<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Arsip - Muhammadiyah Kudus</title>
	<atom:link href="https://www.kudusmu.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.kudusmu.id/category/artikel/</link>
	<description>Gerakan Islam Berkemajuan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 May 2026 05:51:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2025/10/cropped-icon-muhorid-1-150x150.jpg</url>
	<title>Artikel Arsip - Muhammadiyah Kudus</title>
	<link>https://www.kudusmu.id/category/artikel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hilman Latief dan Dugaan Framing Jahat Kriminalisasi Tokoh Muhammadiyah</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/framing-jahat-kriminalisasi-hilman-latief/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 May 2026 05:51:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6967</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Iwan Setiawan, Alumni HI UMY, Aktivis Mapala Nama Hilman Latief belakangan ikut diseret dalam pusaran polemik kuota haji. Padahal hingga hari ini posisi hukumnya masih sebagai saksi dan belum pernah dinyatakan sebagai tersangka oleh aparat penegak hukum. Namun di ruang publik, narasi yang dibangun sebagian pihak sudah mengarah pada pembentukan opini bahwa Hilman seolah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/framing-jahat-kriminalisasi-hilman-latief/">Hilman Latief dan Dugaan Framing Jahat Kriminalisasi Tokoh Muhammadiyah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h5><em>Oleh: Iwan Setiawan, Alumni HI UMY, Aktivis Mapala</em></h5>
<div></div>
<div>Nama Hilman Latief belakangan ikut diseret dalam pusaran polemik kuota haji. Padahal hingga hari ini posisi hukumnya masih sebagai saksi dan belum pernah dinyatakan sebagai tersangka oleh aparat penegak hukum. Namun di ruang publik, narasi yang dibangun sebagian pihak sudah mengarah pada pembentukan opini bahwa Hilman seolah menjadi aktor utama dalam dugaan persoalan tersebut. Inilah yang patut dikritisi secara serius sebagai bentuk framing jahat dan berpotensi menjadi kriminalisasi karakter terhadap seorang tokoh Muhammadiyah.</div>
<div></div>
<div>Bangsa ini harus belajar membedakan antara proses hukum dengan operasi pembentukan persepsi publik. Dalam negara hukum, seseorang tidak dapat dihakimi hanya karena namanya disebut dalam suatu perkara. Asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah adalah prinsip fundamental yang dijamin dalam sistem hukum Indonesia. Bahkan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menegaskan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.</div>
<div></div>
<div>Karena itu, ketika Hilman Latief masih berstatus saksi namun sudah dibangun narasi negatif secara sistematis, maka publik patut mempertanyakan: apakah ini murni proses hukum, atau ada agenda lain yang sedang dimainkan?</div>
<div></div>
<div>Harus diakui, posisi Hilman bukan sekadar birokrat biasa. Ia adalah intelektual muslim, akademisi, sekaligus Bendahara Umum PP Muhammadiyah yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial-keagamaan Indonesia. Dalam konteks politik nasional, menyerang figur Muhammadiyah tentu memiliki efek psikologis dan politis yang luas. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika muncul dugaan bahwa ada pihak tertentu yang sedang berupaya melemahkan simbol dan figur Muhammadiyah melalui pembentukan opini negatif terhadap Hilman Latief.</div>
<div></div>
<div>Pola seperti ini bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Karakter assassination atau pembunuhan karakter sering dilakukan dengan memanfaatkan isu hukum untuk menghancurkan kredibilitas seseorang sebelum pengadilan membuktikan apa pun. Publik digiring untuk percaya lebih dulu bahwa seseorang bersalah, lalu tekanan sosial dibangun sedemikian rupa agar reputasinya runtuh. Ketika opini telanjur terbentuk, proses klarifikasi menjadi jauh lebih sulit.</div>
<div></div>
<div>Padahal selama menjabat di Kementerian Agama, Hilman Latief dikenal sebagai pejabat yang komunikatif, akademis, sederhana dan  terbuka terhadap kritik. Tidak ada rekam jejak yang menunjukkan dirinya sebagai sosok yang hidup bermewah-mewahan atau memiliki gaya hidup koruptif. Bahkan dalam berbagai kesempatan, ia justru tampil sebagai representasi kalangan intelektual muslim moderat yang mendorong transparansi pelayanan haji.</div>
<div></div>
<div>Dalam konteks hukum pidana, tuduhan terhadap seseorang tidak bisa dibangun atas dasar asumsi atau konstruksi opini. Pasal 184 KUHAP secara jelas mengatur bahwa alat bukti yang sah terdiri dari keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Artinya, pembentukan kesimpulan hukum harus berbasis fakta dan alat bukti, bukan tekanan media sosial atau propaganda politik.</div>
<div></div>
<div>Selain itu, Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 juga menegaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil. Ketika seseorang yang masih berstatus saksi diposisikan secara publik seolah-olah sudah bersalah, maka hak konstitusionalnya sesungguhnya sedang terancam.</div>
<div></div>
<div>Di sinilah pentingnya publik memahami potensi adanya operasi framing. Dalam ilmu komunikasi politik, framing dilakukan dengan memilih sudut tertentu agar publik menggiring persepsi sesuai kepentingan tertentu. Nama seseorang terus diulang, dikaitkan, dan ditempelkan pada isu tertentu hingga publik secara psikologis menganggap hubungan itu sebagai kebenaran mutlak. Teknik ini sering digunakan dalam perang politik modern.</div>
<div></div>
<div>Apalagi Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi besar yang memiliki independensi moral dan kekuatan sosial yang sangat luas. Tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan posisi strategis Muhammadiyah dalam mengawal isu kebangsaan, pendidikan, kesehatan, hingga kritik sosial terhadap kekuasaan. Karena itu, menyerang salah satu elite Muhammadiyah dapat dibaca sebagai upaya melemahkan legitimasi moral organisasi tersebut.</div>
<div></div>
<div>Lebih jauh lagi, publik juga harus jujur melihat bahwa isu haji adalah isu yang sangat sensitif. Kuota haji menyangkut kepentingan jutaan umat Islam Indonesia. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah membangun kemarahan publik dengan mencari figur tertentu untuk dijadikan sasaran. Di sinilah risiko trial by public opinion menjadi sangat besar.</div>
<div></div>
<div>Padahal, apabila benar ada dugaan pelanggaran, biarkan aparat penegak hukum bekerja secara objektif dan profesional. Jangan sampai hukum dijadikan alat permainan opini. Jangan pula ada upaya memanfaatkan momentum untuk menghantam kelompok tertentu melalui tokoh yang mereka miliki.</div>
<div></div>
<div>Hilman Latief sendiri selama ini bersikap kooperatif dalam memenuhi panggilan dan memberikan keterangan. Sikap kooperatif tersebut seharusnya menjadi indikator bahwa ia menghormati proses hukum. Orang yang menghormati proses hukum semestinya diberi ruang mendapatkan perlindungan asas keadilan, bukan justru dihukum melalui opini liar sebelum pengadilan berbicara.</div>
<div></div>
<div>Dalam negara demokrasi, kritik terhadap kebijakan publik memang sah. Pengawasan terhadap tata kelola haji juga penting. Akan tetapi, pengawasan tidak boleh berubah menjadi penghakiman membabi buta. Demokrasi tanpa penghormatan terhadap asas hukum hanya akan melahirkan anarki opini.</div>
