Oleh : Ghefira Zhahira Shofi
Ketika Mesin Mulai Berpikir, Manusia Mulai Bertanya
Bayangkan sebuah pagi di tahun 2030. Seorang anak bangun tidur, lalu asisten kecerdasan buatannya langsung menyapa dengan jadwal harian, rekomendasi sarapan berdasarkan data kesehatannya, hingga ringkasan berita yang disesuaikan dengan minatnya. Sebelum kakinya menyentuh lantai, ratusan algoritma sudah bekerja untuknya. Inilah wajah Society 5.0 sebuah peradaban baru di mana teknologi dan manusia tidak lagi berjalan beriringan, melainkan menyatu dalam satu napas kehidupan.
Namun di balik kemewahan digital itu, ada pertanyaan yang diam-diam menghantui: jika mesin sudah bisa berpikir, apa yang tersisa untuk manusia? Jika algoritma bisa memprediksi pilihan kita, di mana letak kebebasan dan nilai kemanusiaan kita? Dan di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar muncul di tengah banjir data dan dominasi algoritma, di mana posisi gerakan Islam berkemajuan seperti Muhammadiyah?
Pertanyaan itu bukan retorika. Ia adalah tantangan nyata yang menuntut jawaban konkret dari sebuah organisasi yang telah lebih dari satu abad menjadi tulang punggung Islam Indonesia.
Society 5.0: Lebih dari Sekadar Teknologi Canggih
Istilah Society 5.0 pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2016 sebagai respons atas perkembangan revolusi industri keempat. Namun Society 5.0 bukan sekadar lanjutan dari Industry 4.0 yang berfokus pada otomatisasi dan efisiensi mesin. Jika Industry 4.0 menempatkan teknologi sebagai tujuan, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk melayani dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Secara sederhana, Society 5.0 adalah masyarakat yang mengintegrasikan ruang fisik dan ruang siber secara harmonis demi kesejahteraan manusia. Kecerdasan buatan, Internet of Things, big data, dan robotika tidak lagi hanya milik industri besar ia masuk ke rumah sakit pelosok, kelas-kelas sekolah desa, hingga ladang pertanian.
Namun perjalanan menuju utopia digital itu tidak sepenuhnya mulus. Ada ancaman yang mengintai: dehumanisasi akibat serba-otomatis, kesenjangan digital antara yang mampu dan tidak mampu mengakses teknologi, serta yang paling berbahaya krisis identitas. Ketika manusia terlalu sibuk berinteraksi dengan layar, ia mulai kehilangan kemampuan berempati, merenung, dan bertanya tentang tujuan hidupnya. Teknologi semakin canggih, namun ironisnya, semakin banyak manusia yang merasa kesepian.
Muhammadiyah: Organisasi yang Lahir dari Disrupsi
Bagi sebagian orang, mungkin terasa aneh menyebut nama Muhammadiyah dalam percakapan tentang kecerdasan buatan dan Society 5.0. Namun justru di sinilah letak kesalahpahaman itu. Muhammadiyah bukan organisasi yang alergi terhadap perubahan ia justru lahir dari rahim disrupsi.
Tahun 1912, ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Indonesia sedang berada dalam cengkeraman kolonialisme yang mematikan. Umat Islam terjebak dalam kejumudan berpikir, pendidikan yang dikuasai oleh penjajah, dan kemiskinan merajalela. Di tengah kondisi itulah Muhammadiyah hadir bukan sekadar sebagai organisasi pengajian, melainkan sebagai gerakan pembaruan yang mendirikan sekolah modern, rumah sakit, panti asuhan, dan sistem organisasi yang rapi ke tengah masyarakat.
Kunci dari keberanian itu adalah prinsip tajdid pembaruan yang terus-menerus. Tajdid bukan berarti membuang tradisi yang telah ada, melainkan menafsirkan ulang nilai-nilai Islam agar tetap relevan dengan konteks zaman yang ada. Lebih dari satu abad berlalu, dan Muhammadiyah tetap berdiri kokoh bukan karena ia anti-perubahan, melainkan justru karena ia selalu lebih dulu bergerak menyambut perubahan yang datang.
Jika dulu Muhammadiyah berani mengganti model pendidikan pesantren konvensional dengan sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, maka pertanyaannya sekarang adalah: apakah Muhammadiyah siap melakukan lompatan serupa di era Society 5.0?
Di Persimpangan Algoritma: Peluang dan Tantangan
Era Society 5.0 sesungguhnya membuka peluang luar biasa bagi Muhammadiyah. Dakwah yang dulu terbatas oleh jarak geografis, kini bisa menjangkau jutaan manusia melalui konten digital, podcast kajian, hingga kelas online. Lembaga pendidikan Muhammadiyah yang jumlahnya ada ribuan di seluruh Indonesia, memiliki modal besar untuk mengadopsi teknologi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang membuat proses belajar lebih personal dan efektif. Filantropi Islam pun bisa dikelola lebih transparan dan efisien melalui platform digital zakat, infak, dan wakaf.
