KUDUS – Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Keyakinan ini bukan sekadar mempercayai bahwa Allah pernah menurunkan wahyu kepada para nabi dan rasul-Nya, tetapi juga meyakini bahwa wahyu tersebut menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia hingga meraih kebahagiaan di akhirat.
Dalam ajaran Islam, kitab-kitab Allah mengandung tuntunan berupa akidah, ibadah, akhlak, hukum, serta nilai-nilai kehidupan yang membimbing manusia menuju jalan yang benar. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mengetahui keberadaan kitab-kitab tersebut, tetapi juga dituntut untuk memahami dan mengamalkan ajarannya sesuai dengan petunjuk Allah SWT.
Beriman kepada Kitab-Kitab Allah adalah Rukun Iman
Keimanan kepada kitab-kitab Allah menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Seorang muslim diwajibkan mengimani seluruh kitab yang Allah turunkan kepada para rasul-Nya, yaitu:
- Taurat kepada Nabi Musa AS.
- Zabur kepada Nabi Dawud AS.
- Injil kepada Nabi Isa AS.
- Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Keempat kitab tersebut merupakan bagian dari wahyu Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia pada zamannya. Adapun Al-Qur’an menjadi penyempurna sekaligus penutup seluruh kitab suci sebelumnya. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya.”
(QS. An-Nisa: 136)
Ayat tersebut menegaskan bahwa keimanan kepada kitab-kitab Allah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan seorang muslim.
Fitrah Manusia untuk Menerima Petunjuk Allah
Para ulama menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah dengan fitrah untuk mengenal dan menerima kebenaran.Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa kecenderungan manusia untuk menerima petunjuk Allah merupakan bagian dari fitrah yang telah Allah tanamkan sejak awal penciptaan.
Hal ini selaras dengan firman Allah SWT:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Karena itu, menerima wahyu Allah sejatinya merupakan bagian dari kebutuhan spiritual manusia untuk menemukan arah hidup yang benar.
Mengimani Al-Qur’an Tidak Cukup Sekadar Percaya
Bagi umat Islam, keimanan kepada Al-Qur’an bukan hanya sebatas mempercayai bahwa kitab tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.Lebih dari itu, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk:Membaca Al-Qur’an secara rutin, Mempelajari kandungannya, Memahami makna ayat-ayatnya, Mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca ketika beribadah, melainkan pedoman hidup yang selalu relevan sepanjang zaman. Sebagai mukjizat terbesar Rasulullah SAW, Al-Qur’an menjadi sumber nilai, petunjuk moral, dan solusi bagi berbagai persoalan kehidupan manusia.
Al-Qur’an Sebagai Petunjuk Menuju Kebahagiaan
Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Al-Hadi, yakni Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk.Melalui kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para nabi, Allah membimbing manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.Petunjuk tersebut bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam semesta. Semakin dekat seseorang dengan petunjuk Allah, semakin besar pula peluangnya meraih kehidupan yang penuh ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan.
Iman Melahirkan Optimisme dan Semangat Berbuat Baik Keimanan kepada kitab-kitab Allah seharusnya melahirkan sikap optimis dalam menjalani kehidupan.Seorang muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman akan terdorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Al-Baqarah [2]:177
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan kepada kitab-kitab Allah bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi harus tercermin dalam amal saleh dan kepedulian sosial.
Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, Al-Qur’an tetap menjadi sumber petunjuk yang tidak pernah kehilangan relevansinya. Setiap muslim hendaknya membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui kebiasaan membaca, mentadabburi, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, seorang mukmin tidak hanya memperkuat keimanannya, tetapi juga memperoleh arah hidup yang lebih jelas, hati yang lebih tenang, dan semangat untuk terus berbuat baik demi meraih kebahagiaan dunia serta akhirat.
Sumber: Suara Muhammadiyah ke 107 thn 2022
