Rabu, 22 Juli 2026

Mengapa Kita Harus Menimbang dan Menyaring Informasi? Inilah Pesan Berharga KH Ahmad Dahlan

1

Di era digital, informasi datang tanpa henti. Dalam hitungan detik, seseorang bisa menerima ratusan pesan, berita, opini, hingga video dari berbagai media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar mengandung kebenaran. Karena itu, setiap muslim dituntut memiliki sikap kritis, bijaksana, dan tidak mudah menerima sesuatu tanpa melakukan pertimbangan.Nilai inilah yang sejak lama diajarkan oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Beliau tidak hanya dikenal sebagai tokoh yang aktif bergerak melakukan perubahan, tetapi juga sebagai sosok yang mendorong umat Islam untuk berpikir kritis, menggunakan akal sehat, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

Menimbang Sebelum Meyakini, KH Ahmad Dahlan mengajarkan sebuah prinsip sederhana namun sangat relevan hingga saat ini, yaitu ditimbang, disaring, lalu dipilih yang benar.Artinya, setiap informasi maupun pendapat tidak seharusnya langsung diterima begitu saja. Semua perlu dikaji berdasarkan dalil, fakta, akal sehat, dan manfaatnya.Sikap seperti ini membuat seseorang tidak mudah terpengaruh oleh isu, provokasi, maupun informasi yang belum jelas kebenarannya. Sebaliknya, ia akan lebih berhati-hati sebelum berbicara, membagikan informasi, atau mengambil keputusan.

Kebenaran Bisa Datang dari Berbagai Perspektif Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk saling belajar.Semakin banyak perspektif yang dipelajari, semakin luas pula pemahaman seseorang terhadap suatu persoalan. Karena itulah Islam mendorong umatnya untuk terus mencari ilmu dan membuka diri terhadap berbagai sumber pengetahuan selama tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.Prinsip ini juga sejalan dengan semangat ijtihad yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam, yaitu mencari kebenaran melalui kajian yang mendalam dan argumentasi yang kuat.

Jangan Taklid Buta

Salah satu penyebab lahirnya konflik adalah sikap taklid buta, yakni mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui dasar dan alasannya. Ketika seseorang hanya menerima satu sudut pandang dan menolak mendengar pendapat lain, maka ruang dialog menjadi sempit. Akibatnya, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan. Islam justru mengajarkan agar umatnya menggunakan akal, berpikir, berdiskusi, dan mencari kebenaran secara objektif.Sikap kritis bukan berarti gemar membantah, tetapi berusaha memahami suatu persoalan secara utuh sebelum memberikan penilaian. Belajar Menghargai Perbedaan Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku, bangsa, budaya, bahkan cara berpikir yang berbeda. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. Al-Ḥujurāt [49]:13

keberagaman tersebut bertujuan agar manusia saling mengenal, bukan saling merendahkan atau memusuhi. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar selama disampaikan dengan adab, saling menghormati, dan tetap berorientasi pada mencari kebenaran. Dengan sikap seperti ini, dialog menjadi lebih sehat, ilmu semakin berkembang, dan ukhuwah tetap terjaga.

Kritis Tanpa Kehilangan Akhlak

Di tengah derasnya arus media sosial, kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan setiap muslim.Sebelum mempercayai sebuah informasi, biasakan bertanya:

  • Apakah sumbernya jelas?
  • Apakah datanya dapat dipertanggungjawabkan?
  • Apakah informasi ini membawa manfaat?
  • Apakah layak disebarkan?

Kebiasaan sederhana tersebut akan membantu menghindarkan diri dari fitnah, hoaks, maupun provokasi yang merusak persatuan.

Meneladani Cara Berpikir KH Ahmad Dahlan

Warisan terbesar KH Ahmad Dahlan bukan hanya amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah, tetapi juga cara berpikir yang rasional, terbuka, dan berlandaskan ilmu.Beliau mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditegakkan dengan fanatisme, melainkan melalui ilmu, dialog, dan keberanian menerima pendapat yang lebih kuat.Sikap “ditimbang, disaring, dipilih yang benar” tetap relevan sepanjang zaman, terutama ketika masyarakat menghadapi banjir informasi yang begitu cepat. Menimbang sebelum percaya, menyaring sebelum menyebarkan, dan memilih berdasarkan ilmu merupakan akhlak yang perlu terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itulah umat Islam dapat menjadi pribadi yang bijaksana, menjaga persatuan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sebagaimana teladan KH Ahmad Dahlan, kemajuan umat lahir dari ilmu, keterbukaan berpikir, dan keberanian mencari kebenaran dengan penuh hikmah.

Facebook Comments