Bangga Berbahasa Daerah dan Berbudaya, Wujud Nyata Nasionalisme Masa Kini

Oleh: Afthonul Afif, M.Pd. (Pendidik MI Muhammadiyah Bae)

Nasionalisme di Indonesia lahir ketika penduduk negeri ini berada di bawah pemerintahan jajahan Belanda. Ideologi ini muncul menjadi sebuah kesadaran kolektif dipicu oleh perasaan senasib di masa lalu dan di masa yang sedang dijalani, dan yang lebih penting lagi adalah dipersatukan oleh cita-cita yang sama untuk masa depan. Namun dalam perkembangannya, semangat nasionalisme di kalangan generasi muda tampak melemah. Fenomena ini menunjukkan bahwa peran lembaga pendidikan menjadi sangat penting tidak hanya agar peserta didik mengerti dan memahami makna nasionalisme tetapi yang terpenting mampu menghayati nilai-nilai filosofis di balik semangat nasionalisme itu.

BAHASA DAERAH DAN BUDAYA SEBAGAI IDENTITAS BANGSA

Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai bahasa lokal yang berkontribusi besar terhadap keanekaragaman budaya dan identitas nasional. Bahasa lokal bukan hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi di kalangan masyarakat setempat, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga nilai-nilai budaya, tradisi, serta kebijaksanaan lokal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan pemahaman terhadap keberagaman budaya tersebut diharapkan dapat menciptakan hubungan yang harmonis dalam hubungan sosial termasuk untuk menghadirkan sikap inklusif. Keberagaman budaya tersebut merupakan warisan kolektif yang harus dilindungi, dikembangkan dan dimanfaatkan. Dengan terciptanya kesadaran dan pemahaman terhadap keberagaman budaya, dapat mendorong upaya semua pihak untuk membangun komunikasi dan menciptakan kesadaran bahwa semua budaya adalah sederajat dan tidak ada budaya yang lebih tinggi dari budaya yang lain. Dalam konteks yang lebih luas, kesadaran tersebut dapat membangun jembatan antarbangsa sehingga muncul sikap saling pengertian dan kerja sama lintas budaya. Bahasa sebagai salah satu unsur kebudayaan sangat penting bagi keberlangsungan peradaban manusia. Pemahaman dan penguasaan Bahasa Daerah penting, tidak hanya sebagai identitas kelompok masyarakat tertentu, tetapi juga sebagai penanda keberagaman budaya.

TANTANGAN PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA DI ERA MODERN

Era globalisasi memiliki dampak pada budaya khususnya pada penggunaan Bahasa Indonesia.  Kemudahan  akses  informasi  dan  interaksi  dengan  budaya asing melalui internet dan media sosial seringkali mendorong penggunaan bahasa asing atau campuran bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Perubahan yang dibawa globalisasi menciptakan peluang seperti peningkatan interaksi lintas budaya dan penyebaran ilmu pengetahuan, namun juga menghadirkan tantangan besar, seperti homogenisasi budaya dan ancaman terhadap keberlanjutan bahasa lokal. Fenomena ini dapat mengikis penggunaan bahasa  Indonesia  yang  baik  dan  benar,  bahkan  berpotensi  menggeser  preferensi  terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan identitas nasional. Fenomena ini memengaruhi identitas budaya lokal, karena tradisi dan nilai-nilai asli mulai tergeser oleh budaya luar negeri yang lebih dominan.

Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Keluarga dapat membiasakan komunikasi menggunakan bahasa daerah dalam situasi yang sesuai. Sekolah dapat mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan budaya lokal ke dalam kegiatan pendidikan. Masyarakat dapat menghidupkan kembali kegiatan seni dan tradisi daerah, sedangkan pemerintah dapat memperkuat program perlindungan dan pengembangan bahasa daerah. Dengan kerja sama tersebut, pelestarian budaya tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kebiasaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

BANGGA BERBAHASA DAERAH SEBAGAI PRAKTIK NASIONALISME MASA KINI

Nasionalisme pada masa kini tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau seremoni peringatan hari besar nasional. Nasionalisme harus hadir dalam tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi keberlangsungan bangsa. Menggunakan bahasa daerah dengan baik, mempelajari kesenian tradisional, menghormati adat istiadat, serta memperkenalkan kebudayaan lokal kepada masyarakat luas merupakan tindakan konkret yang dapat dilakukan oleh siapa saja.

Bagi generasi muda, nasionalisme dapat diwujudkan dengan membuat konten digital berbahasa daerah, mendokumentasikan cerita rakyat, mengenalkan makanan tradisional, mempromosikan kesenian lokal, atau membagikan pengetahuan tentang sejarah daerah melalui media sosial. Teknologi yang selama ini sering dianggap sebagai tantangan bagi kelestarian budaya justru dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan kebudayaan Indonesia. Dengan kreativitas, bahasa daerah dapat hadir dalam video edukasi, podcast, film pendek, komik digital, hingga karya sastra yang dekat dengan kehidupan anak muda.

Dalam lingkungan pendidikan, kebanggaan terhadap bahasa daerah juga dapat dikembangkan melalui pembiasaan yang terencana. Program sehari berbahasa daerah, lomba mendongeng cerita rakyat, pembacaan puisi daerah, permainan tradisional, dan pengenalan kesenian lokal merupakan contoh kegiatan yang dapat diterapkan di sekolah. Kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa tentang budaya daerah, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, kecintaan terhadap lingkungan sosial, dan penghargaan terhadap warisan leluhur.

Sebagai contoh, program Sabtu Berbahasa Daerah atau SABBARA di lingkungan MI Muhammadiyah Bae dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kesadaran budaya sejak dini. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat belajar menggunakan ungkapan sehari-hari, memahami tata krama berbahasa, mengenal peribahasa lokal, dan mempraktikkan komunikasi yang santun. Apabila dilaksanakan secara konsisten dan menyenangkan, program ini dapat menjadikan bahasa daerah sebagai bagian alami dari kehidupan siswa, bukan sekadar materi yang dihafalkan untuk kepentingan pembelajaran.

Lebih jauh lagi, pelestarian bahasa dan budaya daerah harus tetap berjalan seiring dengan penguatan persatuan nasional. Seseorang tidak perlu meninggalkan identitas lokalnya untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik. Sebaliknya, setiap identitas daerah yang dirawat dengan sikap terbuka akan memperkaya kebudayaan nasional. Semangat Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah belah, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis.

 

 

 

Facebook Comments