Penulis : Dr.Moh In’ami, M.Ag.
Nabi Ibrahim as: Ayah Pendidikan Tauhid
Nabi Ibrahim as adalah seorang nabi dan pendidik tauhid yang luar biasa. Beliau hidup di tengah masyarakat penyembah berhala, namun tetap teguh mempertahankan keimanan kepada Allah.
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang menciptakanku; maka sungguh Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Az-Zukhruf: 26–27)
Tauhid yang diajarkan Nabi Ibrahim berawal dari ucapan dan keyakinan yang diperjuangkan dengan pengorbanan.
Beliau rela dibakar, diusir, meninggalkan kampung halaman, bahkan diuji untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya.
Inilah pendidikan tauhid sejati di mana Allah harus lebih dicintai daripada segala sesuatu.
Pendidikan Tauhid Dimulai dari Keluarga
Nabi Ibrahim as mendidik keluarganya dengan iman dan keteladanan. Beliau memberi contoh nyata.
Ketika Allah memerintahkan beliau menyembelih Nabi Ismail as, beliau berdialog dengan anaknya.
Allah berfirman: “Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim memanggil: “Yaa bunayya” —wahai anakku tersayang.
Ini menunjukkan pendidikan Islam dibangun dengan kasih sayang, komunikasi, dan keteladanan.
Lalu bagaimana jawaban Nabi Ismail?
“Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Subhanallah…
Anak yang saleh lahir dari pendidikan tauhid yang benar.
Hari ini banyak orang tua sibuk mencerdaskan anak, tetapi lupa menanamkan iman dan menjaganya. Anak diajari teknologi, tetapi kurang diajari mengenal Allah Ta’ala. Anak diberi fasilitas, tetapi kurang diberi teladan ibadah. Padahal sehebat apa pun dunia yang dimiliki anak, tanpa tauhid hidupnya akan kosong.
Spirit Kurban dan Pendidikan Keikhlasan
Ibadah kurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada harta dan keluarga.
Allah berfirman: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Maka, hakikat kurban, selain menyembelih kambing-domba atau sapi, adalah menyembelih kesombongan, kemaksiatan, egoisme, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Kita ingin melahirkan generasi bertauhid yang mencintai shalat, menghormati orang tua, jujur, menjaga akhlak, dan takut kepada Allah meski tidak diawasi manusia.
Tanggung Jawab Orang Tua
Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Orang tua bertugas memenuhi kebutuhan makan dan pakaian, tetapi juga menjaga akidah anak-anaknya.
Hari ini tantangan generasi muda sangat berat, mulai dari jauhnya hati dari Al-Qur’an, lemahnya adab, media sosial yang merusak, hingga pergaulan bebas.
Karena itu, rumah harus kembali menjadi madrasah tauhid. Orang tua hendaknya membiasakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdoa bersama, dan menghadirkan suasana iman di rumah.
Penutup
Mari jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk memperbaiki pendidikan keluarga kita. Jangan hanya mewariskan harta, tetapi wariskan iman.
Jangan hanya mengejar kesuksesan dunia,
tetapi tanamkan tauhid kepada anak-anak kita.
Semoga Allah menjadikan keluarga kita seperti keluarga Nabi Ibrahim as yaitu keluarga yang taat, sabar, dan penuh keberkahan.ÿ







