Kudus, Muhammadiyah.or.id — Sejarah dunia menunjukkan satu pola yang terus berulang: tidak ada kejayaan yang berlangsung selamanya, dan tidak ada kehancuran yang benar-benar abadi. Peradaban besar lahir, berkembang, mencapai puncak, lalu mengalami kemunduran sebelum digantikan oleh kekuatan baru. Pelajaran inilah yang kembali diingatkan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, dalam sebuah pengajian Syawal di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
Menurut Anwar Abbas, dinamika geopolitik global yang melibatkan berbagai negara besar, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, telah memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan dunia. Gangguan pada jalur distribusi energi internasional, terutama minyak, dapat memicu kelangkaan pasokan, kenaikan harga, dan pada akhirnya memengaruhi perekonomian banyak negara.
Krisis Global Berdampak pada Kehidupan Masyarakat
Kenaikan harga energi bukan sekadar persoalan angka di pasar internasional. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, mulai dari biaya produksi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan sehari-hari. Ketika biaya usaha meningkat, daya beli masyarakat menurun, investasi melemah, dan lapangan kerja ikut terpengaruh.
Dalam kondisi seperti itu, jika pemerintah dan masyarakat tidak mampu mengelola persoalan ekonomi dengan baik, maka risiko meningkatnya kemiskinan dan kriminalitas menjadi semakin besar. Karena itu, Anwar Abbas mengingatkan pentingnya kesiapan bangsa menghadapi perubahan global yang terjadi dengan sangat cepat.
Negara Maju Pun Tidak Luput dari Masalah
Anwar Abbas juga mengajak masyarakat untuk melihat realitas dunia secara lebih objektif. Gambaran tentang negara-negara maju yang sering tampak sempurna dalam film atau media, menurutnya, tidak selalu mencerminkan keadaan sebenarnya.
Di balik kemajuan teknologi dan ekonomi, banyak negara juga menghadapi persoalan sosial yang serius, seperti tunawisma, penyalahgunaan narkoba, kesenjangan sosial, hingga berbagai problem kemanusiaan lainnya. Karena itu, kemajuan suatu bangsa tidak boleh hanya diukur dari kemegahan infrastruktur atau kekuatan militernya.
Kejayaan dan Kehancuran Adalah Hukum Sejarah
Mengutip makna QS Ali Imran ayat 140, Anwar Abbas menegaskan bahwa pergiliran kejayaan merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu bangsa atau negara pun yang dapat mempertahankan posisi sebagai kekuatan adidaya untuk selama-lamanya.
Sejarah mencatat bagaimana berbagai peradaban besar, mulai dari Kekaisaran Persia, Bizantium, hingga Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah, pernah mencapai puncak kejayaan sebelum akhirnya mengalami kemunduran. Pergeseran pusat kekuatan dunia merupakan fenomena yang terus berlangsung sepanjang sejarah.
Kekuatan Bangsa Tidak Hanya Ditentukan Militer
Dalam pandangan Anwar Abbas, kekuatan sebuah negara bukan hanya ditentukan oleh faktor politik atau militer. Penguasaan ekonomi dan modal memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah pembangunan suatu bangsa.
Karena itu, ia mendorong umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, agar tidak hanya berkiprah di bidang pendidikan dan kesehatan, tetapi juga berani mengembangkan sektor ekonomi, bisnis, dan industri strategis. Penguatan ekonomi umat dipandang sebagai salah satu syarat penting agar masyarakat mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan nasional.
Pendidikan Harus Adaptif terhadap Perubahan Zaman
Selain ekonomi, Anwar Abbas menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Institusi pendidikan, termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), perlu terus memperbarui kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga harus dibekali kemampuan menciptakan peluang usaha, berinovasi, serta menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Membangun Bangsa
Pesan utama yang disampaikan Anwar Abbas adalah bahwa sejarah seharusnya menjadi cermin untuk memperbaiki masa depan. Bangsa yang mampu belajar dari pengalaman sejarah akan lebih siap menghadapi perubahan, sedangkan bangsa yang mengabaikan pelajaran sejarah berisiko mengulangi kesalahan yang sama.
Muhammadiyah, dengan jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang dimilikinya, memiliki peluang besar untuk terus berkontribusi dalam membangun Indonesia. Penguatan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman merupakan langkah penting agar bangsa Indonesia tetap relevan, mandiri, dan berdaya saing di tengah perubahan dunia.
Pada akhirnya, pergiliran kejayaan dan kehancuran bukanlah alasan untuk pesimis, melainkan pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk membangun peradaban yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat.
