Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
فَقَالَ تَعَالَى
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
salah satu keistimewaan Islam adalah bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dimulai dari perintah membaca. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (Qs. Al-Alaq:1)
Ayat ini menunjukan bahwa peradaban Islam dibangun diatas ilmu pengetahuan. Membaca bukan sekadar aktivitas belajar ataupun aktivitas akademik, melainkan perintah agama yang mengandung nilai ibadah. allah menghendaki agar umat Islam menjadi umat berfikir, mengkaji, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan kehidupan. Membaca dalam pandangan Islam tidak terbatas pada membaca tulisan yang tertuang dalam lembaran buku. Membaca juga berarti memahami tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta. Para Ulama menjelaskan bahwa seorang muslim diperintahkan membaca dua jenis ayat Allah, yaitu ayat-ayat qauliyah yang tertulis dalam Al-Quran dan ayat ayat kauniyah yang tampak pada alam semesta. Dari keduanya lahir ilmu, hikmah, dan kemajuan peradaban.Karena itulah, Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
(Al-Mujādalah :11)
Jamaah Jum’at Rakhimakumullah,
Membaca memiliki banyak manfaat. Pertama, membaca memperluas pengetahuan. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia yang lebih luas daripada pengalaman hidupnya sendiri. Melalui buku dan berbagai sumber ilmu, seseorang dapat memahami dunia yang lebih luas daripada pengalaman hidupnya sendiri. Melalui buku dan berbagai sumber ilmu, seseorang dapat belajar dari pengalaman para ilmuwan, pemimpin, dan orang-orang shalih yang hidup sebelum dirinya.
Kedua, membaca membentuk cara berpikir yang kritis dan bijaksana. Seseorang yang gemar membaca tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia terbiasa menimbang, mengkaji, dan mencari fakta sebelum mengambil kesimpulan.
Ketiga, membaca meningkatkan kualitas ibadah. Bagaimana mungkin seseorang dapat memahami agamanya dengan baik jika ia tidak pernah membaca Al-Quran, Kitab Tafsir, Hadist, maupun literatur keislaman lainya ?, semakin luas ilmu seseorang, semakin kuat pula keimanannya kepada Allah.
Rasulullah juga menegaskan untuk umat muslim dalam menempuh jalan untuk mencari Ilmu
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).
Jamaah Jum’at Rakhimakumullah
sejarah Islam membuktikan bahwa generasi terbaik umat ini adalah generasi yang mencintai Ilmu, Para ulama terdahulu rela menempuh perjalanan berbulan-bulan bahkan bertahun tahun demi mendapat satu hadist atau satu pelajaran yang bermanfaat. Mereka membaca, menulis, menghafal dan mengajarkan Ilmu hingga lahirlah peradaban Islam yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia.
Sebaliknya, kemunduruan Islam suatu umat sering kali diawali dengan menurunya minat terhadap ilmu. Ketika budaya membaca melemah, pemahaman menjadi dangkal, pemikiran menjadi sempit, dan masyarakat mudah terpecah oleh kebodohan serta informasi yang menyesatkan, gampang terprovokasi dan mudah dikendalikan emosinya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dalam Al-Quran Allah sudah menjelas untuk berhati hati dalam membaca informasi,Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
