KUDUS — Kepergian Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno menjadi duka mendalam bagi keluarga besar Aisyiyah dan Muhammadiyah. Tokoh perempuan, akademisi, sekaligus aktivis gerakan ini wafat pada Selasa, 7 Juli 2026 di Yogyakarta, meninggalkan jejak pengabdian yang begitu luas dalam bidang keilmuan, pendidikan, perempuan, dan kemanusiaan.
Almarhumah pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah pada periode 2000–2005 dan 2005–2010. Selain itu, beliau dikenal sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), tokoh Aisyiyah Kauman Yogyakarta, dan sosok yang selama hidupnya menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Sosok Cendekiawan yang Mencintai Ilmu
Prof. Siti Chamamah dikenal sebagai pribadi yang memiliki semangat belajar yang luar biasa. Beliau mendalami bidang filologi dan pernah menempuh studi di Paris dan Leiden, dua pusat studi yang memperkuat kapasitas intelektualnya.
Bagi almarhumah, ilmu bukan sekadar gelar atau jabatan akademik, tetapi cara untuk memahami kehidupan secara lebih mendalam. Ia dikenal gemar membaca, meneliti, berdiskusi, dan mengkaji berbagai persoalan dengan teliti. Cara berpikirnya progresif, objektif, dan terbuka terhadap berbagai gagasan.
Yang menarik, Prof. Chamamah tidak menyukai kutipan-kutipan indah yang dilepaskan dari konteksnya. Beliau lebih menghargai pemahaman yang utuh daripada sekadar retorika yang terdengar memukau tetapi kosong makna.
Memadukan Keilmuan dan Aktivisme
Keistimewaan Prof. Siti Chamamah tidak hanya terletak pada kapasitas intelektualnya, tetapi juga pada kemampuannya menghubungkan dunia akademik dengan gerakan sosial-keagamaan.
Banyak tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah menilai bahwa beliau berhasil memadukan kecendekiawanan dengan aktivisme. Gagasan-gagasannya tidak berhenti di ruang kuliah atau seminar, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata untuk memajukan Aisyiyah dan memperkuat peran perempuan dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pengabdiannya menunjukkan bahwa seorang ilmuwan dapat sekaligus menjadi penggerak perubahan sosial.
Warisan Berharga bagi Kader Aisyiyah
Jejak yang ditinggalkan Prof. Chamamah bukan hanya berupa karya ilmiah, tetapi juga etos kerja, kedisiplinan berpikir, dan kecintaan terhadap ilmu.
Beliau memberikan teladan bahwa pemimpin gerakan harus terus belajar, memperluas wawasan, memahami persoalan secara mendalam, serta membangun keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan yang disertai iman dan akhlak.
Di tengah budaya yang sering mengutamakan popularitas, beliau mengingatkan pentingnya kerja nyata. Gerakan tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh kesungguhan, konsistensi, dan ketekunan dalam melayani masyarakat.
Inspirasi untuk Generasi Penerus
Bagi kader dan pimpinan Aisyiyah Muhammadiyah, kehidupan Prof. Siti Chamamah merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis. Semangat beliau mendorong setiap kader untuk:
- mencintai ilmu dan budaya membaca;
- berpikir kritis dan mendalam;
- menghindari retorika kosong;
- mengutamakan pengabdian daripada pencitraan;
- membangun gerakan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Nilai-nilai tersebut sangat relevan di era digital saat ini, ketika informasi begitu mudah beredar tetapi kedalaman pemahaman sering kali berkurang.
Penutup
Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno telah berpulang, namun keteladanan beliau tetap hidup dalam gerakan Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia menunjukkan bahwa ilmu, iman, dan pengabdian dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan perubahan yang bermakna.
Mengenang beliau bukan hanya dengan ungkapan duka, tetapi juga dengan melanjutkan semangat belajar, bekerja, dan berkhidmat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikan almarhumah, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.
Sumber : Suara Muhammadiyah







