KUDUS – Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kudus kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kemandirian ekonomi kader melalui inovasi berbasis ketahanan pangan. Berawal dari bahan yang kerap dianggap limbah, bonggol pisang kini disulap menjadi aneka produk bernilai ekonomi melalui Lomba Aksi Ketahanan Pangan “Bonggol Berkemajuan”, yang puncaknya digelar bersamaan dengan kegiatan TabebuyaKu (Thalabul Ilmi Bareng Bebungahan Nasyiah Kudus) di Masjid Al Furqon, Undaan Tengah, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan TabebuyaKu edisi Juni mengangkat tema “Muharram Momentum Introspeksi: Menebus Masa Lalu dengan Amal Shaleh di Masa Kini Menuju Pribadi yang Lebih Diridhai Allah SWT.” Ratusan kader Nasyiatul Aisyiyah dari berbagai cabang di Kabupaten Kudus mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz Nadhif, M.Pd.
Dalam kajiannya, Ustadz Nadhif mengajak peserta memahami bahwa Muharram bukanlah bulan yang dipenuhi mitos, melainkan salah satu bulan mulia yang menjadi momentum memperbaiki diri. Menurutnya, setiap Muslim diajak mengikhlaskan masa lalu, memperbanyak amal saleh pada masa kini, serta terus berupaya meraih ridha Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.
Selain mengikuti kajian keislaman, perhatian peserta juga tertuju pada puncak penjurian Lomba Aksi Ketahanan Pangan “Bonggol Berkemajuan”, sebuah program unggulan Departemen Ekonomi dan Kewirausahaan PDNA Kudus.
“Bonggol Berkemajuan” merupakan akronim dari Bonggol Berkah, Ekonomis, dan Memajukan. Program ini selaras dengan tema Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-15, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan.” Sebelumnya, PDNA Kudus juga telah menyelenggarakan berbagai kegiatan menyongsong Muktamar, seperti LINA I, Pelatihan Muballighat, serta Aksi Ekologi Gerakan Nafas.
Ketua PDNA Kudus, Nailis Sa’adah, S.Pd.I, menjelaskan bahwa lomba ini tidak hanya mengasah kreativitas mengolah bahan pangan lokal, tetapi juga melatih karakter kader dalam mengelola usaha secara profesional.
“Lomba ini kami rancang agar kader tidak hanya mampu berinovasi dalam pengolahan pangan, tetapi juga memiliki karakter tanggung jawab, kejujuran, dan kecerdasan finansial melalui pengelolaan modal usaha yang terukur,” ujarnya.
Kompetisi tersebut dilaksanakan dalam empat tahapan, yakni perencanaan dan pengelolaan modal dengan batas maksimal Rp150.000, proses produksi dan inovasi olahan, strategi pengemasan serta pemasaran digital, hingga tahap akhir berupa display produk dan penjurian.
Proses penilaian dilakukan oleh Nur As’adiyah Rahman, S.Pd., C.M. dan Novi Iliana, yang memiliki pengalaman di bidang kewirausahaan dan pengembangan produk. Para peserta mempresentasikan hasil olahan beserta strategi pengembangannya di hadapan dewan juri.
Berdasarkan hasil penilaian, PCNA Jati berhasil meraih Juara I melalui inovasi Lumpia Paradina dan Es Harta Karun. Juara II diraih PCNA Gebog dengan produk Banacorm Nugget, sedangkan Juara III diraih PCNA Undaan melalui produk Abon Bonggol Pisang.
Melalui kegiatan ini, PDNA Kudus berharap pengolahan bonggol pisang tidak berhenti sebagai ajang perlombaan semata, melainkan berkembang menjadi solusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha produktif bagi kader Nasyiatul Aisyiyah.
“Dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai, ternyata dapat lahir produk inovatif yang memiliki nilai ekonomi. Harapannya, karya-karya ini dapat berkembang menjadi sumber penghasilan kader bahkan menjadi embrio amal usaha Nasyiatul Aisyiyah di masa mendatang,” tutup Nailis.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dakwah perempuan muda Muhammadiyah tidak hanya hadir melalui penguatan spiritual dan perkaderan, tetapi juga melalui pemberdayaan ekonomi, inovasi pangan lokal, serta kepedulian terhadap ketahanan pangan masyarakat.
Kontributor : Alivia Nur Asna, 27 Juni 2026







