Terbaru

Takwa sebagai Pegangan, Akhlak Terpuji sebagai Cerminan Iman

Oleh: M. Muchlas Abror

Umat Islam, termasuk warga Muhammadiyah, meyakini enam rukun iman sebagai landasan keyakinan. Di antara rukun iman tersebut adalah beriman kepada Allah Swt. dan para rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Keimanan tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi perlu diwujudkan melalui ketakwaan, ketaatan beribadah, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum bulan Rabiulawal mengingatkan kita pada kelahiran Nabi Muhammad saw. pada tahun Gajah. Ayah beliau, Abdullah, wafat sebelum Nabi Muhammad saw. tumbuh dewasa. Meski menjalani kehidupan sejak kecil tanpa kehadiran ayah, beliau tumbuh menjadi pribadi yang dikenal karena kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlaknya.

Sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi rasul, Muhammad saw. telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Kepribadian yang luhur mengantarkan beliau pada kehidupan yang penuh tanggung jawab. Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar terpandang yang dikenal memiliki kemuliaan budi pekerti.

Perjalanan hidup Rasulullah saw. memberikan pelajaran bahwa keimanan, ketakwaan, dan akhlak terpuji merupakan nilai penting yang harus terus dipelihara. Lantas, bagaimana kita meningkatkan ketakwaan dan membiasakan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari?

1. Menjaga Ketakwaan di Mana Pun Berada

Rasulullah saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. Tirmidzi).

Pesan tersebut mengajarkan bahwa ketakwaan tidak dibatasi oleh tempat dan keadaan. Seorang Muslim hendaknya tetap menjaga perilaku, baik ketika sedang sendirian maupun berada di tengah masyarakat. Ketakwaan bukan sekadar ditunjukkan ketika dilihat orang lain, melainkan diwujudkan dalam kesadaran bahwa Allah Swt. senantiasa mengetahui segala sesuatu yang dilakukan hamba-Nya.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 7

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan kepada mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Al-Mujādalah [58]:7

bahwa tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Allah menjadi yang keempat, dan tidak pula lima orang melainkan Allah menjadi yang keenam. Dia mengetahui apa yang lebih sedikit maupun lebih banyak dari itu, di mana pun mereka berada.

Kesadaran akan pengawasan Allah tersebut semestinya menjadi pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata, bertindak, dan mengambil keputusan. Ketika tidak ada manusia yang menyaksikan, seorang Muslim tetap berusaha menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah.

Takwa mencakup upaya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, manusia bukanlah makhluk yang luput dari kesalahan. Karena itu, ketika terlanjur melakukan keburukan, kita hendaknya segera bertobat, memohon ampun kepada Allah, dan memperbaiki kesalahan melalui perbuatan baik.

Rasulullah saw. juga berpesan, “Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi).

Pesan tersebut mengajarkan pentingnya istigfar, pertobatan, dan kesungguhan memperbaiki diri. Kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus melakukan keburukan. Sebaliknya, kesadaran atas kesalahan harus mendorong kita kembali ke jalan yang benar.

Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

(QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Ayat tersebut mengajak setiap Muslim melakukan introspeksi. Kita perlu mengevaluasi amal perbuatan hari ini dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Dengan demikian, ketakwaan tidak berhenti pada pengakuan keimanan, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

2. Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji

Selain ketakwaan, seorang Muslim perlu membiasakan diri berakhlak terpuji. Akhlak yang baik mencakup perilaku luhur dalam berhubungan dengan Allah maupun sesama manusia, seperti berkata jujur, bersikap amanah, menepati janji, menghormati orang lain, serta menjauhi tindakan yang menyakiti dan merugikan sesama.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ibnu Hibban).

Hadis tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari pengetahuan, kedudukan, atau penampilan lahiriah. Kualitas akhlak menjadi bagian penting yang mencerminkan kebaikan pribadi seorang Muslim.

Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak terpuji dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana. Berbicara dengan santun, menghargai pendapat orang lain, membantu orang yang membutuhkan, menjaga amanah, serta meminta maaf ketika berbuat salah merupakan contoh nyata penerapan akhlak mulia.

Rasulullah saw. juga menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari keutamaan seorang mukmin. Dalam hadis riwayat Al-Baihaqi, disebutkan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara mereka adalah yang paling baik terhadap istrinya.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa akhlak mulia harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Kebaikan seseorang semestinya tidak hanya terlihat di ruang publik, tetapi juga dirasakan oleh pasangan, anak-anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya.

Dengan demikian, ketakwaan dan akhlak terpuji merupakan dua hal yang saling menguatkan. Ketakwaan menjadi landasan untuk menjalankan perintah Allah, sedangkan akhlak mulia menjadi salah satu wujud nyata dari keimanan dalam hubungan sosial.

Menjadikan Takwa dan Akhlak sebagai Kebiasaan

Bagi umat Islam, termasuk warga Muhammadiyah, menjaga ketakwaan dan membiasakan akhlak terpuji merupakan ikhtiar yang perlu dilakukan sepanjang hayat. Keduanya tidak cukup hanya dipahami sebagai ajaran, tetapi harus diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita membiasakan diri untuk selalu mengingat Allah, mengevaluasi perbuatan, memperbaiki kesalahan, serta memperlakukan sesama dengan baik. Jangan sampai semangat beribadah hanya tampak dalam kegiatan keagamaan, tetapi tidak tercermin dalam tutur kata dan perilaku sehari-hari.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita agar menjadi pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu menghadirkan manfaat bagi sesama.

Wallahu a’lam bishawab.

Sumber : SUARA MUHAMMADIYAH • 18 / 111 • 16 – 30 SEPTEMBER 2026 

Facebook Comments

Latest Posts