Bacaan Adzan dan Iqamah Lengkap Sesuai HPT Muhammadiyah, Beserta Dalil Al-Qur’an dan Hadis

7

Adzan dan iqamah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari syiar Islam. Sejak masa Rasulullah ﷺ, keduanya menjadi penanda masuknya waktu shalat sekaligus seruan agar kaum muslimin segera memenuhi panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah. Lantunan adzan bukan sekadar pemberitahuan waktu shalat, tetapi juga mengandung kalimat-kalimat tauhid yang mengagungkan Allah, menegaskan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, serta mengajak umat menuju keberuntungan melalui shalat.

Dalam lingkungan Muhammadiyah, tata cara dan bacaan adzan maupun iqamah berpedoman pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pedoman tersebut merupakan hasil ijtihad jama’i (ijtihad kolektif) yang bersandar pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih, sehingga menjadi rujukan resmi bagi warga Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah.

Melalui pendekatan tarjih, Muhammadiyah berupaya memilih riwayat-riwayat yang paling kuat (rajih) berdasarkan kaidah ilmu hadis dan metodologi istinbath hukum Islam. Meskipun terdapat beberapa variasi bacaan adzan dan iqamah yang sama-sama memiliki dasar syar’i, Muhammadiyah menetapkan satu bentuk bacaan yang dipandang paling kuat dan lebih mudah diamalkan secara bersama sebagai pedoman resmi Persyarikatan. Hal ini bertujuan menghadirkan kemudahan dalam beribadah, menjaga ketertiban pelaksanaan ibadah berjamaah, serta menghindari kebingungan di tengah masyarakat.

Pada artikel ini akan disajikan teks adzan dan iqamah sesuai Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, lengkap dengan tulisan Arab, latin, terjemahan bahasa Indonesia, serta dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih yang menjadi dasar pensyariatannya. Dengan memahami bacaan sekaligus landasan hukumnya, diharapkan setiap muslim dapat melaksanakan ibadah dengan lebih mantap, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan berlandaskan ilmu yang benar. Semoga artikel ini menjadi referensi yang bermanfaat bagi warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas yang ingin mempelajari tuntunan adzan dan iqamah secara lebih mendalam.

(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ

(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ

(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ

Bacaan latinnya:

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)

Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)

Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)

Hayya ‘alashshalaah (2x)

Hayya ‘alalfalaah (2x)

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)

Laa ilaaha illallaah (1x).

Artinya:

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah

Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah

Marilah mendirikan salat

Marilah menuju kepada kejayaan

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

Tiada Tuhan selain Allah.

Adzan Subuh ada Tambahan setelah “Hayya’ alal fala-h”

اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Bacaan latinnya: Ash-shalaatu khairum minan-nauum. dikumandangkan sebanyak 2 kali setelah lafal “Hayya ‘alalfalaah” pada azan subuh.

Artinya: Salat itu lebih baik dari pada tidur.

Adzan di hari tertentu

pada waktu hujan atau malam hari yang sangat dingin, maka : “Hayya’ Alashshala-ah” di ganti dengan kalimat

اَلاَ صَلُّوْا فِىْ رِحَالِكُمْ

Latin : Ala-Shallu Fi-riha – Likum 2x

Artinya : Ingat, Shalatlah kamu di tempat berhentimu 2x

 ْاَلاَ صَلُوْا فِىْ بُيُتِكُم

Latih : Ala-Shallu Fi Buyu-tikum 2x

Artinya :  Ingat, Shalatlah kamu di rumah-rumahmu 2x

Menyambut Adzan

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Latin: Laa haula walaa quwwata illaa billaah

Artinya : Tiada gerak dan kekuatan kecuali dengan izin Allah

Doa Sesudah Adzan 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ. بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Latin:
“Allahuma Shalli ‘ala- Muhammadin wa’ala ali Muhammad, Allahumma Rabba hadzihid-da’watit-tammah, was-shalatil-qa’imah, ati Muhammadanil-wasilata wal-fadhilah, wab’atshu maqamam mahmudanilladzi wa’adtah, innaka la tukhliful-mi’ad, birahmatika ya arhamar-rahimin.”

Artinya:
“Ya Allah, berilah kehormatan dan kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya. Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini, dan salat yang akan didirikan. Berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah (derajat yang tinggi) dan fadhilah (keutamaan). Dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Paling Penyayang di antara para penyayang.”

 Bacaan IQAMAT

Lafal iqamat serupa dengan bacaan azan. Bedanya, jika lafal azan dibaca dua kali, iqamat dibaca sekali saja. Selain itu, ada lafal tambahan “Qad qaamatish-shalaah” yang dibaca 2 kali setelah lafal Hayya ‘alalfalaah.

Berikut ini bacaan lafal iqomah dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya:

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ

اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ

Bacaan latinnya:

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

Asyhadu allaa illaaha illallaah

Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah

Hayya ‘alashshalaah

Hayya ‘alalfalaah

Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

Laa ilaaha illallaah

Artinya:

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah.

Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Marilah menunaikan salat.

Marilah menuju kepada kejayaan.

