Terbaru

Bupati Kudus Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda ke-32 UMKU, Tekankan Desain Produk Berkelanjutan

KUDUS – Bupati Kudus, Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T., menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda ke-32 Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) yang dirangkai dengan sumpah profesi, Kamis (29/10/2026), di Crystal Building UMKU, Kudus. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Desain Produk Berkelanjutan: Sinergi Ekologi Arsitektur dan Analisis Siklus Hidup Industri”.

Orasi ilmiah di bidang Desain Produk dan Manufaktur itu menyoroti pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam merancang produk, mengelola proses produksi, serta mengembangkan industri yang lebih ramah lingkungan. Konsep tersebut dinilai relevan di tengah kebutuhan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut materi orasi yang disampaikan, desain produk berkelanjutan merupakan pendekatan perancangan yang mempertimbangkan berbagai aspek sejak tahap awal pengembangan. Aspek tersebut meliputi lingkungan, ekonomi, sosial, fungsi, kualitas, keselamatan, hingga umur pakai produk.

Prinsip utamanya adalah memperhitungkan dampak produk sepanjang siklus hidupnya, bukan hanya ketika produk dibuat. Dengan demikian, proses perancangan perlu mempertimbangkan pemilihan material, efisiensi produksi, penggunaan produk, hingga penanganan produk setelah masa pakainya berakhir.

Desain Produk dari Material hingga Akhir Masa Pakai

Dalam orasinya, Sam’ani memaparkan empat tahapan penting dalam desain produk berkelanjutan. Tahap pertama adalah pemilihan material dengan mempertimbangkan penggunaan sumber daya secara bijak. Tahap kedua, proses produksi yang mengutamakan efisiensi energi dan pengurangan limbah.

Tahap ketiga berkaitan dengan penggunaan produk, termasuk fungsi, keamanan, dan daya tahan. Sementara itu, tahap keempat menekankan pengelolaan produk setelah masa pakainya berakhir melalui perbaikan, penggunaan ulang (reuse), dan pemulihan sumber daya.

Pendekatan tersebut mendorong pelaku industri untuk tidak hanya mengejar kualitas dan nilai ekonomi produk, tetapi juga memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Produk yang dirancang dengan baik diharapkan dapat digunakan lebih lama, lebih mudah diperbaiki, serta mengurangi pemborosan material.

Ekologi Arsitektur dan Efisiensi Industri

Selain desain produk, orasi ilmiah tersebut membahas ekologi arsitektur sebagai pendekatan untuk memahami hubungan antara bangunan, manusia, energi, sumber daya, iklim, dan ekosistem.

Dalam lingkungan bangunan, prinsip ini dapat diterapkan melalui pemanfaatan pencahayaan alami, pengaturan ventilasi, kenyamanan termal, dan pengelolaan air. Sementara di fasilitas industri, penerapannya berkaitan dengan tata letak, aliran material, efisiensi energi, serta keselamatan dan kenyamanan kerja.

Pada tingkat produk, perhatian diarahkan pada pemilihan material, ketahanan, fungsi, dan kemudahan perbaikan. Ketiga aspek tersebut memiliki prinsip yang sama, yakni memenuhi kebutuhan manusia dengan penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Pembahasan ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak dapat dipisahkan dari proses perancangan. Keputusan mengenai bahan, bentuk, sistem produksi, hingga cara produk digunakan dapat memengaruhi besarnya sumber daya yang dibutuhkan dan dampak yang dihasilkan.

Analisis Siklus Hidup untuk Mengukur Dampak Lingkungan

Materi orasi juga menyoroti Life Cycle Assessment (LCA) atau analisis daur hidup sebagai metode untuk mengevaluasi dampak lingkungan suatu produk atau proses sepanjang siklus hidupnya.

LCA dilakukan melalui empat tahapan utama. Pertama, penentuan tujuan dan ruang lingkup, termasuk batas sistem, unit fungsional, asumsi, serta kebutuhan data. Kedua, inventarisasi siklus hidup dengan mengumpulkan data mengenai material, energi, air, emisi, produk samping, dan limbah.

Ketiga, penilaian dampak untuk mengevaluasi kategori yang relevan, seperti perubahan iklim dan penggunaan air. Keempat, interpretasi hasil guna mengidentifikasi sumber dampak terbesar, keterbatasan data, serta prioritas perbaikan.

Melalui pendekatan tersebut, keputusan dalam pengembangan produk dapat didasarkan pada data, bukan sekadar perkiraan. Hasil analisis juga dapat membantu industri menentukan bagian proses yang perlu diperbaiki agar penggunaan sumber daya lebih efisien.

Kolaborasi Kampus dan Industri Jadi Kunci

Penerapan desain produk berkelanjutan masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan data, kebutuhan investasi, koordinasi rantai pasok, serta penggunaan indikator yang belum mencakup keseluruhan dampak.

Untuk menjawab tantangan tersebut, materi orasi mendorong langkah perbaikan secara bertahap. Industri dapat memulainya dengan melakukan audit material dan energi, memetakan limbah serta produk cacat, memilih satu produk prioritas untuk dievaluasi, kemudian menguji alternatif berdasarkan data dan kelayakan penerapannya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri juga menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, pengembangan metode evaluasi, dan penguatan kompetensi sumber daya manusia. Sementara itu, industri menyediakan konteks penerapan, data operasional, serta ruang untuk menguji solusi secara nyata.

Gagasan tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai proses perbaikan yang berkelanjutan pula. Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi dapat dimulai dari langkah terukur yang kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing industri.

Melalui orasi ilmiah dalam Wisuda ke-32 UMKU dan sumpah profesi ini, tema desain produk berkelanjutan menjadi pengingat pentingnya menghubungkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu membawa pengetahuan yang dimiliki untuk menjawab persoalan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan sumber daya.

Facebook Comments

Latest Posts