<div></div>
<div>Bangsa ini harus berhati-hati terhadap budaya kriminalisasi karakter. Hari ini yang disasar Hilman Latief, besok bisa siapa saja. Ketika opini lebih dipercaya dibanding fakta hukum, maka yang runtuh bukan hanya nama seseorang, melainkan fondasi negara hukum itu sendiri.</div>
<div></div>
<div>Karena itu, publik harus objektif. Hormati proses hukum, hindari fitnah, dan hentikan framing jahat yang berpotensi menjadi kriminalisasi terhadap Hilman Latief. Jangan biarkan ruang demokrasi dipenuhi propaganda yang merusak akal sehat dan keadilan.</div>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/framing-jahat-kriminalisasi-hilman-latief/">Hilman Latief dan Dugaan Framing Jahat Kriminalisasi Tokoh Muhammadiyah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ruh Berkemajuan di Tengah Algoritma: Relevansi Muhammadiyah di Era Society 5.0</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/ruh-berkemajuan-di-tengah-algoritma-relevansi-muhammadiyah-di-era-society-5-0/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2026 01:47:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6933</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Ghefira Zhahira Shofi Ketika Mesin Mulai Berpikir, Manusia Mulai Bertanya Bayangkan sebuah pagi di tahun 2030. Seorang anak bangun tidur, lalu asisten kecerdasan buatannya langsung menyapa dengan jadwal harian, rekomendasi sarapan berdasarkan data kesehatannya, hingga ringkasan berita yang disesuaikan dengan minatnya. Sebelum kakinya menyentuh lantai, ratusan algoritma sudah bekerja untuknya. Inilah wajah Society [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/ruh-berkemajuan-di-tengah-algoritma-relevansi-muhammadiyah-di-era-society-5-0/">Ruh Berkemajuan di Tengah Algoritma: Relevansi Muhammadiyah di Era Society 5.0</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>Oleh : Ghefira Zhahira Shofi</h3>
<p><strong><b>Ketika Mesin Mulai Berpikir, Manusia Mulai Bertanya</b></strong></p>
<p>Bayangkan sebuah pagi di tahun 2030. Seorang anak bangun tidur, lalu asisten kecerdasan buatannya langsung menyapa dengan jadwal harian, rekomendasi sarapan berdasarkan data kesehatannya, hingga ringkasan berita yang disesuaikan dengan minatnya. Sebelum kakinya menyentuh lantai, ratusan algoritma sudah bekerja untuknya. Inilah wajah Society 5.0 sebuah peradaban baru di mana teknologi dan manusia tidak lagi berjalan beriringan, melainkan menyatu dalam satu napas kehidupan.</p>
<p>Namun di balik kemewahan digital itu, ada pertanyaan yang diam-diam menghantui: jika mesin sudah bisa berpikir, apa yang tersisa untuk manusia? Jika algoritma bisa memprediksi pilihan kita, di mana letak kebebasan dan nilai kemanusiaan kita? Dan di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar muncul di tengah banjir data dan dominasi algoritma, di mana posisi gerakan Islam berkemajuan seperti Muhammadiyah?</p>
<p>Pertanyaan itu bukan retorika. Ia adalah tantangan nyata yang menuntut jawaban konkret dari sebuah organisasi yang telah lebih dari satu abad menjadi tulang punggung Islam Indonesia.</p>
<p><strong><b>Society 5.0: Lebih dari Sekadar Teknologi Canggih</b></strong></p>
<p>Istilah Society 5.0 pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2016 sebagai respons atas perkembangan revolusi industri keempat. Namun Society 5.0 bukan sekadar lanjutan dari Industry 4.0 yang berfokus pada otomatisasi dan efisiensi mesin. Jika Industry 4.0 menempatkan teknologi sebagai tujuan, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk melayani dan meningkatkan kualitas hidupnya.</p>
<p>Secara sederhana, Society 5.0 adalah masyarakat yang mengintegrasikan ruang fisik dan ruang siber secara harmonis demi kesejahteraan manusia. Kecerdasan buatan, Internet of Things, big data, dan robotika tidak lagi hanya milik industri besar ia masuk ke rumah sakit pelosok, kelas-kelas sekolah desa, hingga ladang pertanian.</p>
<p>Namun perjalanan menuju utopia digital itu tidak sepenuhnya mulus. Ada ancaman yang mengintai: dehumanisasi akibat serba-otomatis, kesenjangan digital antara yang mampu dan tidak mampu mengakses teknologi, serta yang paling berbahaya krisis identitas. Ketika manusia terlalu sibuk berinteraksi dengan layar, ia mulai kehilangan kemampuan berempati, merenung, dan bertanya tentang tujuan hidupnya. Teknologi semakin canggih, namun ironisnya, semakin banyak manusia yang merasa kesepian.</p>
<p><strong><b>Muhammadiyah: Organisasi yang Lahir dari Disrupsi</b></strong></p>
<p>Bagi sebagian orang, mungkin terasa aneh menyebut nama Muhammadiyah dalam percakapan tentang kecerdasan buatan dan Society 5.0. Namun justru di sinilah letak kesalahpahaman itu. Muhammadiyah bukan organisasi yang alergi terhadap perubahan ia justru lahir dari rahim disrupsi.</p>
<p>Tahun 1912, ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Indonesia sedang berada dalam cengkeraman kolonialisme yang mematikan. Umat Islam terjebak dalam kejumudan berpikir, pendidikan yang dikuasai oleh penjajah, dan kemiskinan merajalela. Di tengah kondisi itulah Muhammadiyah hadir bukan sekadar sebagai organisasi pengajian, melainkan sebagai gerakan pembaruan yang mendirikan sekolah modern, rumah sakit, panti asuhan, dan sistem organisasi yang rapi ke tengah masyarakat.</p>
<p>Kunci dari keberanian itu adalah prinsip tajdid pembaruan yang terus-menerus. Tajdid bukan berarti membuang tradisi yang telah ada, melainkan menafsirkan ulang nilai-nilai Islam agar tetap relevan dengan konteks zaman yang ada. Lebih dari satu abad berlalu, dan Muhammadiyah tetap berdiri kokoh bukan karena ia anti-perubahan, melainkan justru karena ia selalu lebih dulu bergerak menyambut perubahan yang datang.</p>
<p>Jika dulu Muhammadiyah berani mengganti model pendidikan pesantren konvensional dengan sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, maka pertanyaannya sekarang adalah: apakah Muhammadiyah siap melakukan lompatan serupa di era Society 5.0?</p>
<p><strong><b>Di Persimpangan Algoritma: Peluang dan Tantangan</b></strong></p>
<p>Era Society 5.0 sesungguhnya membuka peluang luar biasa bagi Muhammadiyah. Dakwah yang dulu terbatas oleh jarak geografis, kini bisa menjangkau jutaan manusia melalui konten digital, podcast kajian, hingga kelas online. Lembaga pendidikan Muhammadiyah yang jumlahnya ada ribuan di seluruh Indonesia, memiliki modal besar untuk mengadopsi teknologi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang membuat proses belajar lebih personal dan efektif. Filantropi Islam pun bisa dikelola lebih transparan dan efisien melalui platform digital zakat, infak, dan wakaf.</p>
<p>Namun peluang itu datang bersama ancaman yang tidak bisa diremehkan. Radikalisme digital tumbuh subur di ekosistem media sosial yang algoritmanya cenderung memperkuat pandangan ekstrem. Konten kekerasan dan kebencian bisa viral dalam hitungan menit saja, jauh melampaui kecepatan dakwah moderat yang membutuhkan kedalaman dan kepercayaan. Di sisi lain, budaya scrolling yang serba instan telah menggerus kemampuan berpikir secara mendalam pada generasi muda, mereka lebih tertarik dan terbiasa mengonsumsi konten 30 detik daripada membaca kitab atau menghadiri kajian yang berjam-jam.</p>
