Terbaru

Allah Tidak Meninggalkan Kita

Tidak semua fase kehidupan berjalan sesuai harapan. Ada saatnya seseorang merasakan kebahagiaan seperti terang cahaya pagi, tetapi ada pula masa ketika berbagai persoalan datang silih berganti hingga kehidupan terasa gelap dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi seperti itu, pesan Surah Ad-Duha menjadi pengingat bahwa kesulitan bukan berarti Allah meninggalkan hamba-Nya.

Dalam ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa perjalanan hidup seorang muslim tidak selalu diwarnai kemudahan. Bahkan, setelah seseorang berusaha konsisten dalam amal saleh, Allah dapat menghadirkannya dalam berbagai kondisi yang menguji kesungguhan, keteguhan, dan keikhlasannya. Menurut penjelasan tersebut, ujian juga dapat menjadi sarana untuk melihat bagaimana seseorang tetap melanjutkan ibadah sekaligus mengenali lingkungan di sekitarnya. berikut isi Ceramah Beliau tentang Surat Ad-duha.

وَالضُّحٰىۙ Demi waktu duha

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
dan demi waktu malam apabila telah sunyi,
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ
Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ
Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ
Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu);
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ
mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu);
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ
Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ
Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ
Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).
anugerah terbesar yang tak sama dengan keadaan di dunia ini, lebih baik daripada semua dunia dan seisinya.
Pertama sebelum kita masuk, terkadang Allah menginginkan dalam setiap amal yang kita lakukan itu sempurna amalan itu dan baik ketika dipraktikkan dalam kehidupan.
Sehingga di antaranya dibiarkanlah kita dalam amalan-amalan itu dan diuji dengan respon orang-orang sekitaran kita.
Kita ambil terapan ayat ini misal.
Tuan Menteri Besar membuat satu keputusan di Selangor ini, keputusannya baik. Sebelum ada keputusan itu, dikenalnya baiklah. “Oh ini baik, ini peduli, ini macam-macam, masjid negerinya bagus,” dan sebagainya. Tapi setelah muncul satu keputusan ini, nampaklah selama ini yang tidak ada respon.
Bahwa ternyata yang ini tak setuju, yang ini mencibir, yang ini ternyata nampaknya responnya A, responnya B, responnya C. Nah, terkadang Allah kirimkan kepada kita satu kondisi yang dengan kondisi ini kita bisa melihat sekitaran kita untuk mengetahui bagaimana keadaan lingkungan sekitar kita ini.
Ya. Jadi kalau dalam hidup kita mendapatkan ujian-ujian setelah kita konsisten beramal saleh, bukan dalam arti Allah meninggalkan kita atau tak suka dengan kita, bukan. Tapi supaya melihat: satu, bagaimana kesungguhan kita meneruskan ibadah kita; yang kedua, untuk menampakkan siapa orang-orang sekitaran kita yang selama ini tak nampak tabiat aslinya.
Seperti halnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kan dakwahnya belum dimulai. Nabi baru praktikkan untuk pribadinya, salat untuk sendirinya, orang dengar sekitarannya. Saat dakwah akan dimulai, ditampakkanlah oleh Allah mitigasi: “Ya Muhammad, seperti ini lingkunganmu. Ini yang tak suka denganmu, ini yang mencacimu, ini orang yang senang denganmu, ini yang baik padamu. Dari sini buatlah planning bagaimana menyikapi semua itu ketika engkau memulai dakwahmu.”
Jadi di sini sebelum memulai sesuatu, Anda mau berangkat kerja, mitigasikan. Ke mana jalan yang mana baiknya, mana macetnya, bagaimana tempatnya. Sebelum memulai belajar, ditengok pelajar-pelajar kita di pondok, di university, ya, jangan langsung datang. Mitigasi dulu. Anda mau belajar di mana, apa yang didapatkan di situ, berapa subjeknya, siapa pengajarnya, siapa dosennya. Dari situ kita siapkan sebelum datang ke tempatnya. Itulah spirit pertama saat turunnya surah Ad-Duha, hikmahnya demikian.
Dijawablah oleh Allah dengan turun surah ke-11 berisi 40 kalimat (40 kata), 102 huruf.
Urutan surah ke-11 berisi 40 kalimat (kata kalau kita sekarang cakap), 102 huruf.
Simak baik-baik.
Nabi dituduh setelah 10 surah ini dalam usia beliau mempraktikkan dakwah masih di kisaran 40-an, maka diturunkanlah oleh Allah 40 kalimat dalam surah yang ke-11 berisi 102 keistimewaan dalam setiap hurufnya yang membebaskan Nabi dari semua tuduhan, cacian, dan permusuhan serta jaminan Allah saat kembali ke akhirat dalam kemuliaan.
Urutan 11, 40 kalimat, 102 huruf. Usia Nabi 40-an, di atas 40. Kalau kita cakap di atas 40, sekitar 40-an itu arba’in namanya. Sekitar 40-an Nabi dakwah memulai dakwah ini, maka Allah turunkan surah dengan 40 kalimat, berisi 102 huruf keistimewaan yang istimewanya menjamin semua kebaikan Nabi, yang membebaskan dari cacian, dari tuduhan, dari permusuhan sampai mengangkat derajat Nabi bukan hanya di dunia, sampai di akhirat ke tempat yang terbaik.
Bagaimana Allah menyampaikan itu sampai tertanam pada jiwa Nabi Muhammad, itulah yang akan kita mulai bacakan.
Wad-duha.
Bila ada wau di awal ayat Al-Qur’an, lalu setelah itu ada alif lam, ada kalimat akhirnya kasrah atau alif bengkok seperti ini, maka wau-nya diartikan dengan sumpah.
Ya. Misal: Wash-shamsi, Wal-‘asri, Wal-fajri. Akhir kalimatnya kasrah (i), awalnya ada wau, artikan dengan sumpah.
Usually kalau bersumpah itu artinya apa? Bersumpah itu untuk menguatkan sesuatu. Bila ada orang ragu, kita kuatkan. Bila ada orang ingkar, kita bersumpah.
Ustaz Adeni mau datang untuk memberikan tausiah. Ah, benarkah mau datang? Maka kita kuatkan, disebut dengan huruf taukid namanya: Innal-ustadh saya’ti. “Ustaz insya Allah akan datang.” Tapi bila dia ingkar, “Ah, tak mungkinlah. Dulu pun kami undang, kami jemput, tak datanglah.” Maka dikuatkan dengan sumpah: Wallahi, pakai wau. Innal-ustadh saya’ti, Wallahi naik sumpah dan menguatkan, ustaz akan datang.
