Perintah pertama yang sering dirujuk dalam konteks keagamaan dan dianggap mengubah dunia adalah “Bacalah “ atau “Iqra”. Perintah ini merupakan wahyu pertama dalam Al-Qur’an, menekankan pentingnya pengetahuan, literasi, dan pembelajaran sebagai fondasi peradaban manusia.Membaca merupakan sebuah praktik dan kebiasaan yang sangat penting dalam perkembangan intelektual dan social suatu masyarakat.
Salah satu realitas yang tidak bisa dipungkiri adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001% Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara aktif. Sementara itu menurut survei Badan Pusat Statistik ( BPS ) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10 % penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Kondisi itu sangat memprihatinkan, terutama bagi negara dengan mayoritas penduduk muslim. Situasi ini sangat kontras dengan penduduk negara-negara maju seperti Jepang dan Finlandia ( literasi kuat dan system pendidikan inklusif ).
Dalam laporan peringkat literasi membaca Indonesia bervariasi tergantung surveinya, namun umumnya masih rendah, pada PISA( Programme for International Student Assessment ) tahun 2022, Indonesia berada peringkat 71 dari 81 negara, di Asia Tenggara masih di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Brunei Darussalam, dengan sekor literasi membaca 359, jauh di bawah rata-rata dunia. Sementara itu, studi lain menyebut Indonesia peringkat 31 dari 102 negara ( 2024 ) untuk kegemaran membaca, dengan minat baca sangat rendah ( hanya 1 dari 1000 orang rajin membaca).
Keberadaan gawai pintar ( smart Phone ) turut serta menjadi tantangan tersendiri, karena seringkali lebih banyak mendorong generasi muda tuk bermain game ketimbang membaca. Lebih banyak bermain media social dari pada menelaah buku-buku maupun kitab suci Al -Qur’an sebagai rujukan berbagai ilmu pengetahuan di dunia. Sehingga budaya membaca, menulis, menelaah, dan budaya literasi lainya hilang seiring dengan menjamurnya gawai pintar ( smart Phone).
Jika kita kembali kepada paradigm yang dibangun oleh wahyu Ilahi, maka wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, adalah perintah membaca pertama dalam Al-Qur’an adalah “ Iqra’ ( اقرأ ) “ yang berarti bacalah, berasal dari wahyu pertama ( Surat Al- ‘Alaq Ayat 1. اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق .Bacalah ( wahai Muhammad ) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk ). (Q.S Al-Alaq 96 :1).
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa membaca bukan hanya teks, tapi juga membaca alam semesta, diri sendiri, dan tanda-tanda kebesaran Tuhan sebagai kunci pengetahuan, peradaban dan keimanan yang kokoh. Perintah ini menjadi fondasi literasi Islam, yang mendorong umat untuk memahami, merenung, dan belajar sepanjang hayat, bukan sekedar menghafal atau membaca tanpa makna. Perintah dari Allah kepada rasul-Nya bukanlah shalat ataupun zakat, melainkan membaca , sebuah perintah untuk membuka wawasan dan kesadaran intelektual. Ironisnya, umat Islam justru mengalami kegersangan budaya ilmu.
Makna “ Iqra “ Lebuh Dalam
- Bukan Hanya teks tertulis: Jibril tidak membawa naskah, artinya “ Iqra” melampau membaca buku, ini adalah perintah membaca fenomena alam, social, sejarah, dan diri sendiri
- Sumber Ilmu dan Peradaban: Membaca adalah jalan dari tidak tahu menjadi tahu, menjadi sumber pengetahuan untuk membangun peradaban dan umat yang berilmu.
- Membaca dengan Hati :Memahami makna. Merenungkan, dan mengamalkan, bukan sekedar membaca tanpa penghayatan atau hanya judul.
Penerapan Prinsip “Iqra” dalam Kehidupan
- Literasi Digital :Sebelum menyebar informasi, teliti sumbernya ( Verifikasi ), baca dengan hati, dan sebarkan yang bermanfaat.
- Membangun Peradaban:Jadikan ilmu bekal hidup, bukan hanya hiasan, agar iman tidak kosong dari pengetahuan dan akal tidak berjalan tanpa cahaya wahyu
- Kunci Kebangkitan :Mengembalikan semangat “ Iqra “ adalah seruan untuk bangkit dan hidup bermakna dengan berpikir jernih dan mengabdi pada kebenaran.
Iqra’ adalah titah awal yang menjadi fondasi dari seluruh rangkaian wahyu, dan memiliki daya transformasi luar biasa , ia mengubah cara pandang, jiwa, dan akal masyarakat Arab dan selanjutnya menginspirasi dunia. Tidak dapat dipungkiri, kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan tehnologi Barat pun tidak lepasi sumbang sih peradaban Islam. Pada masa Dinasti Abbasiyah menjadi lumbung ilmu pengetahuan dunia. Disana berlangsung kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, pengembangan ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dll. Barat banyak beruntung pada peradaban Islam dalam hal pengembangan Ilmu.
Iqra’ menawarkan fondasi epistemic yang kokoh. Ia bukan hanya identitas keilmuan seorang Muslim. Melainkan juga sumber inspirasi yang tak akan pernah kering oleh waktu atau zaman. Karena Iqra’adalah titah Ilahi dari pemilik kehidupan dunia dan akhirat.
Penulis: Mufawazah, S.Ag Guru MI Muh. Bae







