KUDUS — Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kudus meluncurkan buku antologi berjudul “Jejak Langkah Pelajar Gantari” dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musyda) XXIV PD IPM Kudus, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di SMA Muhammadiyah Kudus dan menjadi salah satu bentuk nyata komitmen IPM dalam mendorong budaya literasi dan kepenulisan di kalangan pelajar.
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, Ali Zamroni, M.Pd. Momen tersebut menjadi penanda hadirnya sebuah karya yang menghimpun kreativitas dan pengalaman pelajar Kudus selama berproses di Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Buku “Jejak Langkah Pelajar Gantari” merupakan antologi yang berisi kumpulan puisi dan cerita karya pelajar Kudus. Sebanyak 32 karya berhasil dihimpun dan telah melalui proses kurasi serta disesuaikan dengan tema “Jejak Pelajar Gantari”.
Tema tersebut menggambarkan perjalanan, pengalaman, serta proses pelajar Kudus selama berkegiatan dan berproses di IPM. Beragam karya yang terangkum di dalamnya menjadi gambaran bagaimana pengalaman berorganisasi dapat dituangkan menjadi gagasan dan karya tulis.
Menjadi Wadah Karya Pelajar Kudus
Kabid Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PD IPM Kudus, Muhammad Ilka Adhim Al Fatih, menjelaskan bahwa penerbitan buku tersebut bertujuan menyediakan ruang bagi pelajar Kudus untuk menuangkan kreativitas dalam bidang kepenulisan.
Menurutnya, buku antologi ini diharapkan tidak berhenti sebagai karya yang lahir pada satu periode kepengurusan. Sebaliknya, keberadaannya diharapkan menjadi awal untuk mengembangkan tradisi kepenulisan di lingkungan IPM Kudus.
“Harapan kami dengan diluncurkannya buku Antologi Pelajar Gantari dapat dilanjutkan dan dikembangkan pada bidang-bidang kepenulisan lainnya. Buku ini bukan sekadar peninggalan periode 2024–2026, melainkan tonggak awal yang harus dilanjutkan untuk terus menjaga tradisi keilmuan pelajar Kudus,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran buku tersebut diharapkan dapat memotivasi lebih banyak pelajar untuk berani menuangkan ide, pengalaman, gagasan, dan keresahan mereka melalui tulisan.
Nada: IPM Harus Terus Berkarya
Ketua PD IPM Kudus, Nada Husni Zakiyyah, menegaskan bahwa penerbitan buku antologi menjadi salah satu bukti bahwa pelajar Muhammadiyah harus terus berkarya, salah satunya melalui tulisan.
“Buku ini menjadi bentuk bahwa Ikatan Pelajar Muhammadiyah harus terus berkarya, salah satunya lewat tulisan, baik itu berupa esai, cerita pendek, puisi, novel. Karena itu nantinya akan menumbuhkan budaya menulis. Jika budaya menulis terbentuk, maka budaya literasi juga terbentuk,” tuturnya.
Menurut Nada, kemampuan menulis juga tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Semakin banyak seseorang memperkaya literasi, semakin banyak pula referensi dan gagasan yang dapat dituangkan dalam sebuah tulisan.
Dalam momentum Musyda XXIV PD IPM Kudus, Nada juga menyampaikan pesan kepada seluruh kader, baik pengurus daerah, cabang, ranting, maupun alumni agar senantiasa menjaga semangat dalam menuntut ilmu.
“Saya berpesan di acara Musyda XXIV kali ini bagi diri saya sendiri dan teman-teman, baik itu pengurus daerah, cabang, dan ranting maupun yang sudah alumni, tetap menjaga semangat dalam mencari ilmu, menggali ilmu, membaca buku, dan menuliskan ide-ide yang cemerlang,” pesannya.
Ia menilai, masa kepengurusan dalam sebuah organisasi memiliki batas waktu, tetapi karya dalam bentuk tulisan dapat bertahan jauh lebih lama.
“Periode bisa habis waktunya, tetapi tulisan bisa lama waktunya bahkan abadi,” lanjutnya.
Pesan tersebut kemudian ditutup dengan penggalan ayat Al-Qur’an yang erat dengan tradisi membaca dan menulis:
“Nun walqalami wa ma yasturun.”
Peluncuran “Jejak Langkah Pelajar Gantari” di Musyda XXIV PD IPM Kudus menjadi momentum penting bagi kader pelajar untuk meninggalkan jejak melalui karya. Sebanyak 32 karya yang terangkum dalam buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan periode 2024–2026, tetapi juga diharapkan menjadi pijakan untuk melahirkan karya-karya berikutnya.
Dengan demikian, semangat berkarya di tubuh IPM Kudus diharapkan terus tumbuh, seiring dengan penguatan budaya membaca, menulis, dan mengembangkan keilmuan di kalangan pelajar Muhammadiyah.
Sebab, kepengurusan boleh berganti dan sebuah periode boleh berakhir, tetapi gagasan yang dituliskan dapat terus hidup, dibaca, dan menjadi jejak bagi generasi setelahnya.



