Di dalam shalat, setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat/ayat Al-Qur’an. Para Sahabat telah berijmak (sepakat) bahwa setelah membaca Al-Fatihah disunnahkan membaca ayat Al-Qur’an pada dua rakaat pertama di semua shalat.
Di antara landasannya adalah hadits Nabi saw dari sahabat Abu Qatadah,
Dari ‘Abdullah Ibn Abi Qatadah, dari ayahnya (Abu Qatadah) [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Nabi saw membaca Al-Fatihah di dua rakaat pertama shalat Dzuhur dan juga membaca surat panjang pada rakaat pertama dan surat pendek pada rakaat kedua dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau membaca Al-Fatihah pada shalat Ashar dan juga membaca dua surat dengan surat yang panjang pada rakaat pertama. Beliau juga biasanya memperpanjang bacaan surat di rakaat pertama shalat Subuh dan mempendeknya di rakaat kedua [HR Al-Bukhari].
Hadits di atas, dapat pula dipahami kalau bacaan ayat atau surat pada rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua. Hikmahnya adalah makmum masih energik dan bagi yang terlambat bisa mendapatkan rakaat imam.
Kalimat “wa yusmi’unalayata ahyanan” (kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami) menunjukkan bahwa bacaan tersebut termasuk sir, namun terkadang terdengar juga desirannya. Maksudnya, beliau membaca dengan sir dengan menggerakkan lidahnya sehingga terkadang terdengar oleh makmumnya. Artinya beliau tidak sekadar membaca di dalam hati.
Bacaan imam sir (pelan) pada shalat Dzuhur dan Ashar, bacaan imam keras pada shalat Maghrib, Isya, Subuh, Shalat Jum’at, Idain, Kusufain, Tarawih, dan Istisqa.
Afdal bagi imam untuk membaca surah secara sempurna pada rakaat pertama dan kedua. Namun tidak mengapa apabila membaca surah-surah panjang, dengan membaca awal surah, pertengahan ataupun akhir surah, berdasarkan firman Allah surah Al-Muzzammil (73): 20,
ۖفَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُۙ
“karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.”
Hal ini juga pernah dibahas oleh Majles Tarjih di rubrik tanya jawab agama Majalah Suara Muhammadiyah nomor 19 tahun 2009.
Menurut beberapa riwayat, Rasulullah saw biasa membaca surat-surat tertentu pada shalat tertentu. Misalnya pada shalat jumat atau shalat ied, pada rakaat pertama Rasul sering membaca surat Al-A’la dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghasyiyah. Sebagaimana hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah [HR Muslim]
Namun, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul saw juga pernah membaca surat selain itu pada shalat Id. Sebagaimana hadits,
Dari Ubaidullah bin Abdullah (diriwayatkan) bahwasanya Umar bin Al-Khaththab pernah bertanya kepada Abu Waqid Al-Laitsi, surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat Iedul Adha dan Iedul Fithri? ia menjawab, “Beliau membaca surat Qaaf Wal Qur’anil Majiid’ dan Iqtarabatis Saa’atu Wansyaqqal Qamar
[HR Muslim]
Demikian pula dengan bacaan surat pada shalat lima waktu. Rasulullah saw sering membaca surat tertentu. Namun, perlu ditekankan bahwa membaca surat tertentu itu bukan sebagai sebuah keharusan yang harus dilakukan. Kita bebas memilih surat atau ayat apa saja yang kita baca di setiap shalat, hanya saja ada anjuran untuk membaca surat yang lebih panjang di rakaat yang pertama.
Facebook Comments
