Terbaru

Menguatkan Kemandirian Muhammadiyah, Mandiri Tanpa Menutup Diri

Muhammadiyah dapat tumbuh dan bertahan hingga lebih dari satu abad salah satunya karena memiliki kekuatan kemandirian. Kemandirian menjadi salah satu modal penting bagi sebuah gerakan untuk tetap teguh pada prinsip, mampu mengambil keputusan secara objektif, sekaligus terus bergerak menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Secara sederhana, kemandirian dapat dipahami sebagai kemampuan untuk berpikir, bertindak, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan atas inisiatif sendiri tanpa ketergantungan berlebihan kepada pihak lain. Sikap mandiri juga tercermin dari keberanian mencoba hal baru, bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, mampu mengelola diri, serta percaya terhadap kemampuan untuk menyelesaikan persoalan.

Namun, ada satu hal yang penting untuk digarisbawahi: tanpa ketergantungan berlebihan bukan berarti tanpa hubungan dengan pihak lain.

Kemandirian tidak identik dengan hidup sendiri. Independensi juga bukan berarti menutup diri, menolak kerja sama, atau bersikap anti terhadap pihak lain. Dalam kehidupan sosial, relasi dan kolaborasi merupakan sesuatu yang wajar. Yang perlu dijaga adalah agar hubungan tersebut tidak berubah menjadi ketergantungan yang menghilangkan kebebasan dalam menentukan sikap.

Sebaliknya, sikap yang terlalu menutup diri juga tidak mencerminkan kemandirian yang sehat. Menolak semua bentuk kerja sama atas nama independensi justru dapat membuat sebuah gerakan kehilangan kesempatan untuk memperluas manfaat dan membangun sinergi.

Kemandirian Muhammadiyah yang Konstruktif

Dalam konteks Muhammadiyah, kemandirian dan independensi tidak seharusnya dimaknai secara ekstrem. Muhammadiyah tidak dibangun sebagai gerakan yang anti terhadap pemerintah maupun pihak lain. Pada saat yang sama, Muhammadiyah juga memiliki prinsip dan kebebasan dalam menentukan sikap sebagai organisasi yang memiliki tujuan dan identitas gerakan.

Karena itu, kemandirian Muhammadiyah lebih tepat dipahami sebagai kemandirian yang konstruktif.

Dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua tahun 2010, semangat perjuangan Muhammadiyah dalam konteks dakwah dan perjuangan gerakan disebut sebagai al-jihad lil-muwajahah, yakni menghadapi persoalan dengan sikap positif dan konstruktif. Pendekatan ini berbeda dengan perjuangan yang semata-mata bersifat konfrontatif atau al-jihad lil-mu’aradlah.

Maknanya penting. Muhammadiyah dapat bersikap kritis tanpa harus bermusuhan. Muhammadiyah dapat bekerja sama tanpa kehilangan prinsip. Muhammadiyah dapat memberikan masukan kepada pemerintah tanpa harus menjadi bagian dari kepentingan politik tertentu.

Inilah bentuk kemandirian yang dewasa: memiliki sikap sendiri, tetapi tetap terbuka untuk bekerja sama demi kemaslahatan.

Belajar dari Kepribadian Muhammadiyah

Gambaran mengenai kemandirian konstruktif juga dapat dilihat dalam sepuluh sifat Kepribadian Muhammadiyah.

Pada sifat kedua, misalnya, Muhammadiyah menegaskan pentingnya memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Ini menunjukkan bahwa kemandirian tidak dibangun dengan mempersempit pergaulan, melainkan dengan memperluas persaudaraan dan jejaring kebaikan.

Sifat kelima menekankan pentingnya mengindahkan hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah. Sementara sifat ketujuh mendorong Muhammadiyah untuk aktif dalam perkembangan masyarakat dengan tujuan ishlah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam.

Semangat kolaborasi juga tampak dalam sifat kedelapan yang mendorong kerja sama dengan berbagai golongan Islam dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.

Bahkan, sifat kesembilan menegaskan pentingnya membantu pemerintah dan bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara serta membangun negara demi tercapainya masyarakat yang adil, makmur, dan diridai Allah SWT.

Namun, kerja sama bukan berarti kehilangan daya kritis. Sifat kesepuluh mengingatkan Muhammadiyah untuk bersikap adil dan korektif ke dalam maupun ke luar dengan bijaksana.

Dari sini terlihat bahwa kemandirian Muhammadiyah bukanlah sikap yang berdiri di ruang kosong. Ia berjalan bersama prinsip, ukhuwah, kepatuhan terhadap aturan, kerja sama, kontribusi sosial, sekaligus keberanian memberikan koreksi secara bijaksana.

Modal Kemandirian Muhammadiyah

Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal yang kuat untuk terus membangun kemandiriannya.

Jaringan amal usaha yang luas, sumber daya manusia, sistem organisasi yang terus berkembang, jaringan gerakan dari tingkat pusat hingga akar rumput, kepercayaan masyarakat, serta kekuatan finansial yang dikelola secara bertanggung jawab merupakan bagian dari modal tersebut.

Selain itu, Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam membangun pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, filantropi, dan berbagai bidang kehidupan. Semua itu menjadi kekuatan yang dapat terus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian gerakan.

Namun, kemandirian tidak berarti menolak kolaborasi.

Justru dengan modal yang dimiliki, Muhammadiyah dapat membangun kerja sama yang lebih setara dengan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat sipil, dunia pendidikan, dunia usaha, maupun lembaga lainnya. Kolaborasi dilakukan secara objektif, transparan, dan tetap berpijak pada nilai serta tujuan gerakan.

Dengan demikian, Muhammadiyah tidak perlu memilih antara mandiri atau berkolaborasi. Keduanya dapat berjalan bersama.

Mandiri, Terbuka, dan Tetap Berprinsip

Kemandirian yang konstruktif pada akhirnya bukan tentang seberapa jauh Muhammadiyah menjauh dari pihak lain. Kemandirian justru terlihat dari kemampuan Muhammadiyah untuk menentukan sikap berdasarkan prinsip, mengelola kekuatan sendiri, dan pada saat yang sama terbuka membangun kerja sama yang memberikan manfaat luas.

Muhammadiyah perlu terus memperkuat potensi internal sekaligus memperluas jejaring eksternal. Kekuatan sendiri menjadi fondasi, sedangkan kolaborasi menjadi jalan untuk memperbesar kemanfaatan.

Karena itu, kemandirian Muhammadiyah hendaknya tidak dimaknai sebagai anti-pemerintah, anti-kolaborasi, atau anti-pihak lain. Sebaliknya, kemandirian harus menjadi energi untuk menghadirkan gerakan yang percaya diri, objektif, kritis, terbuka, dan produktif.

Mandiri bukan berarti menutup diri. Mandiri berarti memiliki pijakan sendiri untuk terus melangkah, sekaligus cukup terbuka untuk bekerja sama dalam menghadirkan kemaslahatan.

Dengan kemandirian konstruktif tersebut, Muhammadiyah dapat terus menguatkan dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan—bertumpu pada kekuatan sendiri, terbuka terhadap kolaborasi, dan konsisten menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sumber : SUARA MUHAMMADIYAH • 18 / 111 • 16 – 30 SEPTEMBER 2026 
Facebook Comments

Latest Posts