<p>Yang paling mengkhawatirkan adalah ancaman tercerabutnya identitas. Di tengah arus globalisasi digital yang homogen, nilai-nilai lokal dan keislaman perlahan terkikis. Anak-anak muda Muhammadiyah bisa jadi lebih hafal lagu pop barat daripada hafal Al-Quran, lebih akrab dengan influencer asing daripada dengan tokoh-tokoh teladan Islam.</p>
<p>Namun sikap Muhammadiyah dalam menghadapi ini bukan dengan menutup diri. Muhammadiyah tidak anti-teknologi ia hanya perlu memastikan bahwa teknologi adalah alat bagi manusia untuk membantu meringankan sesuatu, bukan menjadi tuan yang memperbudak.</p>
<p><strong><b>Muhammadiyah sebagai Arsitek Peradaban Digital</b></strong></p>
<p>Lalu, apa yang konkret bisa dilakukan Muhammadiyah di era Society 5.0? ada tiga peran yang menjadi sebuah gagasan.</p>
<p>Pertama, Muhammadiyah perlu hadir sebagai moral compass kompas moral di tengah kebisingan informasi yang tersebar dengan mudah. Di era di mana hoaks beredar lebih cepat dari fakta, dan di mana opini dibentuk oleh algoritma yang tidak netral, masyarakat membutuhkan institusi yang bisa dipercaya sebagai penyaring nilai. Muhammadiyah dengan jaringannya yang luas, tokoh-tokohnya yang berintegritas, dan tradisi kajian yang mendalam, memiliki modal untuk mengambil peran ini dengan serius, sehingga dakwah Muhammadiyah dilakukan bukan hanya di masjid saja, tetapi juga di ruang digital.</p>
<p>Kedua, Muhammadiyah perlu aktif membangun ekosistem digital yang beretika dan berkeadaban. Ini bukan sekadar membuat akun media sosial atau website, melainkan membangun platform, komunitas, dan budaya online yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, ketika membuat akun media sosial atau website perlu untuk mencantumkan nama Muhammadiyah agar reputasi digital Muhammadiyah semakin baik dan dikenal. Bayangkan jika Muhammadiyah punya platform pendidikan digital kelas dunia, media Islam yang jurnalistik dan terpercaya, atau marketplace ekonomi syariah yang menggunakan teknologi blockchain semua itu bukan mimpi jika ada kemauan dan sumber daya yang dikerahkan.</p>
<p>Ketiga, dan yang paling fundamental adalah kader Muhammadiyah perlu ditempa untuk menjadi human-centered technologist yaitu ahli teknologi yang berjiwa kemanusiaan. Bukan hanya programmer yang canggih, bukan hanya entrepreneur yang sukses, tetapi manusia-manusia yang menguasai teknologi sekaligus berpegang teguh pada nilai Islam, memiliki empati sosial, dan visi peradaban yang jauh ke depan. Inilah kontribusi paling berharga yang bisa diberikan Muhammadiyah kepada Indonesia dan dunia di abad ke-21.</p>
<p><strong><b>Ruh yang Tidak Boleh Padam</b></strong></p>
<p>Society 5.0 membutuhkan lebih dari sekadar koneksi internet yang cepat atau perangkat teknologi yang canggih. Ia membutuhkan nilai-nilai yang memastikan bahwa semua kemajuan teknologi itu benar-benar mengangkat harkat manusia, bukan justru merendahkannya. Ia membutuhkan etika yang memastikan bahwa kecerdasan buatan digunakan untuk keadilan, bukan ketimpangan. Dan ia membutuhkan ruh-ruh kemanusiaan yang hangat di tengah dinginnya algoritma.</p>
<p>Muhammadiyah punya semua itu. Lebih dari satu abad merawat nilai di tengah berbagai badai perubahan sudah membuktikannya. Yang kini dibutuhkan hanyalah satu hal yaitu keberanian untuk melangkah.</p>
<p>Kader Muhammadiyah bukan penonton revolusi digital. Mereka adalah atau setidaknya seharusnya menjadi pembangun peradaban baru yang berakar pada nilai Islam, berpijak pada ilmu pengetahuan, dan berpihak pada kemanusiaan. Karena di atas segalanya, itulah yang selalu menjadi ruh gerakan ini sejak pertama kali KH Ahmad Dahlan mengangkat penanya lebih dari seratus tahun yang lalu.</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/ruh-berkemajuan-di-tengah-algoritma-relevansi-muhammadiyah-di-era-society-5-0/">Ruh Berkemajuan di Tengah Algoritma: Relevansi Muhammadiyah di Era Society 5.0</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SAATNYA PENDIDIKAN TIDAK HANYA MENGAJAR, TAPI MEMBENTUK KARAKTER DAN RELEVANSINYA ZAMAN</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/pendidikan-karakter-era-digital-abad-21-relevansi-zaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2026 08:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6879</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Afthonul Afif, M.Pd. (Pendidik MI Muhammadiyah Bae) Pendidikan adalah suatu hal yang disepakati menjadi hal yang pokok dalam suatu bangsa manapun. Kualitas Pendidikan dalam suatu bangsa menjadi salah satu penentu kemajuan bangsa tersebut. Dengan kata lain, kemajuan suatu bangsa atau negara dapat dilihat dari bagaimana kualitas pendidikan di bangsa dan negara tersebut (Hengki Nurhuda, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/pendidikan-karakter-era-digital-abad-21-relevansi-zaman/">SAATNYA PENDIDIKAN TIDAK HANYA MENGAJAR, TAPI MEMBENTUK KARAKTER DAN RELEVANSINYA ZAMAN</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh: Afthonul Afif, M.Pd. (Pendidik MI Muhammadiyah Bae)</h4>
<p>Pendidikan adalah suatu hal yang disepakati menjadi hal yang pokok dalam suatu bangsa manapun. Kualitas Pendidikan dalam suatu bangsa menjadi salah satu penentu kemajuan bangsa tersebut. Dengan kata lain, kemajuan suatu bangsa atau negara dapat dilihat dari bagaimana kualitas pendidikan di bangsa dan negara tersebut (Hengki Nurhuda, 2022). Namun demkian, realita saat ini menunjukkan bahwa pendidikan masih menghadapi berbagai persoalan kompleks seperti ketimpangan akses, rendahnya mutu pembelajaran, dan ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan zaman. Permasalahan ini menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pendidikan yang bermakna dan mampu mengembangkan potensi manusia secara utuh (Muliani Lia, Putu, 2025). Asri budiningsih dalam bukunya belajar dan pembelajaran menuliskan bahwa memasuki era milenium ketiga, masyarakat dan bangsa Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai tuntutan global. Tidak hanya berupa materi namun pengetahuan dan keterampilan yang cukup memadai hendaknya dimiliki oleh generasi muda kita. Anak-anak bangsa perlu dipersiapkan menjadi generasi yang tangguh, siap bersaing dan berkompeten. Maksudnya anak-anak dipersiapkan menjadi pribadi yang berfikir kreatif, mampu mengambil keputusan tepat, memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar berkolaborasi dan pengelolaan diri (Nurul Afifah, 2015).</p>
