Rabu, 22 Juli 2026

Pemurnian Tauhid dari Sifat Riya: Menjaga Keikhlasan di Tengah Budaya Pencitraan

18

Pemurnian Tauhid Berawal dari Keikhlasan

Di era media sosial saat ini, hampir setiap aktivitas dapat dengan mudah dipublikasikan. Amal kebaikan, sedekah, ibadah, hingga berbagai aktivitas sosial sering dibagikan kepada publik. Di satu sisi hal itu dapat menjadi inspirasi, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar bagi setiap Muslim, yaitu menjaga hati agar tetap ikhlas dan terhindar dari sifat riya’.Islam mengajarkan bahwa inti dari setiap ibadah bukan hanya pada banyaknya amal yang dilakukan, melainkan pada ketulusan niat ketika mengerjakannya. Tauhid yang benar akan melahirkan keikhlasan, sementara keikhlasan menjadi pondasi agar setiap amal bernilai di sisi Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang benar.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh bentuk ibadah harus ditujukan semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan demi memperoleh pujian atau pengakuan manusia.

Keikhlasan Adalah Ruh Setiap Amal

Dalam Islam, keikhlasan bukan sekadar pelengkap ibadah, tetapi menjadi syarat utama diterimanya amal.Seseorang mungkin rajin beribadah, gemar bersedekah, aktif berdakwah, atau sering membantu sesama. Namun apabila tujuan utamanya adalah agar dipuji, dihormati, atau dikenal sebagai orang saleh, maka nilai ibadah tersebut menjadi berkurang bahkan terancam tidak diterima.Karena itu para ulama sering mengibaratkan keikhlasan sebagai ruh bagi amal. Sebagaimana tubuh tidak dapat hidup tanpa ruh, demikian pula amal tidak memiliki nilai apabila kehilangan keikhlasan.

Apa Itu Riya’?

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata yang berarti memperlihatkan atau ingin dilihat orang lain.Dalam praktiknya, riya’ adalah melakukan suatu amal bukan semata-mata karena Allah, melainkan karena ingin memperoleh perhatian, pujian, penghormatan, atau kedudukan di mata manusia. Ciri-ciri riya’ antara lain:

  • Lebih bersemangat beramal ketika banyak orang melihat.
  • Malas beribadah saat sendirian.
  • Senang apabila dipuji atas amal yang dilakukan.
  • Kecewa ketika tidak mendapat apresiasi.
  • Menjadikan ibadah sebagai sarana membangun citra diri.

Riya’ termasuk penyakit hati yang sangat halus sehingga sering kali tidak disadari oleh pelakunya.

Riya’ Tidak Hanya Terjadi dalam Ibadah

Banyak orang mengira riya’ hanya terjadi saat salat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Padahal sifat ini dapat menyusup ke berbagai aktivitas kehidupan.Di zaman modern, riya’ bisa muncul melalui:

  • unggahan amal di media sosial demi mencari pengakuan,
  • gaya hidup yang sengaja dipamerkan,
  • penampilan religius yang hanya bertujuan membangun citra,
  • cara berbicara agar dianggap paling alim,
  • bahkan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian dalam kegiatan sosial maupun organisasi.

Karena itulah setiap Muslim dituntut untuk terus mengoreksi niat sebelum, ketika, dan setelah melakukan suatu amal.

Budaya Pencitraan Menjadi Tantangan Baru

Perkembangan teknologi membuat setiap orang memiliki ruang untuk menampilkan dirinya kepada publik. Tidak sedikit orang akhirnya lebih sibuk membangun citra dibanding memperbaiki kualitas amal.Padahal ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah banyaknya “like”, komentar, atau pujian yang diterima, melainkan apakah amal tersebut diterima oleh Allah SWT.Semakin kuat tauhid seseorang, semakin besar pula keinginannya untuk menjaga kebersihan hati dari berbagai motivasi selain mencari ridha Allah.

Cara Menjaga Diri dari Riya’

Riya’ memang sulit dihindari, tetapi bukan berarti tidak bisa dilawan. Islam mengajarkan beberapa langkah agar hati tetap terjaga, di antaranya:

1. Selalu memperbaiki niat

Sebelum memulai amal, tanyakan kepada diri sendiri apakah semua itu benar-benar dilakukan karena Allah.

2. Konsisten beramal saat sendiri maupun di depan orang

Amal yang dilakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat sering kali menjadi ukuran keikhlasan seseorang.

3. Tidak haus pujian

Biasakan merasa cukup apabila Allah mengetahui amal kita, meskipun manusia tidak mengetahuinya.

4. Memperbanyak doa

Mintalah perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari syirik kecil berupa riya’ dan selalu diberikan hati yang ikhlas.

5. Muhasabah secara rutin

Evaluasi niat dan tujuan setiap amal sehingga hati tetap berada pada jalan yang benar.

Kemuliaan Seorang Mukmin Ada pada Ketakwaannya

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa terkenal dirinya, seberapa banyak orang mengaguminya, ataupun seberapa besar pengaruhnya di tengah masyarakat.Kemuliaan yang sejati terletak pada ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.Ketika seseorang mampu menjaga niatnya tetap lurus, maka amal-amalnya akan menjadi lebih bernilai, meskipun tidak diketahui oleh manusia.Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit riya’, menjaga keikhlasan dalam setiap amal, dan menerima seluruh ibadah yang kita lakukan hanya karena-Nya. Aamiin.

Sumber : Suara Muhammadiyah Edisi 13 1-15 Juli 2026

Facebook Comments