Perubahan teknologi, pergeseran budaya, dan masifnya penggunaan media sosial menghadirkan tantangan baru bagi gerakan dakwah Islam. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, dakwah tidak cukup hanya mengandalkan pola-pola konvensional. Lembaga dan organisasi keagamaan dituntut mampu beradaptasi agar tetap relevan bagi generasi muda.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kajian mengenai dakwah kultural dan komunitas yang dibahas dalam rangkaian Pengajian Ramadan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1445 H/2024 M di Yogyakarta dan Jakarta.
Salah satu tantangan yang mengemuka adalah jarak antargenerasi atau intergenerational gap. Perbedaan cara pandang antara generasi tua dan generasi muda semakin terlihat seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.
Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Mereka memperoleh informasi dari berbagai sumber, tidak hanya dari keluarga, sekolah, atau lembaga keagamaan, tetapi juga dari internet, media sosial, dan berbagai platform digital.
Kondisi tersebut membuat pola penyampaian dakwah perlu mengalami perubahan. Dakwah harus mampu hadir di ruang yang menjadi tempat generasi muda mencari informasi sekaligus membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Generasi Muda dan Perubahan Pola Informasi
Ahmad Najib Burhani melihat perkembangan teknologi komunikasi dan informasi sebagai salah satu faktor yang memperlebar jarak antargenerasi.
Selain teknologi, keterhubungan masyarakat dengan dunia global juga semakin sulit dihindari. Internet membuat generasi muda dapat mengakses gagasan, pengetahuan, dan informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu singkat.
Situasi ini melahirkan fenomena banjir informasi. Generasi muda tidak lagi bergantung pada satu sumber pengetahuan. Mereka dapat membandingkan berbagai perspektif dan mengambil gagasan yang dianggap relevan tanpa selalu mempertimbangkan latar belakang asal gagasan tersebut.
Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dakwah Muhammadiyah. Jika dakwah tetap menggunakan pola komunikasi yang tidak sesuai dengan karakter generasi digital, pesan keagamaan berpotensi semakin jauh dari perhatian anak muda.
Anak Muda Semakin Terhubung dengan Isu Kontemporer
Burhanuddin Muhtadi menyoroti karakter generasi muda yang semakin terkoneksi dengan internet dan perkembangan isu global.
Salah satu temuan yang menarik adalah tingginya perhatian anak muda terhadap isu perubahan iklim. Bahkan, kepedulian tersebut tidak hanya muncul di kalangan anak muda perkotaan. Generasi muda di daerah pun semakin mudah terhubung dengan berbagai isu melalui internet.
Persoalan lingkungan seperti sampah, pencemaran, dan perubahan iklim menjadi bagian dari perhatian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk penting dalam membangun komunikasi dakwah dengan generasi muda.
Karena itu, dakwah perlu memahami isu yang dianggap penting oleh anak muda, bukan hanya menyampaikan pesan dari perspektif orang dewasa.
Pendekatan semacam ini memungkinkan dakwah hadir bukan sekadar sebagai penyampaian informasi keagamaan, tetapi sebagai upaya menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Sekolah Menjadi Ruang Strategis Dakwah
Persoalan lain yang penting adalah sumber pendidikan agama generasi muda.
Berdasarkan temuan yang dipaparkan dalam kajian tersebut, sebagian besar anak muda memperoleh pendidikan agama melalui sekolah umum. Sebagian lainnya mendapat pendidikan melalui madrasah, lembaga pendidikan nonformal, pesantren, langgar, maupun surau.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa sekolah umum merupakan ruang strategis bagi Muhammadiyah untuk memperkuat pendidikan dan dakwah.
Muhammadiyah memiliki jaringan lembaga pendidikan yang luas dari berbagai jenjang. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan besar apabila pendidikan agama mampu dikembangkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan generasi muda.
Namun, pendekatan pendidikan dan dakwah juga perlu mengikuti perubahan zaman. Pola komunikasi yang efektif bagi generasi sebelumnya belum tentu mampu menarik perhatian generasi digital.
Mimbar Dakwah Perlu Bertransformasi
Ketika kebutuhan keagamaan anak muda tidak ditemukan dalam lingkungan pendidikan maupun organisasi keagamaan, mereka cenderung mencari jawaban melalui internet.
Media sosial, kanal video, podcast, dan berbagai platform digital kini menjadi ruang baru bagi pencarian pengetahuan agama.