<p>Aspek karakter menjadi salah satu pilar utama dalam mendidik anak-anak. Pendidikan berperan menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi perlu dibiasakan melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain karakter, pendidikan juga berperan penting dalam pengembangan aspek emosional. Kemampuan mengelola emosi, memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat merupakan bagian dari kecakapan hidup yang sangat dibutuhkan. Pada konteks spiritual dan nilai kehidupan, pendidikan membantu individu menemukan makna dan tujuan hidup. Pendidikan tidak hanya mengajarkan apa yang harus dikerjakan, tetapi juga mengapa hal tersebut penting (Faturahman, 2017). Seiring perkembangan zaman yang terus meningkat, serta teknologi yang telah berkembang pesat kini kritis moral di kalangan anak muda indonesia menjadi persoalan yang semakin memprihatinkan, terutama terdapat berbagai kasus-kasus permasalahan seperti: Tawuran, narkoba, minum-minuman keras (alkohol), kekerasan seksual, pembullyan, perundungan hingga terjadinya pembunuhan pada anak muda. Apalagi di era digital sekarang ini, anak muda sudah bisa mengakses informasi media sosial yang begitu luas, cepat, dan tidak terbatas, namun media sosial seringkali menampilkan konten negatif yang berdampak buruk bagi generasi muda maupun masyarakat. Yang dimana akan mengakibatkan terjadinya krisis moral yang tidak sesuai dengan etika, perilaku dan tanggung jawabnya, karena kemajuan teknologi tidak selalu memberikan dampak yang positif dan juga tidak selalu diimbangi dengan penanaman nilai moral yang baik serta karakter yang kuat (Indonesia, 2025).</p>
<p>Perubahan pola pendidikan yang terasa pada saat ini merupakan salah satu ciri era globalisasi atau disebut dengan era keterbukaan <em><i>(era of oppenes)</i></em>, ini dibuktikan dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan <em><i>(science)</i></em> dan Teknologi <em><i>(tecnology)</i></em>. Era ini sering disebut dengan abad 21. Abad 21 lebih menekankan atau menuntut dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia (Hasibuan &amp; Prastowo, 2019). Integrasi pendekatan pembelajaran abad ke-21 dalam kurikulum berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kompetensi peserta didik secara holistik. Namun, penerapan tersebut masih menghadapi hambatan, terutama terkait kesiapan guru, keterbatasan sarana prasarana, dan penyesuaian materi pembelajaran (Waluyo Erry Wahyudi, 2026).</p>
<p>Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan kemajuan suatu bangsa karena tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter, pengembangan emosional, serta penanaman nilai-nilai kehidupan. Di tengah berbagai persoalan seperti ketimpangan akses, rendahnya mutu pembelajaran, dan ketidaksesuaian kurikulum dengan tuntutan zaman, pendidikan dituntut untuk terus beradaptasi agar mampu menciptakan generasi yang kompeten, kreatif, dan berdaya saing global. Selain itu, di era digital dan globalisasi abad ke-21, tantangan pendidikan semakin kompleks dengan munculnya krisis moral di kalangan generasi muda akibat pengaruh negatif lingkungan dan media sosial. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu mengintegrasikan penguatan karakter, kecakapan abad ke-21, serta pemanfaatan teknologi secara bijak. Dengan demikian, pendidikan yang relevan, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh dapat terwujud, sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<h3><em>DAFTAR PUSTAKA</em></h3>
<pre><em>Faturahman. (2017). Pendidikan Dan Pembangunan Manusia Seutuhnya. Universitas Indonesia.</em>

<em>Hasibuan, A. T., &amp; Prastowo, A. (2019). Konsep Pendidikan Abad 21: Kepemimpinan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia SD/MI. Magistra, 10(1).</em>

<em>Hengki Nurhuda. (2022). Masalah-masalah Pendidikan Nasional: Faktor-faktor dan Solusi yang Di Tawarkan. Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Dasar, 5(2).</em>

<em>Indonesia, M. M. (2025). Krisis Moral Generasi Muda di Era Digital Melalui Gagasan Pendidikan Karakter KH. Ahmad Dahlan.</em>

<em>Muliani Lia, Putu, D. (2025). Problematika Pendidikan Di Indonesia. Jurnal Widya Laksana, 14(1).</em>

<em>Nurul Afifah. (2015). Problematika Pendidikan Di Indonesia (Telaah Dari Aspek Pembelajaran). Elementary, 1(1).</em>

<em>Waluyo Erry Wahyudi. (2026). Pendekatan Pembelajaran Abad Ke-21: Implementasi dan Relevansinya Dalam Kurikulum Pendidikan Sekolah. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(1).</em></pre>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/pendidikan-karakter-era-digital-abad-21-relevansi-zaman/">SAATNYA PENDIDIKAN TIDAK HANYA MENGAJAR, TAPI MEMBENTUK KARAKTER DAN RELEVANSINYA ZAMAN</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Iduladha 1447 H Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/iduladha-1447-h-27-mei-2026-khgt/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 May 2026 12:57:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah 1447 Hijriah dipastikan jatuh pada hari Rabu Wage, 27 Mei 2026 Masehi. Sementara itu, wukuf di Padang Arafah atau 9 Zulhijah 1447 H akan bertepatan dengan Selasa Pon, 26 Mei 2026. Adapun awal bulan Zulhijah (1 Zulhijah) ditetapkan mulai Senin Kliwon, 18 Mei 2026. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/iduladha-1447-h-27-mei-2026-khgt/">Iduladha 1447 H Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="6">Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah 1447 Hijriah dipastikan jatuh pada hari Rabu Wage, 27 Mei 2026 Masehi. Sementara itu, wukuf di Padang Arafah atau 9 Zulhijah 1447 H akan bertepatan dengan Selasa Pon, 26 Mei 2026. Adapun awal bulan Zulhijah (1 Zulhijah) ditetapkan mulai Senin Kliwon, 18 Mei 2026.</p>
<p data-path-to-node="7">Penetapan tanggal ini didasarkan pada hasil hisab astronomis global yang menggunakan Parameter Kalender Global (PKG). Sistem mutakhir ini dirancang khusus untuk menghadirkan keseragaman awal bulan Hijriah bagi seluruh umat Islam di dunia, sehingga penentuan awal bulan tidak lagi dibatasi oleh batas darat wilayah negara, melainkan menggunakan prinsip keterlihatan hilal secara komprehensif dan global.</p>
<p data-path-to-node="8"><b data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Fakta Astronomis Penentuan Awal Zulhijah 1447 H</b></p>
<p data-path-to-node="9">Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Zulhijah 1447 H terjadi pada hari Sabtu Pon, 16 Mei 2026, pukul 20.01.02 UTC. Secara astronomis, ijtimak merupakan titik temu antara Matahari dan Bulan yang menandai awal pergantian bulan kamariah.</p>
<p data-path-to-node="10">Namun, terdapat dua kondisi yang membuat 1 Zulhijah tidak jatuh pada keesokan harinya (17 Mei 2026), yakni:</p>
<ul data-path-to-node="11">
<li>
<p data-path-to-node="11,0,0"><b data-path-to-node="11,0,0" data-index-in-node="0">Tidak Terpenuhinya PKG 1:</b> Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, belum ada satu pun wilayah di muka bumi yang memenuhi syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum pukul 24.00 UTC.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="11,1,0"><b data-path-to-node="11,1,0" data-index-in-node="0">Tidak Terpenuhinya PKG 2:</b> Setelah pukul 24.00 UTC, daratan Amerika juga tidak memenuhi syarat visibilitas hilal (tinggi Bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat), serta ijtimak tidak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.</p>
</li>
</ul>
<p data-path-to-node="12">Karena kedua parameter global tersebut belum terpenuhi, maka awal Zulhijah 1447 H diundur dan baru bisa dimulai pada Senin, 18 Mei 2026.</p>
<p data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Momentum Persiapan dan Dimensi Spiritual Kurban</b></p>
<p data-path-to-node="14">Kepastian penanggalan dari KHGT ini memiliki urgensi yang tinggi. Dengan diketahuinya 10 Zulhijah yang jatuh pada 27 Mei 2026 sejak jauh hari, umat Islam memiliki ruang persiapan yang jauh lebih matang, baik untuk pelaksanaan ibadah kurban, penjadwalan cuti dan kegiatan keagamaan, maupun agenda sosial kemasyarakatan.</p>
