ada kaum-kaum, ada komunitas, ada masyarakat yang mengabaikan itu semua, yang menganggap itu semua bagian dari sesuatu yang biasa saja sehingga mendustakan tanda-tanda dimaksud. Bahkan kaum Tsamud pernah diberikan tanda yang nyata berupa unta yang keluar dari batu yang terbelah seperti harapan mereka pula, namun mereka kemudian berbuat zhalim dengan menyembelihnya. Wa maa nursilu bil-aayaati illaa takhwiifaa, dan tidaklah dengan keagungan-Ku kata Allah, Aku mengirimkan tanda-tanda yang membuat manusia seharusnya mengerti kecuali untuk menjadikan mereka merasa lebih takut berbuat tindakan yang menyimpang. Ada tanda-tanda yang menjadikan kita seharusnya takut akan hukuman ini, tanda-tanda untuk menakuti kita supaya tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas.
Kita mendapati beberapa hari ini di tempat kita beraktivitas, tempat kita tinggal, tetiba kemudian debu-debu vulkanik bertebaran, asap-asap juga menyebar di berbagai tempat. Tanda-tanda alam yang sekiranya biasanya bersahabat dengan aktivitas kita kini mulai berubah, debu bertebaran, berbagai macam bentuk jadwal penerbangan tetiba harus di-cancel, harus berhenti, dampaknya luar biasa, beragam orang mulai merasakan ketakutan.
Tapi pertanyaannya, dari sekian yang merasa takut itu, berapa yang mau berevaluasi diri? Berapa yang mau bermuhasabah? Berapa yang mau berintrospeksi diri? Wa maa kaanallahu li yu’azzibahum wa anta fiihim, wa maa kaanallahu mu’azzibahum wa hum yastaghfiruun.
Wa maa kaanallahu li yu’azzibahum wa anta fiihim, dan tidaklah Allah akan menghukum umatmu ya Muhammad sepanjang engkau masih berada di antara mereka. Wa maa kaanallahu mu’azzibahum wa hum yastaghfiruun, dan Allah juga tidak akan menghukum umatmu sekalipun engkau tidak ada sepanjang mereka masih mau beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kalimat yang pertama menggunakan bentuk kata kerja, Nabinya masih ada, ingin memberikan kesan bahwa rasanya sedikit atau mungkin bahkan tidak ada ketika Nabi masih hidup, umatnya yang mengaku umat Nabi beriman kepada Allah, beriman kepada Nabi sengaja berbuat kerusakan, sengaja berbuat maksiat. Sehingga dengan keberadaan Nabi, maksiat itu dihindari dan tidak layak untuk dihukum.
Tapi yang kedua berubah menjadi kata benda, seakan memberikan isyarat bahwa memang sudah banyak perilaku manusia yang menyimpang, mengaku umat Nabi tapi berbuat maksiat, sengaja mempertontonkan keburukan-keburukan dan dengan itu berdampak keburukan sosial yang lebih luas. Namun demikian, tetap Allah menahan hukuman-hukuman yang besar, hukuman-hukuman yang mungkin berdampak cukup luas karena ada segelintir orang yang masih konsisten memohon ampunan kepada Allah, beristigfar, beristigfar, beristigfar, wa hum yastaghfiruun.
Oleh karena ini, di kesempatan mudah-mudahan dinilai baik saat ini, saya ingin mengajak pada diri pribadi dan kita semua, mari kita berintrospeksi diri, menghadirkan suasana taubat nasional yang lebih luas. Tidak hanya melihat beragam bentuk kesulitan-kesulitan saat ini sebagai fenomena alam, sebagai bagian dari siklus yang mungkin dijalani dalam kehidupan. Kita punya jiwa spiritual, kita punya karakter Ketuhanan Yang Maha Esa, bahkan ini menjadi filosofi dasar dalam berbangsa, bernegara. Bahkan di Pasal 29 Ayat 1, negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan karakter Pancasila juga diawali dengan pondasi ketuhanan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Saya kira saatnya kita menghidupkan kembali algoritma spiritual kita, selain tentunya kita menjalani kehidupan dengan algoritma intelektual, algoritma fisikal, tapi tetap sisi spiritual tetap harus kita aktifkan kembali dengan penuh kesadaran. Mari kita semua bertaubat kepada Allah.
Mungkin di beberapa tempat kemarau panjang, hujan tidak turun bukan karena hujannya saja tak turun, namun mungkin di antaranya adalah bagaimana kita membangun satu hubungan yang baik dengan Pemilik hujan, dengan Pengatur cuaca, menarik simpati yang dengan itu mudah-mudahan hujan bisa turun, Anak Krakatau kalaupun dicontohkan bisa berhenti, gunung-gunung yang lainnya berhenti erupsi, dan kebaikan, kedamaian bisa terjadi.
Salah satu caranya bagi kita umat Islam adalah dengan introspeksi diri, dengan bertaubat, dengan banyak beristigfar. Fa qultustaghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffaaraa. Demikian Nabi Nuh terekam dalam Al-Qur’an pernah mengabadikan umatnya untuk memperbanyak istigfar. “Aku katakan pada umatku yang telah banyak melampaui batas, ayo banyak istigfar, sungguh Allah itu Maha Penerima ampunan bagi hamba-hamba yang bahkan melampaui batas dalam perbuatan penyimpangannya.”
Fa qultustaghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffaaraa, yursilis-samaa’a ‘alaikum midraaraa. Maka dengan itu Allah akan berkenan menurunkan hujan yang bisa memberikan solusi dari kesulitan-kesulitan yang kita alami, wa yumdidkum bi amwaaliw wa baniina, dan juga bahkan melipatgandakan kesejahteraan di keluarga, hadirnya anak-anak, juga harta benda yang mungkin diharapkan oleh kita semua.
Semoga bermanfaat, dan maafkan saya, Adi Hidayat.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Facebook Comments

Latest Posts