Kudus, 27–28 April 2026 — SMA Muhammadiyah Kudus menggelar kegiatan edukatif bertajuk Srawung Kampung dengan menggandeng komunitas Cerita Kudus Tuwa. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa (27–28/4/2026), dengan melibatkan 175 siswa kelas XI dari lima kelas.
Mengusung konsep pembelajaran kontekstual, para siswa diajak menyusuri kawasan Kauman, Langgardalem, dan Kerjasan untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah dan budaya Kudus tempo dulu. Kegiatan ini menjadi alternatif pembelajaran di luar kelas yang interaktif dan bermakna.
Selama kegiatan, peserta menelusuri sejumlah titik bersejarah, di antaranya Masjid Langgardalem, eks Pabrik Rokok HM Moeslich, Masjid Puspitan, rumah adat Kudus, Omah Batik Kudus, Langgar Bubrah, hingga Museum HM Ashadie. Di setiap lokasi, siswa mendapatkan penjelasan langsung terkait nilai sejarah, budaya, dan perkembangan masyarakat Kudus dari masa ke masa.
Pendamping dari Cerita Kudus Tuwa turut memberikan narasi yang memperkaya wawasan siswa, mulai dari sejarah berdirinya bangunan, peran tokoh lokal, hingga perubahan sosial yang terjadi di kawasan tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengenalkan sejarah lokal, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah serta kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan leluhur.
Dengan antusiasme tinggi, para siswa aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan, berdiskusi, hingga mendokumentasikan pengalaman mereka. Srawung Kampung menjadi bukti bahwa belajar sejarah tidak harus selalu di dalam kelas, melainkan bisa dilakukan secara langsung di lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan ini, SMA Muhammadiyah Kudus berharap para siswa tidak hanya memahami sejarah sebagai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai kearifan lokal untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor : Tim Publikasi Humas SMA Muhammadiyah Kudus