<p data-path-to-node="15">Iduladha selalu membawa makna yang mendalam dalam tradisi Islam. Momen ini menjadi pengingat untuk meneguhkan nilai keikhlasan dan pengorbanan sosial. Ibadah kurban mengajarkan bahwa harta benda bukanlah tujuan utama, melainkan sebuah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menghadirkan manfaat riil bagi sesama.</p>
<p data-path-to-node="16">Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:</p>
<h3 style="text-align: right;" data-path-to-node="16">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</h3>
<p data-path-to-node="18"><i data-path-to-node="17,0" data-index-in-node="28">“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”</i> (QS. Al-Kautsar: 2)</p>
<p data-path-to-node="18">Ayat tersebut menjadi landasan nyata bahwa ibadah kurban adalah manifestasi ketaatan yang sukses memadukan dimensi spiritual dengan tanggung jawab sosial, di mana daging kurban menjadi instrumen distribusi kesejahteraan bagi masyarakat yang paling membutuhkan.</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/iduladha-1447-h-27-mei-2026-khgt/">Iduladha 1447 H Jatuh pada Rabu 27 Mei 2026 Berdasarkan KHGT</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Hari Nelayan Nasional 2026: Suara Laut, Suara Kita</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/refleksi-hari-nelayan-nasional-2026-suara-laut-suara-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 02:08:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6744</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini, 6 April 2026, di tengah debur ombak yang tak pernah lelah menyapa pesisir Kudus dan seluruh Nusantara, kita merayakan Hari Nelayan Nasional. Namun, perayaan ini bukanlah sekadar seremonial untuk mengapresiasi mereka yang menantang badai demi sesuap nasi. Ini adalah cermin. Ini adalah pengingat. Suara Laut Adalah Suara Kita Seringkali kita lupa bahwa laut [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-hari-nelayan-nasional-2026-suara-laut-suara-kita/">Refleksi Hari Nelayan Nasional 2026: Suara Laut, Suara Kita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="3">Hari ini, 6 April 2026, di tengah debur ombak yang tak pernah lelah menyapa pesisir Kudus dan seluruh Nusantara, kita merayakan Hari Nelayan Nasional. Namun, perayaan ini bukanlah sekadar seremonial untuk mengapresiasi mereka yang menantang badai demi sesuap nasi. Ini adalah cermin. Ini adalah pengingat.</p>
<p data-path-to-node="4"><b data-path-to-node="4" data-index-in-node="0">Suara Laut Adalah Suara Kita</b></p>
<p data-path-to-node="5">Seringkali kita lupa bahwa laut bukanlah entitas yang terpisah dari hidup kita. Ketika laut merintih karena tumpukan plastik, ketika ekosistem terumbu karang memutih karena panas, dan ketika tangkapan nelayan kian hari kian sulit didapat, itu adalah jeritan yang sebenarnya sedang kita gaungkan sendiri.</p>
<p data-path-to-node="6">Laut adalah &#8220;perut&#8221; bumi yang memberi kehidupan bagi miliaran manusia. Suara laut adalah suara kehidupan. Jika laut mati, maka sunyi pula napas kita. Maka, ketika kita mendengar ombak pecah di karang hari ini, dengarkanlah itu sebagai detak jantung bumi yang sedang memohon perhatian kita.</p>
<p data-path-to-node="7"><b data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Menjaga Laut: Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban</b></p>
<p data-path-to-node="8">Selama ini, kita sering menganggap menjaga kebersihan pantai, mengurangi sampah plastik, atau mempraktikkan perikanan yang berkelanjutan sebagai sebuah &#8220;pilihan&#8221; atau &#8220;kebijakan tambahan&#8221;. Kita merasa boleh melakukannya jika punya waktu, atau boleh mengabaikannya jika merasa tidak bersentuhan langsung dengan air asin.</p>
<p data-path-to-node="9">Di tahun 2026 ini, kesadaran itu harus kita ubah: <b data-path-to-node="9" data-index-in-node="50">Menjaga laut bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban mutlak sebagai manusia.</b></p>
<p data-path-to-node="10">Sebagai manusia yang dianugerahi akal, kita adalah penjaga (<i data-path-to-node="10" data-index-in-node="60">khalifah</i>) bagi semesta. Laut adalah titipan yang dipinjamkan oleh generasi mendatang. Kita tidak memiliki hak untuk memberikan laut yang sakit kepada anak cucu kita hanya karena kelalaian kita hari ini.</p>
<p data-path-to-node="11"><b data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">Komitmen Bersama</b></p>
<p data-path-to-node="12">Mari jadikan Hari Nelayan Nasional kali ini sebagai titik balik.</p>
<ol data-path-to-node="13">
<li>
<p data-path-to-node="13,0,0">Bagi kita yang hidup di darat, setiap sampah yang kita buang dengan benar adalah doa untuk keselamatan nelayan di tengah lautan.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="13,1,0">Bagi para pengambil kebijakan, setiap regulasi yang dibuat harus memastikan kesejahteraan nelayan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="13,2,0">Bagi seluruh masyarakat, mari berhenti melihat laut sebagai tempat pembuangan, dan mulai melihatnya sebagai rumah yang harus dijaga.</p>
</li>
</ol>
<p data-path-to-node="14">Nelayan kita adalah pahlawan yang mengajarkan tentang ketangguhan. Ketangguhan mereka melawan gelombang seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk tangguh menjaga kelestarian bumi.</p>
<p data-path-to-node="15">Laut tidak meminta banyak. Ia hanya meminta kita untuk berhenti merusaknya. Mari bersinergi, menjaga biru tetap biru, dan memastikan bahwa suara laut tetap menjadi lagu kehidupan yang terus bergaung bagi generasi mendatang.</p>
<p data-path-to-node="16"><b data-path-to-node="16" data-index-in-node="0">Selamat Hari Nelayan Nasional 2026.</b> <i data-path-to-node="16" data-index-in-node="36">Laut sehat, nelayan sejahtera, kita semua terjaga.<br />
</i></p>
<p data-path-to-node="16"><strong>Penulis : Yahya Izzul</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-hari-nelayan-nasional-2026-suara-laut-suara-kita/">Refleksi Hari Nelayan Nasional 2026: Suara Laut, Suara Kita</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2026 08:21:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6582</guid>

					<description><![CDATA[<p>Edisi Khusus: Selasa Berbahasa Jawa – Nguri-uri Budaya, Mbangun KarakterKUDUS — Basa Jawa minangka salah siji pusaka budaya sing kebak nilai luhur. Ing jerone, ana piwulang tata krama, unggah-ungguh, lan sopan santun kang wigati banget kanggo pambentukan karakter bocah. Minangka sekolah unggulan, SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan netepi komitmen kasebut liwat program “Selasa Berbahasa Jawa”. Apa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/">BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="5"><b data-path-to-node="5" data-index-in-node="0">Edisi Khusus: Selasa Berbahasa Jawa – Nguri-uri Budaya, Mbangun</b></p>
<p data-path-to-node="5"><b data-path-to-node="5" data-index-in-node="0"> KarakterKUDUS</b> — Basa Jawa minangka salah siji pusaka budaya sing kebak nilai luhur. Ing jerone, ana piwulang tata krama, unggah-ungguh, lan sopan santun kang wigati banget kanggo pambentukan karakter bocah. Minangka sekolah unggulan, SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan netepi komitmen kasebut liwat program <b data-path-to-node="5" data-index-in-node="299">“Selasa Berbahasa Jawa”</b>.</p>
