Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026

1
Oleh: Tunjung Eko Wibowo
Penghujung tahun 2025 bukan sekadar pergantian kalender bagi Muhammadiyah,
melainkan sebuah momentum "muhasabah" (evaluasi diri) yang mendalam. Di
tengah dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan domestik yang
kompleks, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini terus berupaya
mengaktualisasikan semangat Islam Berkemajuan dalam setiap gerak langkahnya.
Tahun ini menjadi saksi bagaimana Muhammadiyah bertransformasi dari gerakan
konvensional menuju organisasi berbasis data, sembari tetap menjaga akar
tunggangnya pada kemanusiaan dan kesejahteraan umat.
Di penghujung tahun yang tidak sedang baik-baik saja. Gejolak iklim yang memicu
bencana di berbagai penjuru tanah air, disrupsi teknologi yang mengancam
lapangan kerja konvensional. Hingga isu ketimpangan ekonomi yang kian lebar
menjadi tajuk utama. Di tengah badai ini, Muhammadiyah sebagai salah satu
jangkar terbesar masyarakat sipil Indonesia yang berdiri di persimpangan jalan yang
krusial.
Muhammadiyah bukan sekadar periode administratif, melainkan tahun "Ijtihad
Transformasi". Dari ruang-ruang rapat muncul sebuah kesadaran baru, bahwa Islam
Berkemajuan tidak boleh hanya berhenti di podium pidato. Ia harus mendarat di
aplikasi ponsel pintar, di kesejahteraan para guru honorer, hingga di etika penggalian
lubang tambang.
Islam Berkemajuan Sebagai Kompas di Tengah Disrupsi
Islam Berkemajuan bukanlah slogan statis, melainkan sebuah ijtihad peradaban.
Muhammadiyah memandang bahwa di tahun 2025, tantangan umat Islam tidak lagi
sekadar pada persoalan ubudiyah, tetapi pada sejauh mana nilai-nilai agama
mampu menjawab krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan disrupsi teknologi.
Refleksi tahun ini menegaskan bahwa menjadi "berkemajuan" berarti berani keluar
dari zona nyaman. Muhammadiyah tidak hanya bicara tentang sejarah kebesaran
masa lalu, tetapi aktif memproduksi solusi nyata. Pandangan Islam Berkemajuan di
2025 diwujudkan melalui penguatan literasi publik dan moderasi beragama yang
tidak lagi bersifat defensif, melainkan proaktif dalam membangun dialog
antarkelompok.
Lompatan Digital Menuju Ekosistem Cerdas
Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah dengan diluncurkannya platform SatuMu (Satu
Muhammadiyah). Ini sebagai langkah berani dalam penataan organisasi menuju
digitalisasi total. Selama ini data Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar
di ribuan titik sering kali mengalami fragmentasi.
Dengan digitalisasi, Muhammadiyah kini mulai mengintegrasikan sistem
administrasi, keuangan, hingga manajemen kader dalam satu ekosistem digital.
Penataan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk transparansi dan
akuntabilitas publik. Ke depan, digitalisasi ini diharapkan mampu memangkas
birokrasi internal yang kaku, sehingga keputusan-keputusan strategis organisasi
dapat diambil berdasarkan basis data (data driven) yang akurat.
Dengan sistem digital yang terintegrasi, Muhammadiyah sedang membangun
transparansi. Tidak boleh lagi ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang merasa
sebagai "kerajaan kecil" yang tertutup. Digitalisasi adalah jalan pedang
Muhammadiyah untuk memastikan bahwa setiap rupiah dana umat dikelola dengan
akuntabilitas tinggi yang bisa dipantau secara presisi.
Kesejahteraan Pegawai Kala Menatap 2026 dengan Rasa Optimisme
Salah satu isu yang paling sensitif namun esensial dalam refleksi 2025 adalah
kesejahteraan Sumber Daya Insani (SDI). Tidak dapat dipungkiri, terdapat
kesenjangan antara AUM yang sudah mapan (profit-oriented) dengan unit-unit
dakwah di akar rumput yang masih berjuang secara finansial.
Harapan besar diletakkan pada tahun 2026. Muhammadiyah sedang merancang
skema Manajemen Terpusat yang lebih berkeadilan. Fokusnya adalah
meningkatkan kesejahteraan guru-guru di sekolah dasar terpencil, perawat di klinik
kecil, serta karyawan anak usaha Muhammadiyah agar memiliki standar pendapatan
yang layak dan jaminan sosial yang lebih baik. Prinsipnya jelas: Muhammadiyah
tidak boleh menjadi organisasi yang kaya secara aset, namun membiarkan para
penggeraknya hidup dalam kekurangan. Kesejahteraan pegawai adalah prasyarat
mutlak bagi keberlanjutan dakwah.
Salah satu kritik yang paling jujur dalam refleksi tahun ini adalah tentang
kesejahteraan. Kita sering terpukau dengan megahnya gedung universitas atau
rumah sakit Muhammadiyah di kota besar, namun terkadang lupa pada guru-guru di
sekolah dasar pinggiran atau karyawan di unit usaha kecil.
Target besar di tahun 2026 adalah Standarisasi Kesejahteraan Pegawai.
Muhammadiyah sedang merumuskan skema subsidi silang antar AUM. Harapannya
surplus dari AUM besar dapat menyangga kesejahteraan pegawai di unit usaha
yang masih merangkak. Ini adalah ujian moral di organisasi ini. Mampukah
Muhammadiyah menyejahterakan orang-orang di dalamnya sebelum bicara
menyejahterakan umat secara luas? 2026 harus menjadi tahun di mana para
pengabdi di Muhammadiyah merasa bahwa organisasi ini adalah "rumah" yang tidak
hanya memberi berkah ukhrawi, tapi juga martabat finansial yang layak.
