Menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing global bukanlah sebuah proses yang instan. Ia membutuhkan pergumulan panjang, konsistensi, dan strategi yang tepat. Lantas, di mana letak kunci utamanya?
Jawabannya tegas: ada pada pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan optimismenya bahwa masa depan pendidikan Indonesia akan bergerak ke arah yang jauh lebih baik. Namun, untuk mencapai titik tersebut, ada satu pasak utama yang harus diperkuat terlebih dahulu, yaitu transformasi cara berpikir (mindset).
Dua Pola Pikir: Growth Mindset vs Fixed Mindset
Merujuk pada pemikiran psikolog Carol S. Dweck dari Universitas Stanford—serta pandangan Lewis dan Virginia Eaton—Mu’ti memaparkan dua jenis pola pikir yang sangat memengaruhi cara seseorang atau sebuah bangsa dalam meraih kemajuan:
1. Growth Mindset (Pola Pikir Tumbuh)
Orang dengan growth mindset selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif dan konstrutitf. Mereka percaya bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui belajar, usaha, dan ketahanan.
2. Fixed Mindset (Pola Pikir Tetap)
Sebaliknya, pemilik fixed mindset cenderung mudah meratapi keadaan. Mereka menganggap kegagalan atau pencapaian yang belum diraih sebagai akhir dari segalanya.
“Orang dengan fixed mindset merasa sudah berada di zona nyaman. Padahal, merasa tidak perlu lagi mempercantik atau memperbaiki diri justru akan membuat seseorang terdisrupsi dan akhirnya kalah oleh zaman,” tegas Mu’ti saat berbicara dalam acara Hari Bermuhammadiyah di Surakarta.
Mengikis Pesimisme, Membangun Rasa Percaya Diri
Dalam pandangan Mu’ti, sikap pesimistis, rendah diri, dan kurang percaya diri adalah benalu yang menggerogoti potensi bangsa. Sikap-sikap ini menghambat pergerakan kita untuk maju, sekecil apa pun langkahnya.
Untuk itu, pendidikan hadir sebagai elan vital—daya dorong atau semangat hidup—yang harus terus ditingkatkan.
“Kalau kita ingin maju, jangan jadi orang yang pesimistis. Jangan jadi orang yang rendah diri dan tidak percaya diri. Percaya diri saja!” serunya.
Fokus pada Pendidikan Dasar dan Revitalisasi Bertahap
Membenahi sistem pendidikan tidak bisa dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Pendekatan yang realistis adalah perbaikan bertahap namun pasti (gradual).
Fokus utama pembenahan ini dimulai dari pendidikan tingkat dasar, karena di situlah fondasi karakter, pola pikir, dan kemampuan bernalar anak bangsa dibentuk.
Langkah nyata yang kini tengah dan akan terus dilakukan meliputi:
-
Pembersihan dan Perbaikan Fondasi: Menyempurnakan kurikulum serta metode pembelajaran di tingkat dasar secara perlahan namun terukur.
-
Revitalisasi Sekolah: Memperbaiki sarana, prasarana, dan kualitas tata kelola sekolah di berbagai daerah agar layak dan relevan dengan tantangan zaman.
Terbuka terhadap Kritik demi Kebaikan Bersama
Proses perbaikan pendidikan bukanlah kerja tunggal pemerintah atau satu organisasi saja. Mu’ti menegaskan pentingnya ruang terbuka bagi kritik dan masukan konstruktif dari seluruh lapisan masyarakat.
Bagi beliau, kritik bukanlah ancaman, melainkan amunisi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang unggul dan berkemajuan.
“Kritik-kritik seperti itu tetap saya terima demi kebaikan dan kemajuan pendidikan kita ke depan,” pungkasnya.
Poin Penting untuk Direnungkan:
-
Perubahan Dimulai dari Mindset: Keberhasilan pendidikan diawali dari keberanian untuk terus belajar dan keluar dari zona nyaman.
-
Pendidikan Dasar adalah Kunci: Memperkuat fondasi di tingkat dasar akan menentukan kualitas generasi masa depan.
-
Optimisme adalah Energi: Menghentikan sikap minder dan pesimis adalah langkah awal menjadi bangsa unggul.







