Rabu, 11 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter Anak di Masa Golden Age: Pesan Milad ke-63 MI Muhammadiyah Al Tanbih

13

KUDUS – Menghadapi tantangan degradasi moral di era digital, penguatan pendidikan karakter anak sejak usia dini menjadi harga mati bagi institusi pendidikan. Hal ini ditegaskan dalam peringatan Milad ke-63 MI Muhammadiyah Al Tanbih yang digelar bersamaan dengan momen buka puasa bersama di RM Ulam Sari, Kudus, Senin (9/3/2026). Melalui refleksi lebih dari enam dekade berdiri, sekolah ini berkomitmen membentengi generasi Z dengan nilai-nilai agamis dan kesantunan yang kokoh.

Kepala Madrasah, Ustadz Suyanto, S.Ag, M.Pd.I, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang sekolah yang berdiri sejak 9 Maret 1963 ini. Beliau menekankan bahwa perkembangan MI Al Tanbih tidak lepas dari dukungan penuh dewan guru serta pengurus Muhammadiyah. Saat ini, sekolah bahkan mengelola 30 jenis kegiatan ekstrakurikuler guna membentuk identitas dan menggali potensi terbaik setiap siswa.

Pimpinan Cabang Getas Pejaten, Bapak Supardi, turut mengapresiasi capaian fisik dan non-fisik sekolah yang kini telah berkembang pesat dari bangunan kayu sederhana di masa lalu. Ia menyoroti prestasi luar biasa MI Al Tanbih sebagai satu-satunya perwakilan MI Muhammadiyah dari Kudus yang maju dalam ajang Olympic Ahmad Dahlan. Prestasi ini dianggap sebagai buah dari dedikasi para guru dalam mendidik dengan penuh keikhlasan.

Urgensi Akhlak sebagai Filter Generasi Z

Dalam ceramah intinya, Ustadz Sulistyono, S.Ag menekankan bahwa usia sekolah dasar merupakan masa Golden Age atau periode emas. Beliau menegaskan bahwa pada fase inilah guru memiliki tanggung jawab besar untuk membangun fondasi nilai yang kokoh. Tanpa dasar agama dan etika yang kuat, kecerdasan intelektual anak justru bisa menjadi risiko di masa depan.

Ustadz Sulistyono menyoroti fenomena tantangan zaman yang kini mengintai generasi muda, mulai dari perubahan perilaku hingga pengaruh eksternal yang merusak. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa pendampingan moral hanya akan melahirkan pribadi yang kehilangan arah. Oleh karena itu, kurikulum sekolah harus mampu menyeimbangkan aspek kognitif dengan pembinaan spiritual.

“Siapa orang yang tidak beradab, siapa orang yang tidak berakhlak, maka dia tidak berilmu. Artinya apa? Percuma ilmunya,” ujar Ustadz Sulistyono, S.Ag saat memberikan ceramah. Beliau menambahkan bahwa tugas utama pendidik adalah memastikan anak didik memahami hukum agama serta memiliki tata krama yang baik.

Membentuk Karakter di Masa Golden Age

Lebih lanjut, Ustadz Sulistyono menjelaskan bahwa pembiasaan positif di sekolah akan menjadi bekal permanen bagi siswa. Ketika nilai-nilai kebaikan sudah tertanam sejak dini, anak-anak akan lebih tangguh menghadapi dinamika sosial saat dewasa nanti. Hal ini menjadi kunci utama dalam strategi pendidikan karakter anak agar mereka tidak mudah terpengaruh tren negatif.

“Fungsi guru dan tugas guru adalah memaksimalkan mungkin anak-anak itu ilmunya bagus, agamanya bagus, akhlaknya bagus,” tegas Ustadz Sulistyono di hadapan keluarga besar MI Muhammadiyah Al Tanbih. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen sekolah untuk terus bersinergi dalam menyiapkan kader muslim yang berkualitas.

Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh guru, komite, dan orang tua untuk menjadikan proses mendidik ini sebagai ladang amal jariah. Sinergi kolektif diharapkan mampu menyelamatkan generasi mendatang dari berbagai konspirasi perusakan moral. Dengan penguatan aspek agamis dan santun, sekolah optimistis dapat mencetak lulusan yang unggul secara prestasi namun tetap rendah hati dalam berperilaku.

Kontributor : Dian Amalia

 

Facebook Comments
error: Content is protected !!