Kondisi tersebut membuat dakwah Muhammadiyah perlu memperluas ruang penyampaian pesan. Mimbar keagamaan tidak harus dipahami secara sempit sebagai ceramah di masjid atau majelis taklim, tetapi juga mencakup berbagai ruang digital tempat generasi muda berinteraksi.
Transformasi ini bukan berarti meninggalkan tradisi dakwah yang sudah ada. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah sekaligus menghadirkan format komunikasi yang lebih sesuai dengan karakter audiens.
Mengapa Anak Muda Menjauh dari Organisasi Keagamaan?
Muhtadi juga menyoroti kecenderungan sebagian generasi muda yang semakin kurang tertarik mengikuti majelis taklim maupun organisasi dakwah konvensional.
Fenomena ini perlu menjadi bahan evaluasi. Jika organisasi keagamaan tidak mampu memahami perubahan perilaku generasi muda, terdapat risiko semakin lebarnya jarak antara organisasi dan kader generasi berikutnya.
Persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda tertarik pada agama atau tidak. Mereka tetap memiliki kebutuhan terhadap pengetahuan dan nilai keagamaan, tetapi cara mereka mencari, memahami, dan mendiskusikan agama telah berubah.
Karena itu, organisasi seperti Muhammadiyah perlu menemukan format komunikasi yang mampu menjembatani kebutuhan tersebut.
Website Muhammadiyah Jangan Hanya Menjadi Papan Pengumuman
Transformasi dakwah juga perlu menyentuh pengelolaan media digital Muhammadiyah.
Media resmi organisasi tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat menyebarkan berita kegiatan dan informasi seremonial. Media digital perlu dikembangkan menjadi ruang interaksi, edukasi, diskusi, dan kolaborasi.
Generasi muda cenderung tertarik pada komunikasi yang autentik dan relevan dengan pengalaman mereka. Karena itu, konten dakwah perlu berbicara mengenai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Pendekatannya dapat dirumuskan sederhana: berbicara tentang pengalaman yang sama, isu yang mereka pedulikan, dan situasi yang benar-benar memengaruhi kehidupan mereka.
Dengan pendekatan tersebut, dakwah tidak terasa sebagai komunikasi satu arah, tetapi menjadi percakapan yang melibatkan audiens.
Media Sosial dan Perebutan Narasi Islam
Andar Nubowo melihat media sosial sebagai ruang penting dalam pembentukan identitas keagamaan sekaligus identitas politik.
Perkembangan internet telah memberikan kesempatan bagi berbagai kelompok Islam untuk membangun dan menyebarkan narasi keagamaan mereka sendiri. Media sosial memungkinkan sebuah gagasan menyebar secara cepat tanpa harus melewati struktur komunikasi konvensional.
Situasi ini kemudian melahirkan kontestasi narasi Islam di ruang digital.
Kelompok-kelompok Islam baru mampu mengemas pesan keagamaan dengan format yang menarik bagi pengguna media sosial. Sementara itu, organisasi Islam yang telah lama hadir seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan untuk tetap relevan di tengah perubahan tersebut.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang paling banyak memiliki pengikut, tetapi siapa yang mampu menghadirkan narasi keislaman yang relevan, moderat, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Saatnya Muhammadiyah Berbenah
Ada satu persoalan penting yang perlu menjadi perhatian: bagaimana memastikan generasi muda tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga menjadi subjek dan pelaku dakwah.
Generasi muda memiliki pengalaman, kreativitas, dan kemampuan teknologi yang dapat menjadi modal besar bagi perkembangan dakwah Muhammadiyah.
Karena itu, ruang partisipasi bagi mereka perlu diperluas. Muhammadiyah tidak hanya perlu berbicara kepada anak muda, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut menentukan bagaimana dakwah dikembangkan.
Transformasi tersebut dapat dilakukan melalui penguatan media digital, pengembangan konten kreatif, pendidikan agama yang kontekstual, forum diskusi anak muda, serta kolaborasi antara kader muda dan struktur Persyarikatan.
Jika dakwah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, teknologi tidak akan menjadi ancaman. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dakwah dan memperkuat kontribusi Muhammadiyah bagi masyarakat.
Dakwah hari ini bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi tentang bagaimana pesan tersebut sampai, dipahami, dirasakan relevan, dan mampu menggerakkan generasi muda.
Pada titik inilah Muhammadiyah menghadapi pilihan penting: terus berbenah mengikuti perubahan zaman atau berisiko kehilangan kedekatan dengan generasi yang akan meneruskan perjuangan Persyarikatan.



