Selasa, 14 Juli 2026

Berpikir Positif, Cara Sederhana Menghindari Ghibah dan Menjaga Amal Kebaikan

1

Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain merupakan salah satu perilaku yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang sebenarnya berniat menghindarinya, tetapi akhirnya ikut terlibat karena rasa penasaran atau ingin mengetahui persoalan yang sedang dibicarakan.

Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan. Ghibah bukan hanya menyakiti orang lain, tetapi juga dapat mengurangi pahala amal saleh yang telah dikumpulkan. Bahkan, seseorang yang awalnya hanya menjadi pendengar bisa ikut terjerumus dalam dosa apabila membiarkan pembicaraan tersebut terus berlangsung.

Lalu, bagaimana cara sederhana agar tidak ikut larut dalam ghibah?

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membiasakan berpikir positif (positive thinking) kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang sedang membicarakan keburukan orang lain. Sikap ini membantu kita melihat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah dan bertobat. Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak mudah terbawa arus pembicaraan yang negatif.

Apabila seseorang mulai menyebut nama orang lain untuk digunjingkan, cobalah mengalihkan pembicaraan dengan menyampaikan beberapa kebaikan yang dimiliki orang tersebut. Cara ini sering kali efektif menghentikan percakapan yang mengarah pada ghibah. Ketika kebaikan seseorang diangkat, suasana pembicaraan akan berubah sehingga keinginan untuk terus membicarakan keburukannya perlahan memudar.

Namun, jika pembicaraan tetap berlanjut meski sudah diingatkan secara halus, langkah terbaik berikutnya adalah meninggalkan majelis tersebut dengan sopan. Tidak perlu berdebat atau memperpanjang pembicaraan. Cukup berpamitan dengan baik sambil tetap menjaga adab dan memperbanyak istigfar sebagai bentuk penjagaan diri.

Ketiga langkah tersebut sebenarnya merupakan bentuk ikhtiar agar kita tidak menjadi bagian dari dosa ghibah. Langkah pertama dan kedua adalah usaha aktif untuk mengingatkan sesama dengan cara yang santun, sedangkan langkah terakhir menjadi benteng agar diri sendiri tetap terjaga apabila nasihat tidak lagi dihiraukan.

Semua itu tentu membutuhkan latihan dan konsistensi. Menjaga lisan bukan pekerjaan yang selesai dalam sehari, melainkan kebiasaan yang harus terus dipupuk dalam setiap lingkungan dan situasi. Semakin terbiasa berpikir baik kepada orang lain, semakin kecil pula peluang kita terjerumus dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat.

Sebagai seorang Muslim, menjaga kehormatan saudara seiman merupakan bagian dari akhlak mulia. Allah SWT dikenal sebagai Dzat Yang Maha Menutupi aib hamba-Nya. Karena itu, sudah sepatutnya setiap Muslim juga berusaha menjaga kehormatan orang lain, bukan justru membuka kekurangan mereka di hadapan banyak orang.

Pada akhirnya, membiasakan berpikir positif bukan hanya menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis, tetapi juga menjadi jalan untuk menjaga hati, lisan, dan amal saleh agar tetap bernilai di sisi Allah SWT. Semoga kita semua dijauhkan dari ghibah dan diberikan kekuatan untuk senantiasa menjaga lisan dalam setiap keadaan.

Oleh: Redaksi (Parafrasa dari Rubrik Motivasi Dr. M. G. Bagus Kastolani, Psi.)

Facebook Comments
error: Content is protected !!