Senin, 10 Agustus 2026

Menuju Baldatun Thayyibatun: Makna Negeri yang Makmur dan Berkah Menurut Muhammadiyah

8

Dalam Al-Qur’an, terdapat gambaran tentang sebuah negeri yang makmur, subur, aman, dan penuh keberkahan. Negeri itu adalah Saba’, yang disebut dalam QS Saba’ ayat 15

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ

Sungguh, pada (kaum) Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” Saba’  [34]:15

sebagai contoh kawasan yang dianugerahi Allah dengan limpahan rezeki dan kemakmuran. Konsep inilah yang dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—sebuah negeri yang baik dan mendapat ampunan dari Allah.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim menjelaskan bahwa cita-cita menuju baldatun thayyibatun bukan sekadar impian ideal, melainkan tujuan yang harus diwujudkan melalui rasa syukur, kepedulian terhadap lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Makna Baldatun Thayyibatun dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggambarkan negeri Saba’ sebagai wilayah yang memiliki kebun-kebun yang subur, udara yang nyaman, dan hasil bumi yang melimpah. Kemakmuran itu merupakan rezeki dari Allah yang seharusnya dijaga dan disyukuri.

Menurut Muhammad Saad Ibrahim, syukur dalam konteks ini bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjaga keberlangsungan nikmat yang telah diberikan Allah.

Artinya, ketika manusia menerima anugerah berupa tanah yang subur, hutan, air, laut, tanaman, dan berbagai kekayaan alam lainnya, maka bentuk syukur yang benar adalah merawat, melestarikan, dan mengembangkannya, bukan justru merusaknya.

Syukur yang Berwujud Kepedulian terhadap Lingkungan

Banyak orang memahami syukur sebagai ungkapan alhamdulillah. Padahal, syukur memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Menjaga pohon agar tetap tumbuh, merawat sumber air, mengurangi kerusakan lingkungan, mengembangkan pertanian, serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana merupakan bagian dari implementasi syukur kepada Allah.

Dengan kata lain, pelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah karena merupakan bentuk menjaga amanah yang Allah titipkan kepada manusia.

Ketika Nikmat Tidak Dijaga

Al-Qur’an juga memberikan pelajaran penting bahwa kemakmuran tidak akan bertahan selamanya apabila manusia mengabaikan tanggung jawabnya.

Ketika generasi berikutnya melupakan asal-usul nikmat tersebut, berlaku ingkar, dan tidak lagi menjaga karunia Allah, maka sebuah negeri dapat kehilangan keberkahannya.

Muhammad Saad Ibrahim mengingatkan bahwa kondisi seperti itu akan mengubah sebuah kawasan dari baldatun thayyibatun menjadi negeri yang rusak, penuh persoalan, dan jauh dari keberkahan.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan keimanan dan peradaban.

Indonesia sebagai Anugerah Besar Allah

Jika menoleh kepada Indonesia, kita menemukan negeri yang memiliki kekayaan alam luar biasa: lautan yang luas, hutan yang lebat, tanah yang subur, pegunungan, sungai, serta keanekaragaman hayati yang melimpah.

Dalam banyak ungkapan, Indonesia bahkan sering disebut sebagai “sepotong surga di bumi.”

Potensi besar ini seharusnya mendorong masyarakat untuk semakin bersyukur kepada Allah dengan cara mengelola sumber daya alam secara adil, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Ketika masyarakat menyadari bahwa seluruh kekayaan tersebut adalah amanah dari Allah, maka akan lahir sikap untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkannya demi kemaslahatan bersama.

Dakwah Muhammadiyah dan Gerakan Menjaga Lingkungan

Muhammadiyah memandang bahwa dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, menjaga alam merupakan bagian dari misi dakwah Muhammadiyah.

Gerakan menanam pohon, mengelola sampah, menjaga kebersihan lingkungan, mengembangkan pertanian, serta memberdayakan masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi alam secara produktif merupakan wujud nyata dari dakwah yang membawa kemaslahatan.

Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk menjadi penjaga bumi, bukan perusaknya.

Menuju Negeri yang Makmur dan Berkeadaban

Cita-cita baldatun thayyibatun tidak akan terwujud hanya melalui pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi semata.

Yang dibutuhkan adalah manusia yang beriman, bersyukur, peduli terhadap lingkungan, dan mau bekerja sama menjaga anugerah Allah.

Ketika masyarakat merawat alam, memperkuat pendidikan, membangun solidaritas sosial, serta mengembangkan ekonomi yang berkeadilan, maka fondasi menuju negeri yang makmur dan berkeadaban akan semakin kuat.

Penutup

Konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur mengajarkan bahwa kemakmuran sejati lahir dari perpaduan antara iman, syukur, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Indonesia telah dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa, dan tugas setiap warga bangsa adalah menjaga serta mengembangkannya demi kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang.

Melalui dakwah yang membumi dan gerakan sosial yang nyata, Muhammadiyah terus mengajak masyarakat untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri yang makmur, lestari, berkeadaban, dan penuh keberkahan. Inilah ikhtiar bersama menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Sumber : Suara Muhammadiyah edisi 21 thn 2022

Facebook Comments