Pasca Hari Santri: antara Tantangan dan Peluang

Oleh : Moh In’ami (Wakil Ketua PDM Kudus)

Tema Hari Santri tahun ini adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Hal ini menunjukkan adanya keseriusan langkah santri, dari santri pejuang menuju santri pengisi kemerdekaan. Sebuah ikhtiar yang tak ringan buat semua kalangan santri.

Hari Santri telah berlalu, tetapi tugas kesantrian tidak pernah berlalu. Peringatan 22 Oktober semestinya tidak berhenti pada upacara, penggunaan sarung dan peci, pemasangan spanduk, atau berbagai seremoni. Justru setelah Hari Santri selesai diperingati, pertanyaan yang lebih penting perlu diajukan: apa yang harus dilakukan santri setelah ini?

Hari Santri mengingatkan kita bahwa santri bukan sekadar identitas sosial, melainkan identitas perjuangan. Sejarah mencatat bahwa pesantren dan kaum santri berkontribusi besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, semangat kesantrian hari ini perlu diterjemahkan ke dalam bentuk perjuangan baru yang sesuai dengan tantangan zaman.

Tantangan Santri Berubah, Spirit Perjuangan Tidak Boleh Berubah

Jika santri masa lalu berhadapan dengan kolonialisme dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, santri hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda. Tantangannya berupa krisis moral, disrupsi digital, derasnya informasi, kecerdasan buatan, materialisme, individualisme, persoalan lingkungan, hingga kompetisi di tingkat global.

Karena itu, jihad santri pada masa kini tidak cukup hanya dimaknai secara fisik. Santri membutuhkan jihad ilmu, jihad pendidikan, jihad ekonomi, jihad teknologi, jihad sosial, dan jihad kebudayaan. Medannya berubah, tetapi nilai dasarnya tetap sama: keikhlasan, keberanian, pengorbanan, kemandirian, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Era Digital: Ancaman Sekaligus Peluang Dakwah

Dunia digital menghadirkan paradoks bagi santri. Internet dapat menjadi pintu masuk hoaks, pornografi, ujaran kebencian, budaya instan, dan berbagai nilai yang bertentangan dengan adab Islam. Akan tetapi, teknologi yang sama juga membuka ruang dakwah yang nyaris tanpa batas.

Dahulu, dakwah seorang santri mungkin hanya didengar oleh puluhan orang di masjid atau majelis. Sekarang satu konten berkualitas dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang. Santri tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi harus naik kelas menjadi kreator, inovator, dan pemberi arah moral bagi perkembangan teknologi.

Santri perlu hadir di ruang digital untuk membawa ilmu, adab, kedamaian, dan pencerahan. Bahkan perkembangan Artificial Intelligence (AI) seharusnya mendorong pesantren untuk melahirkan generasi yang mampu menggabungkan kedalaman turats dengan kecakapan teknologi.

Menjaga Tradisi, Menguasai Modernitas

Salah satu tantangan terbesar santri adalah bagaimana mempertahankan identitas pesantren tanpa tertinggal oleh perkembangan zaman. Santri tidak harus memilih antara kitab kuning dan teknologi, antara agama dan sains, apalagi antara pesantren dan dunia global.

Prinsip yang relevan adalah:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Kitab tetap dan terus dikaji, sementara teknologi juga hendaknya dikuasai. Adab kepada kiai tetap dijaga, tetapi kemampuan berpikir kritis hendaknya dikembangkan. Tradisi pesantren dipertahankan, tetapi inovasi tidak boleh dihentikan.

Maka santri masa depan idealnya memiliki tiga kekuatan sekaligus: kedalaman spiritual, keluasan intelektual, dan kecakapan profesional.

Dari Santri Saleh Menuju Santri Berdampak

Kesalehan santri tidak seharusnya berhenti pada kesalehan individual. Shalat, mengaji, berzikir, dan mempelajari agama merupakan fondasi penting, tetapi nilai-nilai tersebut perlu melahirkan manfaat sosial.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Karena itu, masyarakat membutuhkan santri yang hadir membawa solusi. Ada santri yang menjadi ulama dan pendidik, tetapi juga diperlukan santri yang menjadi pengusaha, peneliti, dokter, insinyur, ahli teknologi, pemimpin publik, aktivis lingkungan, profesional, dan inovator sosial.

Pesantren tidak cukup hanya bertanya, “Berapa banyak kitab yang telah dipelajari santri?” Pertanyaan berikutnya adalah: “Seberapa besar ilmu itu memberikan manfaat bagi kehidupan?”

Keislaman dan Keindonesiaan Bukan Dua Pilihan

Hari Santri juga mengingatkan pada hubungan erat antara agama dan kebangsaan. Sejarah perjuangan kaum santri menunjukkan bahwa mencintai Islam tidak mengharuskan seseorang kehilangan komitmennya terhadap Indonesia. Santri mempunyai tugas ganda: merawat agama sekaligus menjaga bangsa.

Komitmen kebangsaan tersebut dapat diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati hukum yang adil, melawan korupsi, menjaga lingkungan, membantu kelompok lemah, dan berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Dengan demikian, nasionalisme santri bukan nasionalisme yang kosong dari nilai-nilai ketuhanan. Sebaliknya, keberagamaan santri juga tidak boleh menjadikannya terasing dari persoalan bangsanya.

Peluang Besar: Santri Menjadi Aktor Peradaban

 

Di balik berbagai tantangan tersebut terdapat peluang yang sangat besar. Indonesia memiliki jaringan pesantren, kiai, alumni, lembaga pendidikan, ekonomi umat, dan komunitas santri yang sangat luas. Jika kekuatan tersebut dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, jejaring global, kewirausahaan, dan kepemimpinan, santri dapat menjadi salah satu kekuatan penting pembangunan Indonesia. Masa depan santri bukan hanya berada di dalam tembok pesantren.

Santri harus hadir di kampus, dunia usaha, ruang digital, lembaga penelitian, pemerintahan, industri kreatif, forum internasional, dan berbagai pusat pengambilan keputusan. Di mana pun berada, identitas kesantriannya tampak melalui ilmu, adab, integritas, kemandirian, dan kebermanfaatannya.

Penutup: Setelah Seremoni, Saatnya Aksi

Pasca Hari Santri, tantangan terbesar sebenarnya adalah bagaimana mengubah peringatan menjadi gerakan, simbol menjadi substansi, dan kebanggaan menjadi kontribusi.

Hari Santri boleh berakhir pada tanggal 22 Oktober, tetapi jiwa santri harus hidup sepanjang tahun.

Santri masa lalu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Santri masa kini bertugas mengisi kemerdekaan. Santri masa depan harus berani membangun peradaban.

Maka pertanyaan setelah Hari Santri bukan lagi sekadar, “Seberapa bangga kita menjadi santri?” tetapi lebih jauh:

“Apa yang sudah kita berikan kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan sebagai seorang santri?”

Hari Santri telah berlalu. Perjuangan santri justru baru dimulai.

Facebook Comments