<h3 data-path-to-node="6"><b data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Apa Iku Selasa Berbahasa Jawa?</b></h3>
<p data-path-to-node="7">Program iki dudu mung sesrawungan biasa, nanging ajakan kanggo kabeh warga sekolah—guru, karyawan, lan siswa—supaya:</p>
<ol start="1" data-path-to-node="8">
<li>
<p data-path-to-node="8,0,0"><b data-path-to-node="8,0,0" data-index-in-node="0">Nggunakake basa Jawa</b> nalika komunikasi ing lingkungan sekolah.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="8,1,0"><b data-path-to-node="8,1,0" data-index-in-node="0">Sinau bedane tembung ngoko lan krama</b> supaya pas karo sapa sing diajak guneman.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="8,2,0"><b data-path-to-node="8,2,0" data-index-in-node="0">Nerapake unggah-ungguh</b> utamane marang guru, kanca, lan wong tuwa.</p>
</li>
</ol>
<h3 data-path-to-node="9"><b data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Kegiatan lan Pasinaon</b></h3>
<p data-path-to-node="10">Saben dina Selasa, swasana sekolah dadi luwih &#8220;njawani&#8221;. Siswa ora mung sinau teori, nanging langsung praktik liwat:</p>
<ul data-path-to-node="11">
<li>
<p data-path-to-node="11,0,0"><b data-path-to-node="11,0,0" data-index-in-node="0">Dialog cekak</b> nganggo basa Jawa sing bener.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="11,1,0"><b data-path-to-node="11,1,0" data-index-in-node="0">Maca crita rakyat</b> utawa paribasan kanggo nambah wawasan.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="11,2,0"><b data-path-to-node="11,2,0" data-index-in-node="0">Nembang lagu dolanan</b> supaya swasana sinau dadi nyenengake.</p>
</li>
</ul>
<blockquote data-path-to-node="12">
<p data-path-to-node="12,0"><b data-path-to-node="12,0" data-index-in-node="0">“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”</b> <i data-path-to-node="12,0" data-index-in-node="53">(Regane wong katon saka omongane lan tumindake)</i></p>
</blockquote>
<h3 data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Pojok Kosakata (Kamus Cilik)</b></h3>
<p data-path-to-node="14">Ayo bocah-bocah, bareng-bareng dicoba digunakake saben dina ya!</p>
<ul data-path-to-node="15">
<li>
<p data-path-to-node="15,0,0"><b data-path-to-node="15,0,0" data-index-in-node="0">Sugeng enjing:</b> Selamat pagi</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,1,0"><b data-path-to-node="15,1,0" data-index-in-node="0">Matur nuwun:</b> Terima kasih</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,2,0"><b data-path-to-node="15,2,0" data-index-in-node="0">Nyuwun sewu:</b> Permisi / mohon maaf</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,3,0"><b data-path-to-node="15,3,0" data-index-in-node="0">Panjenengan:</b> Anda (kanggo wong sing luwih sepuh)</p>
</li>
</ul>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/">BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 02:28:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perintah pertama yang sering dirujuk dalam konteks keagamaan dan dianggap mengubah dunia adalah “Bacalah “ atau “Iqra”. Perintah ini merupakan wahyu pertama dalam Al-Qur’an, menekankan pentingnya pengetahuan, literasi, dan pembelajaran sebagai fondasi peradaban manusia.Membaca merupakan sebuah praktik dan kebiasaan yang sangat penting dalam perkembangan intelektual dan social suatu masyarakat. Salah satu realitas yang tidak bisa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/">PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perintah pertama yang sering dirujuk dalam konteks keagamaan dan dianggap mengubah dunia adalah “Bacalah “ atau “Iqra”. Perintah ini merupakan wahyu pertama dalam Al-Qur’an, menekankan pentingnya pengetahuan, literasi, dan pembelajaran sebagai fondasi peradaban manusia.Membaca merupakan sebuah praktik dan kebiasaan yang sangat penting dalam perkembangan intelektual dan social suatu masyarakat.</p>
<p>Salah satu realitas yang tidak bisa dipungkiri adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001% Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara aktif. Sementara itu menurut survei Badan Pusat Statistik ( BPS ) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10 % penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Kondisi itu sangat memprihatinkan, terutama bagi negara dengan mayoritas penduduk muslim. Situasi ini sangat kontras dengan penduduk negara-negara maju seperti Jepang dan Finlandia ( literasi kuat dan system pendidikan inklusif ).</p>
<p>Dalam laporan peringkat literasi membaca Indonesia bervariasi tergantung surveinya, namun umumnya masih rendah, pada PISA( Programme for International Student Assessment ) tahun  2022, Indonesia berada peringkat 71 dari 81 negara, di Asia Tenggara masih di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Brunei Darussalam, dengan sekor literasi membaca 359, jauh di bawah rata-rata dunia. Sementara itu, studi lain menyebut Indonesia peringkat 31 dari 102 negara ( 2024 ) untuk kegemaran membaca, dengan minat baca sangat rendah ( hanya 1 dari 1000 orang rajin membaca).</p>
<p>Keberadaan gawai pintar ( smart Phone ) turut serta menjadi tantangan tersendiri, karena seringkali lebih banyak mendorong generasi muda tuk bermain game ketimbang membaca. Lebih banyak bermain media social dari pada menelaah buku-buku maupun kitab suci Al -Qur’an sebagai rujukan berbagai ilmu pengetahuan di dunia. Sehingga budaya membaca, menulis, menelaah, dan budaya literasi lainya hilang seiring dengan menjamurnya gawai pintar ( smart Phone).</p>
<p>Jika kita kembali kepada paradigm yang dibangun oleh wahyu Ilahi, maka wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, adalah perintah membaca pertama dalam Al-Qur’an adalah “ Iqra’  <strong><b>(</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b>اقرأ</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b>)</b></strong> “ yang berarti bacalah, berasal dari wahyu pertama ( Surat Al- ‘Alaq  Ayat 1.  <strong><b>اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق</b></strong><strong><b> .</b></strong>Bacalah ( wahai Muhammad ) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk ). (Q.S Al-Alaq 96 :1).</p>
<p>Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa membaca bukan hanya teks, tapi juga membaca alam semesta, diri sendiri, dan tanda-tanda kebesaran Tuhan sebagai kunci pengetahuan, peradaban dan keimanan yang kokoh. Perintah ini menjadi fondasi literasi Islam, yang mendorong umat untuk memahami, merenung, dan belajar sepanjang hayat, bukan sekedar menghafal atau membaca tanpa makna. Perintah dari Allah kepada rasul-Nya bukanlah shalat ataupun zakat, melainkan membaca , sebuah perintah untuk membuka wawasan dan kesadaran intelektual. Ironisnya, umat Islam justru mengalami kegersangan budaya ilmu.</p>
<p>Makna “ Iqra “ Lebuh Dalam</p>
<ol>
<li><b></b><strong><b>Bukan Hanya teks tertulis</b></strong>: Jibril tidak membawa naskah, artinya “ Iqra” melampau membaca buku, ini adalah perintah membaca fenomena alam, social, sejarah, dan diri sendiri</li>