Allah itu tidak perlu bersumpah untuk menunjukkan semua yang disampaikan-Nya benar. Tapi demi menguatkan pada jiwa Nabi Muhammad dan membantah semua tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Rasulullah, cacian-cacian, permusuhan-permusuhan, maka cukup digunakan satu huruf saja oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Wa. Inilah faedahnya wawul-qasam dalam surah dan pembuka ayat ini, seakan mengatakan: “Aku tepis, Aku hilangkan ya Muhammad, tanamkan pada jiwamu yang paling dalam, semua permusuhan, cacian, makian, tuduhan yang disampaikan oleh orang-orang ini kepadamu, Aku tepis seluruhnya, itu tak benar sama sekali.”
Wad-duha, hanya menggunakan satu huruf untuk menghilangkan seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Wa.
Ad-duha, mengapa kalimat Dhuha yang digunakan di sini? Setelah itu disusulkan Wal-layli idza saja, ini? Kemudian bersumpah demi malam apabila malamnya itu sudah tenang, istaqarra wastawa, tengah malam.
Saya hendak tanya sebentar, kalau yang paling enak itu cahaya mentari itu saat waktu apa? Dhuha. Banyak manfaat, banyak vitaminnya, ya. Kita keluar nampak, saat masa COVID itu kan banyak berjemur orang luar, ya. Bukankah di waktu Dhuha? Ya, vitaminnya datang, tiba, enak, ya. Itulah diilustrasikan Dhuha ini seperti keadaan wahyu turun. Nabi menerima setiap wahyu, setiap ayat seperti merasakan cahaya Dhuha yang enak dan nikmat.
Rasulullah itu kalau turun wahyu pas perasaannya itu enak, bahagia, gembira. Dan itu diwariskan kepada para sahabat, sehingga para sahabat itu begitu wahyu turun langsung mengatakan sami’na wa ata’na, sami’na wa ata’na, sami’na wa ata’na. Wa qalu sami’na wa ata’na ghufranaka rabbana wa ilaykal-masir (Al-Baqarah ayat 285). Saking nikmatnya, senangnya menerima wahyu, tunggu lagi kapan turun lagi ya Allah, kapan turun lagi, saking nikmatnya seperti nikmat menerima cahaya Dhuha.
Kalau umat dulu menerima Al-Qur’an itu sami’na wa ata’na. Umat sekarang sudah turun sami’na wa nanaina, kami dengar kami banyak tanyalah, ya.
Ah itu Wad-duha, “Ya Muhammad, Aku bersumpah demi keadaanmu yang merasa enak, tenang, nyaman dengan turunnya surah-surah Al-Qur’an seperti engkau merasakan kenikmatan dengan cahaya Dhuha. Aku bersumpah Wal-layli idza saja,” tafsir pertama: “Dan demi keadaan malam yang biasanya engkau bacakan ayat-ayat itu setelah malam itu terasa tenang, saja, istaqarra wastawa. Ya Muhammad, engkau merasa tenang, merasa enak, merasa nyaman ketika 10 surah turun lalu engkau biasakan baca di malam-malam ketika malam itu telah tenang, saja. Aku bersumpah,” kata Allah, “Ma wadda’aka rabbuka wa ma qala. Aku tepis, gugurkan seluruh tuduhan orang-orang yang mencibirmu itu, yang menuduhmu itu, yang memusuhi mu itu, mulai sekarang Aku katakan: wahyu tidak terputus, Rab-mu tidak akan pernah meninggalkanmu, dan tidak turunnya wahyu ini selama 12 hari 15 hari bukan karena Aku benci kepadamu seperti mereka tuduhkan, bukan karena Aku meninggalkanmu seperti mereka cibirkan. Tapi Muhammad, Aku ingin tunjukkan siapa orang-orang sekitaranmu ini yang selama ini terlihat baik kepadamu, yang selama ini tidak pernah memberikan cibiran kepadamu, yang selama ini tidak pernah menyoal engkau, supaya saat dakwahmu dimulai, engkau sudah tahu bagaimana perilaku mereka dalam kehidupan.”
Sampai di sini bisa dipahami? Satu. Ini tafsir pertama.
Tafsir kedua.
Wad-duha. Wal-layli idza saja. Ma wadda’aka rabbuka wa ma qala.
“Ya Muhammad, Aku bersumpah,” ya Allah yang bersumpahlah. “Tanamkan pada jiwamu yang paling dalam, demi semua keadaan suka yang engkau dapati selama hidupmu, terkhusus saat engkau menerima wahyu-wahyu itu seperti engkau merasakan cahaya Dhuha. Wal-layli idza saja,” tafsir kedua: “Ataupun dalam keadaan engkau sulit, dalam keadaan engkau berduka bersedih, seperti gelapnya malam.”
Ada orang kalau sedang penat, susahnya kan seperti keadaan gelap seperti malam hari sulit mencari sesuatu, ya. Mohon maaf, kalau Anda situasi malam tak ada cahaya, tak ada pelita sedikit pun, mudah atau sulit? Sulit. Ada orang-orang, mohon maaf, mohon maaf sekali, bukan waktunya malam, ada banyak cahaya, tapi dia mendapatkan banyak persoalan. Ada persoalan di kantornya, ada persoalan di rumah tangganya, serasa seperti gelapnya malam, dia jalan pun dia bimbang seperti ini.
Maka turunlah ayat itu Wal-layli idza saja, “Ya Muhammad, baik engkau dalam keadaan suka seperti mendapati cahaya Dhuha, Wal-layli idza saja ataupun engkau merasakan kesulitan seperti dalam gelapnya malam, Ma wadda’aka rabbuka wa ma qala. Tanamkan pada hatimu yang paling dalam, Aku akan membersamaimu dalam suka dan duka dan tidak pernah Aku tingkatkan engkau sedikit pun dalam kehidupan.”
Jelas?
Tafsir tiga. Satu sudah, kebiasaan Nabi. Dua, dalam konteks kehidupan. Tiga, ini kaitan dengan kita.
Apakah ayat ini, surat ini turun hanya untuk Nabi, atau diberikan pula pedomannya untuk kita umatnya? Maka kita gunakan kaidah dalam ilmu Al-Qur’an, dalam kaidah asbabun-nuzul. Nama kaidahnya: Al-‘ibratu bi’umumi al-lafzi la bikhususi as-sababi.
Makna ayat dalam Al-Qur’an sepanjang tidak dikhususkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hukumnya (seperti hukum berpoligami, ya seperti hukum-hukum tertentu yang hanya khusus bagi Nabi), maka kaidahnya mengatakan bi’umumi al-lafzi la bikhususi as-sababi, sekalipun ayatnya turun kepada Nabi, tapi maknanya umum berlaku untuk semua umatnya, semua umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Jadi ayat ini Allah turunkan bukan hanya ingin menunjukkan peristiwa yang terjadi pada Rasulullah, tapi pesan di dalamnya ingin diberikan pula kepada seluruh umatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dalam kehidupan tak semua mengalami sukacita.