Evaluasi Konsesi Tambang dan Jihad Lingkungan
Tahun 2025 juga diwarnai dengan polemik keputusan Muhammadiyah menerima
konsesi tambang. Secara internal dan eksternal, evaluasi terus dilakukan dengan
ketat. Muhammadiyah menyadari bahwa masuk ke industri ekstraktif adalah pisau
bermata dua.
Di satu sisi, ini adalah ikhtiar kemandirian ekonomi organisasi. Namun di sisi lain,
taruhan moralnya sangat tinggi. Muhammadiyah berkomitmen untuk menerapkan
Green Mining atau pertambangan yang berwawasan lingkungan. Evaluasi akhir
tahun menekankan bahwa jika pengelolaan tambang ini tidak mampu memberikan
manfaat bagi masyarakat sekitar atau justru merusak ekologi, maka Muhammadiyah
harus berani mengambil langkah mundur demi marwah organisasi. Muhammadiyah
tidak ingin "jihad ekonomi" ini mencederai "jihad lingkungan" yang selama ini
disuarakan.
Muhammadiyah kini berada di bawah mikroskop publik. Muhammadiyah harus
membuktikan bahwa mereka bisa melakukan apa yang gagal dilakukan banyak
korporasi, yaitu pertambangan yang tidak meninggalkan luka pada bumi. Evaluasi
ketat sedang berjalan. Jika konsesi tambang ini justru memperparah bencana atau
meminggirkan masyarakat lokal, Muhammadiyah harus memiliki keberanian moral
untuk mengevaluasi total keberadaannya di sektor tersebut. Islam Berkemajuan
adalah Islam yang menjaga pohon tetap berdiri dan sungai tetap jernih.
Dan alangkah baiknya jika memang Muhammadiyah tidak ada kompetensi dalam
bidang pertambangan, alangkah lebih baik mengembalikan konsesi tambang tsb
pada pemerintah. Jangan sampai konsesi tambang yang diterima, justru menjadi
sebuah pembungkaman terhadap eksistensi Muhammadiyah.
Resiliensi Menghapi Bencana
Seiring dengan isu lingkungan, serangkaian bencana alam yang melanda Indonesia
di penghujung 2025, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor menjadi
pengingat keras bahwa resiliensi harus menjadi prioritas. Dalam pandangan
Muhammadiyah, kebencanaan bukan sekadar peristiwa alam atau takdir semata,
melainkan sebuah panggilan iman untuk melakukan "Jihad Kemanusiaan" yang
terukur.
Pencegahan bencana dimulai dari meja-meja kajian dan kurikulum pendidikan
melalui konsep Eco-Theology. Muhammadiyah meyakini bahwa menjaga ekosistem
adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah, sehingga ke depan setiap pembangunan
AUM wajib melalui audit ekologi yang ketat untuk memastikan infrastruktur kita
menjadi benteng penyelamat, bukan perangkap nyawa.
Upaya meminimalisir korban jiwa juga diwujudkan melalui transformasi MDMC
(Muhammadiyah Disaster Management Center) menuju versi yang lebih profesional
dengan spesialisasi keahlian tinggi. Melalui gerakan "Satu Masjid, Satu Regu
Tangguh", Muhammadiyah memproyeksikan lahirnya tim-tim kecil di tingkat ranting
yang mampu melakukan evakuasi mandiri dalam "Golden Time" 15 menit pertama
yang krusial. Didukung oleh integrasi teknologi peringatan dini dalam aplikasi
SatuMu, informasi ancaman bencana kini dapat tersampaikan secara real-time ke
genggaman para kader, memungkinkan tindakan mitigasi diambil lebih awal sebelum
bencana mencapai puncaknya.
Namun, refleksi 2025 menggeser paradigma dari sekadar "tanggap darurat" menuju
"resiliensi berkelanjutan". Muhammadiyah mendorong mitigasi bencana berbasis
komunitas. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah Muhammadiyah disiapkan menjadi
titik evakuasi yang mandiri. Penanganan bencana bukan lagi soal memberikan
sembako, melainkan bagaimana membangun kembali mental dan ekonomi
masyarakat pascabencana agar tidak jatuh ke dalam kemiskinan permanen.
Jembatan Budaya dengan Merangkul Muallaf dan Pluralitas
Muhammadiyah terus memantapkan perannya sebagai jembatan budaya. Melalui
Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), perhatian terhadap kaum muallaf ditingkatkan.
Dakwah bagi muallaf tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga
pendampingan sosial dan ekonomi.
Di wilayah-wilayah dengan basis budaya yang kuat, Muhammadiyah memilih jalan
"Dakwah Kultural". Menghargai tradisi lokal tanpa harus kehilangan jati diri tauhid.
Muhammadiyah hadir sebagai peneduh, merangkul mereka yang baru mengenal
Islam dengan wajah yang ramah, bukan marah. Ini adalah manifestasi dari rahmatan
lil 'alamin—menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk bagi kelompok-kelompok
minoritas dan marginal.
Menatap 2026
Menyongsong tahun 2026, Muhammadiyah memikul tanggung jawab besar untuk
membuktikan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar teori di atas kertas.
Penataan digital yang kuat, kesejahteraan pegawai yang terjamin, pengelolaan
sumber daya alam yang etis, serta ketangguhan dalam menghadapi bencana adalah
indikator keberhasilan yang akan terus diperjuangkan.
Muhammadiyah akan terus bergerak, melintasi zaman, sembari memastikan tidak
ada satu pun warga bangsa yang tertinggal dalam gerbong kesejahteraan. Karena
pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari megahnya gedung
yang dibangun, melainkan dari seberapa banyak air mata yang mampu diusap dan
seberapa banyak martabat manusia yang mampu diangkat.
Facebook Comments