Sesungguhnya sudah hampir mengerjakan salat.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Tiada Tuhan melainkan Allah.

 

Salah satu Dalil Tentang Adzan Yang ada di Kitab Himpunan Pustusan Tarjih Muhammadiyah HPT halaman 123-124

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِيُّ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلنَّاسِ لِجَمْعِ الصَّلاَةِ طَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ قَالَ وَمَا تَصْنَعُ بِهِ فَقُلْتُ نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلاَةِ ‏.‏ قَالَ أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ فَقُلْتُ لَهُ بَلَى ‏.‏ قَالَ فَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ قَالَ ثُمَّ اسْتَأْخَرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ وَتَقُولُ إِذَا أَقَمْتَ الصَّلاَةَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا رَأَيْتُ فَقَالَ ‏”‏ إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ ‏”‏ ‏.‏ فَقُمْتُ مَعَ بِلاَلٍ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهِ عَلَيْهِ وَيُؤَذِّنُ بِهِ – قَالَ – فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ وَيَقُولُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏”‏ فَلِلَّهِ الْحَمْدُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو دَاوُدَ هَكَذَا رِوَايَةُ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ وَقَالَ فِيهِ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنِ الزُّهْرِيِّ ‏”‏ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏”‏ ‏.‏ وَقَالَ مَعْمَرٌ وَيُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ فِيهِ ‏”‏ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏”‏ ‏.‏ لَمْ يُثَنِّيَا ‏.‏

‘Abd Allah b. Zaid melaporkan: ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membuat sebuah lonceng agar dapat dipukul untuk mengumpulkan orang-orang untuk shalat, seorang laki-laki yang membawa lonceng di tangannya muncul kepadaku saat aku tidur, dan aku berkata; wahai hamba ‘Abd Allah, maukah kau menjual lonceng itu? Dia bertanya; apa yang akan kau lakukan dengannya? Aku menjawab; kami akan menggunakannya untuk memanggil orang-orang ke shalat. Dia berkata; apakah aku tidak sebaiknya menyarankan sesuatu yang lebih baik daripada itu. Aku menjawab: tentu saja. Kemudian dia memberitahuku untuk mengatakan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Ayo shalat, ayo shalat; ayo menuju keselamatan; ayo menuju keselamatan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Dia kemudian mundur beberapa langkah dan berkata: ketika kamu mengucapkan IQAMAH, kamu harus mengatakan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Ayo shalat, ayo menuju keselamatan. Waktu untuk shalat telah tiba, waktu untuk shalat telah tiba: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah. Ketika pagi tiba, aku datang kepada Rasulullah (Semoga damai besertanya) dan memberitahunya tentang apa yang aku lihat dalam mimpi. Dia berkata: itu adalah visi yang benar, dan dia kemudian harus menggunakannya untuk memanggil orang-orang ke shalat, karena suaranya lebih keras daripada suaramu. Jadi aku bangkit bersama Bilal dan mulai mengajarkannya kepadanya dan dia menggunakannya dalam adzan. ‘Umar bin Al-Khattab (Semoga Allah meridhainya) mendengarnya saat dia di rumahnya dan keluar dengan jubahnya yang terseret dan berkata: Wahai Rasulullah. Demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, aku juga telah melihat hal yang sama seperti yang ditunjukkan kepadanya. Rasulullah (Semoga damai besertanya) berkata: Segala puji bagi Allah. Abu Dawud berkata; Al-Zuhri meriwayatkan tradisi ini dengan cara yang sama dari Sa’id bin Al-Musayyib atas nama ‘Abd Allah bin Zaid. Dalam versi ini Ibn Ishaq meriwayatkan dari Al-Zuhri: Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Ma’mar dan Yunus meriwayatkan dari Al-Zuhri; Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Mereka tidak melaporkannya dua kali lagi. (Sunan Abu Dawud · Kitab Shalat · No. 499)

Dalil Alqur’an tentang Menyeru Orang Sholat (Adzan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ اُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗمَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang sesuatu yang lebih buruk pembalasannya daripada itu217) di sisi Allah? (Yaitu balasan) orang yang dilaknat dan dimurkai Allah (yang) di antara mereka Dia jadikan kera dan babi.218) (Di antara mereka ada pula yang) menyembah Tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. Al-Mā’idah [5]:60
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan)  untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Al-Jumu‘ah [62]:9

Semoga panduan mengenai bacaan adzan dan iqamah sesuai Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi setiap muslim dalam melaksanakan ibadah dengan tuntunan yang benar. Mari terus memperdalam ilmu agama, mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ berdasarkan dalil yang sahih, serta menjadikan setiap panggilan adzan sebagai pengingat untuk segera memenuhi seruan Allah SWT. Semoga Allah menerima setiap amal ibadah kita dan senantiasa memberikan taufik untuk istiqamah dalam ketaatan. Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

Nasruminallah Wa Fathun Qorrib, Wabasysyiril Mukminin 

 

Sumber : Kitab Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Bab Sholat Jamaah dan Sholat Jum’at
Facebook Comments
Exit mobile version