Pada akhirnya, pesan Surah Ad-Duha bukan hanya tentang kisah Rasulullah ﷺ, tetapi juga menjadi pengingat bagi setiap muslim bahwa kehidupan memiliki fase terang dan gelap. Ada masa ketika segala sesuatu terasa mudah, tetapi ada pula waktu ketika jalan di depan seolah tidak terlihat.

Dalam kondisi apa pun, seorang muslim tidak seharusnya terburu-buru menyimpulkan bahwa dirinya telah ditinggalkan Allah. Sebaliknya, teruslah berikhtiar, berdoa, beribadah, dan bertawakal. Sebab, sebagaimana pesan yang ditekankan dalam ceramah tersebut, Allah tidak meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan suka maupun duka.

Ketika cahaya kehidupan terasa terang, jangan lupa bersyukur. Ketika semuanya terasa gelap, jangan berhenti berharap. Karena boleh jadi, di balik sebuah ujian, Allah sedang mengajarkan keteguhan, memperlihatkan keadaan orang-orang di sekitar kita, sekaligus mempersiapkan kita untuk melangkah ke fase kehidupan berikutnya.

Jika hari ini hidup terasa seperti malam yang panjang, jangan berhenti berjalan. Sebab, setelah gelap, Allah menjanjikan datangnya waktu yang terang.

Facebook Comments

Latest Posts