Mujadalah Bil Hikmah Wal Mau’idzatil Hasanah: Etika Berdialog dan Berdakwah di Era Media Sosial

8

Di era media sosial, ruang diskusi keagamaan semakin terbuka. Berbagai platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, hingga podcast menghadirkan banyak perbincangan tentang Islam, perbandingan agama, hingga debat lintas keyakinan. Sayangnya, tidak sedikit diskusi yang semula bertujuan mencari kebenaran justru berubah menjadi ajang saling menyerang, menghina, dan mempermalukan pihak lain.

Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi dakwah Islam di era digital. Ketika perbedaan pandangan disampaikan tanpa adab, yang muncul bukan lagi pencerahan, melainkan permusuhan. Karena itu, ajaran Islam memberikan pedoman yang sangat penting: mujadalah bil hikmah wal mau’idzatil hasanah—berdialog dengan hikmah, kebijaksanaan, dan nasihat yang baik.

Ketika Diskusi Berubah Menjadi Hujatan

Media sosial memiliki kelebihan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, ia memudahkan penyebaran ilmu, memperluas akses terhadap kajian keislaman, dan membuka ruang dialog antarumat beragama. Di sisi lain, media sosial sering mendorong komunikasi yang singkat, emosional, dan reaktif.

Banyak perdebatan agama di internet berakhir dengan caci maki, ujaran kebencian, pelabelan, bahkan pelaporan hukum. Algoritma media sosial sering kali lebih menyukai konten yang memancing emosi daripada konten yang mendidik. Akibatnya, sebagian orang lebih terdorong untuk memenangkan perdebatan daripada membangun pemahaman. Padahal, tujuan dakwah bukanlah mempermalukan orang lain, melainkan mengajak manusia kepada jalan Allah dengan cara yang paling baik.

Siapa Itu Apologet Muslim?

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia mengenal istilah apologet Muslim. Secara sederhana, apologet adalah seseorang yang menjelaskan, mempertahankan, dan memberikan argumentasi atas ajaran agamanya ketika berhadapan dengan kritik atau pertanyaan dari pihak lain.

Fenomena ini semakin terlihat melalui berbagai kanal YouTube, podcast, dan forum diskusi lintas agama. Sebagian apologet berasal dari kalangan mualaf, sebagian lainnya adalah dai, ustaz, akademisi, atau individu yang secara mandiri mempelajari perbandingan agama.

Muncul pula kajian yang dikenal sebagai Kristologi, yaitu studi mengenai ajaran Kristen yang dilakukan oleh sebagian kalangan Muslim untuk memahami perbedaan keyakinan secara lebih mendalam. Kajian semacam ini pada dasarnya bukan hal baru dalam tradisi intelektual Islam, karena para ulama sejak dahulu juga mempelajari berbagai agama dan pemikiran lain sebagai bagian dari upaya memahami dan menjelaskan ajaran Islam.

Perdebatan Boleh, Tetapi Harus Beradab

Islam tidak melarang dialog atau debat. Al-Qur’an justru mengajarkan agar perdebatan dilakukan dengan cara yang paling baik (billati hiya ahsan). Artinya, argumentasi boleh disampaikan, kritik boleh diberikan, dan perbedaan boleh dibahas, tetapi semua itu harus dilakukan dengan etika.

Perdebatan yang sehat memiliki beberapa ciri: menghormati lawan bicara, menggunakan argumentasi yang jelas, tidak memotong konteks, tidak memelintir fakta, dan tidak menjadikan penghinaan sebagai senjata. Sayangnya, di ruang digital sering kali yang terjadi adalah sebaliknya. Potongan video, cuplikan singkat, atau komentar emosional lebih mudah viral daripada penjelasan yang utuh. Akibatnya, masyarakat sering memperoleh kesimpulan yang tidak lengkap.

Dakwah Membutuhkan Hikmah

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”

Ayat ini menjadi landasan penting bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan (hikmah), kelembutan (mau’idzah hasanah), dan dialog yang santun (mujadalah billati hiya ahsan).

Hikmah berarti kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam berdakwah, hikmah tampak dalam cara memilih kata, memahami kondisi lawan bicara, menghindari provokasi, dan menjaga tujuan dakwah agar tetap mengarah pada kebaikan.

Seseorang mungkin memiliki argumentasi yang sangat kuat, tetapi jika disampaikan dengan kasar, merendahkan, atau penuh kemarahan, maka pesan yang benar bisa kehilangan daya sentuhnya.

Belajar dari Tradisi Muhammadiyah

Sejarah Muhammadiyah memberikan banyak teladan tentang bagaimana berdialog dengan cara yang cerdas dan beradab. KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai ulama yang memiliki keberanian intelektual sekaligus keluasan wawasan. Beliau tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memahami pemikiran dan tradisi agama lain.

Beberapa murid dan tokoh Muhammadiyah generasi awal bahkan mendalami kajian perbandingan agama secara serius. Tujuannya bukan untuk menciptakan permusuhan, melainkan memperkuat pemahaman umat dan membentengi akidah melalui ilmu pengetahuan. Tradisi ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah menghargai argumentasi yang berbasis ilmu, bukan sekadar retorika atau sensasi.

Membangun Dialog yang Mencerahkan

Indonesia adalah negara yang majemuk. Umat Islam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, hubungan antarumat beragama harus dibangun di atas dasar saling menghormati, menaati hukum, dan menjaga persatuan bangsa.

Dialog lintas agama memiliki manfaat besar apabila dilakukan dengan tujuan saling memahami, bukan saling mengalahkan. Forum diskusi dapat menjadi ruang belajar, pertukaran gagasan, dan penguatan toleransi.

Sebaliknya, jika perdebatan dilakukan dengan niat mempermalukan, menghina, atau memprovokasi, maka yang lahir adalah polarisasi sosial dan keretakan hubungan antarwarga.

Menjadi Muslim yang Cerdas dan Santun

Di tengah derasnya arus informasi digital, setiap Muslim perlu membekali diri dengan ilmu sekaligus akhlak. Sebelum membagikan video debat, mengomentari perbedaan agama, atau ikut dalam perbincangan yang sensitif, ada baiknya kita bertanya: apakah yang kita lakukan mendekatkan orang kepada kebenaran, atau justru memperkeruh suasana?

Mujadalah bil hikmah bukan berarti menghindari perbedaan. Ia justru mengajarkan bagaimana menghadapi perbedaan dengan kebijaksanaan. Islam menghargai argumentasi, tetapi lebih menghargai adab. Islam mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi juga menuntun umatnya agar melakukannya dengan kelembutan dan kasih sayang.

Pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menghadirkan hidayah, kedamaian, dan kemaslahatan bagi sesama. Di era media sosial, etika komunikasi menjadi bagian penting dari ibadah, dan hikmah tetap menjadi jalan terbaik dalam berdialog serta berdakwah.

Facebook Comments
Exit mobile version