Mencari Kebenaran, Bukan Pembenaran: Jalan Ilmu yang Menuntun Umat

17

Di era digital saat ini, pendapat keagamaan begitu mudah tersebar melalui media sosial. Potongan video singkat, kutipan yang tidak utuh, hingga opini yang viral sering kali membuat masyarakat kesulitan membedakan antara penjelasan agama yang lahir dari keilmuan dengan pendapat yang sekadar mencari dukungan publik. Di tengah derasnya arus informasi tersebut, setiap Muslim dituntut memiliki sikap yang jernih: mencari kebenaran, bukan pembenaran.

Dalam Islam, menyampaikan hukum agama bukanlah perkara sederhana. Fatwa bukan sekadar jawaban atas sebuah persoalan, melainkan amanah ilmu yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, para ulama sejak dahulu sangat berhati-hati sebelum menyampaikan pendapat agama. Mereka lebih memilih mengatakan “belum tahu” daripada berbicara tanpa dasar ilmu yang kuat.

Sikap kehati-hatian tersebut menjadi teladan bahwa ilmu harus dibangun di atas kejujuran. Seorang pencari kebenaran akan bersedia menerima masukan, mengakui keterbatasan, bahkan mengubah pandangan ketika menemukan dalil yang lebih kuat. Baginya, tujuan utama bukan memenangkan perdebatan, melainkan mendekatkan diri kepada kebenaran yang diridhai Allah SWT.

Sebaliknya, mencari pembenaran sering kali berangkat dari kesimpulan yang sudah ditetapkan sejak awal. Dalil kemudian dipilih secara selektif hanya untuk memperkuat pendapat pribadi. Tidak jarang konteks ayat atau hadis dipotong, bahkan dimaknai secara sempit agar sesuai dengan kepentingan tertentu. Akibatnya, agama kehilangan fungsinya sebagai petunjuk dan justru dijadikan alat untuk membenarkan sikap yang telah diputuskan sebelumnya.

Fenomena ini semakin mudah ditemukan di media sosial. Popularitas kerap lebih diutamakan daripada kedalaman ilmu. Potongan ceramah singkat, kutipan yang terlepas dari konteks, hingga konten sensasional sering memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan kajian yang disampaikan secara utuh dan ilmiah. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit memilah mana dakwah yang benar-benar mendidik dan mana yang hanya mengejar viralitas.

Lebih memprihatinkan lagi ketika agama digunakan sebagai alat untuk menyerang kelompok lain. Ayat Al-Qur’an maupun hadis dipilih secara parsial demi memperkuat kebencian, sementara pesan besar Islam tentang kasih sayang, keadilan, persaudaraan, dan kebijaksanaan justru diabaikan. Padahal Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai pembenar permusuhan.

Karena itu, setiap Muslim perlu membiasakan diri memiliki kejujuran intelektual. Tidak semua persoalan harus segera dijawab, dan tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Kerendahan hati untuk terus belajar menjadi salah satu ciri orang yang benar-benar mencari kebenaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini dapat diwujudkan dengan membiasakan tabayun sebelum menyimpulkan suatu informasi, membaca sumber yang utuh, menghormati perbedaan pendapat yang memiliki landasan ilmiah, serta tidak mudah membagikan informasi keagamaan yang belum jelas kebenarannya. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi ruang menyebarkan ilmu, bukan memperluas kesalahpahaman.

Pada akhirnya, setiap pencarian ilmu hendaknya diawali dengan niat yang lurus. Pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana memenangkan perdebatan, melainkan apakah yang kita lakukan benar-benar bertujuan mencari kebenaran atau hanya ingin membenarkan pendapat sendiri. Ketika hati dipenuhi keikhlasan dan rasa takut kepada Allah SWT, ilmu akan menjadi cahaya yang membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi hamba yang senantiasa mencintai kebenaran, rendah hati dalam belajar, dan bijaksana dalam menyampaikan ilmu.

Sumber : Suara Muhammadiyah edisi 12, 16-30 Juni 2026 (Muhsin Hariyanto,Ketua PCM Kraton Yogyakarta)

Facebook Comments
error: Content is protected !!
Exit mobile version