Namun peluang itu datang bersama ancaman yang tidak bisa diremehkan. Radikalisme digital tumbuh subur di ekosistem media sosial yang algoritmanya cenderung memperkuat pandangan ekstrem. Konten kekerasan dan kebencian bisa viral dalam hitungan menit saja, jauh melampaui kecepatan dakwah moderat yang membutuhkan kedalaman dan kepercayaan. Di sisi lain, budaya scrolling yang serba instan telah menggerus kemampuan berpikir secara mendalam pada generasi muda, mereka lebih tertarik dan terbiasa mengonsumsi konten 30 detik daripada membaca kitab atau menghadiri kajian yang berjam-jam.
Yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman tercerabutnya identitas. Di tengah arus globalisasi digital yang homogen, nilai-nilai lokal dan keislaman perlahan terkikis. Anak-anak muda Muhammadiyah bisa jadi lebih hafal lagu pop barat daripada hafal Al-Quran, lebih akrab dengan influencer asing daripada dengan tokoh-tokoh teladan Islam.
Namun sikap Muhammadiyah dalam menghadapi ini bukan dengan menutup diri. Muhammadiyah tidak anti-teknologi ia hanya perlu memastikan bahwa teknologi adalah alat bagi manusia untuk membantu meringankan sesuatu, bukan menjadi tuan yang memperbudak.
Muhammadiyah sebagai Arsitek Peradaban Digital
Lalu, apa yang konkret bisa dilakukan Muhammadiyah di era Society 5.0? ada tiga peran yang menjadi sebuah gagasan.
Pertama, Muhammadiyah perlu hadir sebagai moral compass kompas moral di tengah kebisingan informasi yang tersebar dengan mudah. Di era di mana hoaks beredar lebih cepat dari fakta, dan di mana opini dibentuk oleh algoritma yang tidak netral, masyarakat membutuhkan institusi yang bisa dipercaya sebagai penyaring nilai. Muhammadiyah dengan jaringannya yang luas, tokoh-tokohnya yang berintegritas, dan tradisi kajian yang mendalam, memiliki modal untuk mengambil peran ini dengan serius, sehingga dakwah Muhammadiyah dilakukan bukan hanya di masjid saja, tetapi juga di ruang digital.
Kedua, Muhammadiyah perlu aktif membangun ekosistem digital yang beretika dan berkeadaban. Ini bukan sekadar membuat akun media sosial atau website, melainkan membangun platform, komunitas, dan budaya online yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, ketika membuat akun media sosial atau website perlu untuk mencantumkan nama Muhammadiyah agar reputasi digital Muhammadiyah semakin baik dan dikenal. Bayangkan jika Muhammadiyah punya platform pendidikan digital kelas dunia, media Islam yang jurnalistik dan terpercaya, atau marketplace ekonomi syariah yang menggunakan teknologi blockchain semua itu bukan mimpi jika ada kemauan dan sumber daya yang dikerahkan.
Ketiga, dan yang paling fundamental adalah kader Muhammadiyah perlu ditempa untuk menjadi human-centered technologist yaitu ahli teknologi yang berjiwa kemanusiaan. Bukan hanya programmer yang canggih, bukan hanya entrepreneur yang sukses, tetapi manusia-manusia yang menguasai teknologi sekaligus berpegang teguh pada nilai Islam, memiliki empati sosial, dan visi peradaban yang jauh ke depan. Inilah kontribusi paling berharga yang bisa diberikan Muhammadiyah kepada Indonesia dan dunia di abad ke-21.
Ruh yang Tidak Boleh Padam
Society 5.0 membutuhkan lebih dari sekadar koneksi internet yang cepat atau perangkat teknologi yang canggih. Ia membutuhkan nilai-nilai yang memastikan bahwa semua kemajuan teknologi itu benar-benar mengangkat harkat manusia, bukan justru merendahkannya. Ia membutuhkan etika yang memastikan bahwa kecerdasan buatan digunakan untuk keadilan, bukan ketimpangan. Dan ia membutuhkan ruh-ruh kemanusiaan yang hangat di tengah dinginnya algoritma.
Muhammadiyah punya semua itu. Lebih dari satu abad merawat nilai di tengah berbagai badai perubahan sudah membuktikannya. Yang kini dibutuhkan hanyalah satu hal yaitu keberanian untuk melangkah.
Kader Muhammadiyah bukan penonton revolusi digital. Mereka adalah atau setidaknya seharusnya menjadi pembangun peradaban baru yang berakar pada nilai Islam, berpijak pada ilmu pengetahuan, dan berpihak pada kemanusiaan. Karena di atas segalanya, itulah yang selalu menjadi ruh gerakan ini sejak pertama kali KH Ahmad Dahlan mengangkat penanya lebih dari seratus tahun yang lalu.