<li><b></b><strong><b>Sumber Ilmu dan Peradaban: </b></strong>Membaca adalah jalan dari tidak tahu menjadi tahu, menjadi sumber pengetahuan untuk membangun peradaban dan umat yang berilmu.</li>
<li><b></b><strong><b>Membaca dengan Hati :</b></strong>Memahami makna. Merenungkan, dan mengamalkan, bukan sekedar membaca tanpa penghayatan atau hanya judul.</li>
</ol>
<p><strong><b>Penerapan Prinsip</b></strong> <strong><b>“Iqra” dalam Kehidupan </b></strong></p>
<ol>
<li><b></b><strong><b>Literasi Digital :</b></strong>Sebelum menyebar informasi, teliti sumbernya ( Verifikasi ), baca dengan hati, dan sebarkan yang bermanfaat.</li>
<li><b></b><strong><b>Membangun Peradaban:</b></strong>Jadikan ilmu bekal hidup, bukan hanya hiasan, agar iman tidak kosong dari pengetahuan dan akal tidak berjalan tanpa cahaya wahyu</li>
<li><b></b><strong><b>Kunci Kebangkitan :</b></strong>Mengembalikan semangat “ Iqra “ adalah seruan untuk bangkit dan hidup bermakna dengan berpikir jernih dan mengabdi pada kebenaran.</li>
</ol>
<p>Iqra’ adalah titah awal yang menjadi fondasi dari seluruh rangkaian wahyu, dan memiliki daya transformasi luar biasa , ia mengubah cara pandang, jiwa, dan akal masyarakat Arab dan selanjutnya menginspirasi dunia. Tidak dapat dipungkiri, kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan tehnologi Barat pun tidak lepasi sumbang sih peradaban Islam. Pada masa Dinasti Abbasiyah menjadi lumbung ilmu pengetahuan dunia. Disana berlangsung kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, pengembangan ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dll. Barat banyak beruntung pada peradaban Islam dalam hal pengembangan Ilmu.</p>
<p>Iqra’ menawarkan fondasi epistemic yang kokoh. Ia bukan hanya identitas keilmuan seorang Muslim. Melainkan juga sumber inspirasi yang tak akan pernah kering oleh waktu atau zaman. Karena Iqra’adalah titah Ilahi dari pemilik kehidupan dunia dan akhirat.</p>
<p><em><strong>Penulis: Mufawazah, S.Ag Guru MI Muh. Bae</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/">PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2026 04:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6393</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Kudus menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 di Hotel @HOM Kudus, Sabtu (9 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan serta penguatan tata kelola kelembagaan Lazismu ke depan. Rakerda Lazismu Kudus 2026 mengusung tema “Transparansi, Sinergi, dan Penguatan Kelembagaan” [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/">Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KUDUS – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Kudus menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 di Hotel @HOM Kudus, Sabtu (9 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan serta penguatan tata kelola kelembagaan Lazismu ke depan.<img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6395" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Rakerda Lazismu Kudus 2026 mengusung tema “Transparansi, Sinergi, dan Penguatan Kelembagaan” dan dihadiri oleh jajaran pengurus Lazismu serta perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, yakni drs. Zulfa Kurniawan, M.S.E., Ali Zamroni, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Moh Inami, M.Ag.<img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6398" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan yang disampaikan oleh drs. Zulfa Kurniawan, M.S.E., yang menekankan pentingnya profesionalisme, transparansi, serta kolaborasi antarunsur persyarikatan dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan pembukaan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. Moh Inami, M.Ag.</p>
<p>Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan agenda inti Rakerda Lazismu. Pada sesi awal, disampaikan laporan kinerja Lazismu Kudus oleh Ustadz Umar Teguh Sabda Laksana, S.Pd.I., yang memaparkan capaian program, penghimpunan, serta penyaluran dana ZIS selama periode sebelumnya.</p>
<p>Agenda berikutnya diisi dengan materi fikih zakat yang disampaikan oleh Dewan Syariah Lazismu, yakni Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I., M.H., sebagai penguatan pemahaman syariah dalam pengelolaan dan pendistribusian dana zakat agar tetap sesuai dengan ketentuan Islam.</p>
<p>Rakerda kemudian dilanjutkan dengan penyepakatan rencana penghimpunan dan penyaluran dana ZIS tahun 2026, dengan target sebesar Rp5,6 miliar. Target tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat program Lazismu, khususnya di bidang sosial kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi umat di Kabupaten Kudus.</p>
<p>Melalui Rakerda ini, Lazismu Kudus menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kinerja lembaga secara akuntabel, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.</p>
<p>dalam rangka Rakerda, Lazismu kudus membagikan Penghargaan sebagai apresiasi kantor layanan Cabang dan Amal usaha muhammadiyah, berikut daftar kantor layanan yang mendapatkan penghargaan.:</p>
<p>1. Penghargaan Administrasi terbaik diraih oleh KL PCM kota<img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6414" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491.jpeg" alt="" width="834" height="623" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491.jpeg 834w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-300x224.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-768x574.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-562x420.jpeg 562w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-150x112.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-696x520.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 834px) 100vw, 834px" /></p>
<p>2. penghargaan penghimpun zis terbanyak diraih oleh KL PCM Gebog<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6413" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488.jpeg" alt="" width="960" height="766" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-300x239.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-768x613.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-526x420.jpeg 526w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-150x120.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-696x555.jpeg 696w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>3. Penghargaan penghimpun zis AUM dan penghargaan petembuhan kantor layanan diraih oleh KL RS Sarkies Kudus<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6402" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-265x198.jpeg 265w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6412" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958.jpeg" alt="" width="960" height="713" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-300x223.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-768x570.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-565x420.jpeg 565w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-150x111.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-485x360.jpeg 485w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-696x517.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-265x198.jpeg 265w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>5. penghargaan Konten Fundrising teraktif diraih oleh Pesantren Muhammadiyah Kudus<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6411" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853.jpeg" alt="" width="960" height="766" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-300x239.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-768x613.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-526x420.jpeg 526w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-150x120.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-696x555.jpeg 696w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/">Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 08:06:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6371</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Tunjung Eko Wibowo Penghujung tahun 2025 bukan sekadar pergantian kalender bagi Muhammadiyah, melainkan sebuah momentum &#38;quot;muhasabah&#38;quot; (evaluasi diri) yang mendalam. Di tengah dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan domestik yang kompleks, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini terus berupaya mengaktualisasikan semangat Islam Berkemajuan dalam setiap gerak langkahnya. Tahun ini menjadi saksi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/">Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Oleh: Tunjung Eko Wibowo</div>
<div></div>
<div>Penghujung tahun 2025 bukan sekadar pergantian kalender bagi Muhammadiyah,</div>
<div>melainkan sebuah momentum &amp;quot;muhasabah&amp;quot; (evaluasi diri) yang mendalam. Di</div>
<div>tengah dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan domestik yang</div>
<div>kompleks, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini terus berupaya</div>
<div>mengaktualisasikan semangat Islam Berkemajuan dalam setiap gerak langkahnya.</div>
<div>Tahun ini menjadi saksi bagaimana Muhammadiyah bertransformasi dari gerakan</div>
<div>konvensional menuju organisasi berbasis data, sembari tetap menjaga akar</div>
<div>tunggangnya pada kemanusiaan dan kesejahteraan umat.</div>
<div>Di penghujung tahun yang tidak sedang baik-baik saja. Gejolak iklim yang memicu</div>
<div>bencana di berbagai penjuru tanah air, disrupsi teknologi yang mengancam</div>
<div>lapangan kerja konvensional. Hingga isu ketimpangan ekonomi yang kian lebar</div>
<div>menjadi tajuk utama. Di tengah badai ini, Muhammadiyah sebagai salah satu</div>
<div>jangkar terbesar masyarakat sipil Indonesia yang berdiri di persimpangan jalan yang</div>
<div>krusial.</div>
<div>Muhammadiyah bukan sekadar periode administratif, melainkan tahun &amp;quot;Ijtihad</div>
<div>Transformasi&amp;quot;. Dari ruang-ruang rapat muncul sebuah kesadaran baru, bahwa Islam</div>
<div>Berkemajuan tidak boleh hanya berhenti di podium pidato. Ia harus mendarat di</div>
<div>aplikasi ponsel pintar, di kesejahteraan para guru honorer, hingga di etika penggalian</div>
<div>lubang tambang.</div>
<div>Islam Berkemajuan Sebagai Kompas di Tengah Disrupsi</div>
<div>Islam Berkemajuan bukanlah slogan statis, melainkan sebuah ijtihad peradaban.</div>
<div>Muhammadiyah memandang bahwa di tahun 2025, tantangan umat Islam tidak lagi</div>
<div>sekadar pada persoalan ubudiyah, tetapi pada sejauh mana nilai-nilai agama</div>
<div>mampu menjawab krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan disrupsi teknologi.</div>
<div>Refleksi tahun ini menegaskan bahwa menjadi &amp;quot;berkemajuan&amp;quot; berarti berani keluar</div>
<div>dari zona nyaman. Muhammadiyah tidak hanya bicara tentang sejarah kebesaran</div>
<div>masa lalu, tetapi aktif memproduksi solusi nyata. Pandangan Islam Berkemajuan di</div>
<div>2025 diwujudkan melalui penguatan literasi publik dan moderasi beragama yang</div>
<div>tidak lagi bersifat defensif, melainkan proaktif dalam membangun dialog</div>
<div>antarkelompok.</div>
<div>Lompatan Digital Menuju Ekosistem Cerdas</div>
<div>Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah dengan diluncurkannya platform SatuMu (Satu</div>
<div>Muhammadiyah). Ini sebagai langkah berani dalam penataan organisasi menuju</div>
<div></div>
<div>digitalisasi total. Selama ini data Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar</div>
<div>di ribuan titik sering kali mengalami fragmentasi.</div>
<div>Dengan digitalisasi, Muhammadiyah kini mulai mengintegrasikan sistem</div>
<div>administrasi, keuangan, hingga manajemen kader dalam satu ekosistem digital.</div>
<div>Penataan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk transparansi dan</div>
<div>akuntabilitas publik. Ke depan, digitalisasi ini diharapkan mampu memangkas</div>
<div>birokrasi internal yang kaku, sehingga keputusan-keputusan strategis organisasi</div>
<div>dapat diambil berdasarkan basis data (data driven) yang akurat.</div>
<div>Dengan sistem digital yang terintegrasi, Muhammadiyah sedang membangun</div>
<div>transparansi. Tidak boleh lagi ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang merasa</div>
<div>sebagai &amp;quot;kerajaan kecil&amp;quot; yang tertutup. Digitalisasi adalah jalan pedang</div>
<div>Muhammadiyah untuk memastikan bahwa setiap rupiah dana umat dikelola dengan</div>
<div>akuntabilitas tinggi yang bisa dipantau secara presisi.</div>
<div>Kesejahteraan Pegawai Kala Menatap 2026 dengan Rasa Optimisme</div>
<div>Salah satu isu yang paling sensitif namun esensial dalam refleksi 2025 adalah</div>
<div>kesejahteraan Sumber Daya Insani (SDI). Tidak dapat dipungkiri, terdapat</div>
<div>kesenjangan antara AUM yang sudah mapan (profit-oriented) dengan unit-unit</div>
<div>dakwah di akar rumput yang masih berjuang secara finansial.</div>
<div>Harapan besar diletakkan pada tahun 2026. Muhammadiyah sedang merancang</div>
<div>skema Manajemen Terpusat yang lebih berkeadilan. Fokusnya adalah</div>
<div>meningkatkan kesejahteraan guru-guru di sekolah dasar terpencil, perawat di klinik</div>
<div>kecil, serta karyawan anak usaha Muhammadiyah agar memiliki standar pendapatan</div>
<div>yang layak dan jaminan sosial yang lebih baik. Prinsipnya jelas: Muhammadiyah</div>
<div>tidak boleh menjadi organisasi yang kaya secara aset, namun membiarkan para</div>
<div>penggeraknya hidup dalam kekurangan. Kesejahteraan pegawai adalah prasyarat</div>
<div>mutlak bagi keberlanjutan dakwah.</div>
<div>Salah satu kritik yang paling jujur dalam refleksi tahun ini adalah tentang</div>
<div>kesejahteraan. Kita sering terpukau dengan megahnya gedung universitas atau</div>
<div>rumah sakit Muhammadiyah di kota besar, namun terkadang lupa pada guru-guru di</div>
<div>sekolah dasar pinggiran atau karyawan di unit usaha kecil.</div>
<div>Target besar di tahun 2026 adalah Standarisasi Kesejahteraan Pegawai.</div>
<div>Muhammadiyah sedang merumuskan skema subsidi silang antar AUM. Harapannya</div>
<div>surplus dari AUM besar dapat menyangga kesejahteraan pegawai di unit usaha</div>
<div>yang masih merangkak. Ini adalah ujian moral di organisasi ini. Mampukah</div>
<div>Muhammadiyah menyejahterakan orang-orang di dalamnya sebelum bicara</div>
<div>menyejahterakan umat secara luas? 2026 harus menjadi tahun di mana para</div>
<div>pengabdi di Muhammadiyah merasa bahwa organisasi ini adalah &amp;quot;rumah&amp;quot; yang tidak</div>
<div>hanya memberi berkah ukhrawi, tapi juga martabat finansial yang layak.</div>
<div>Evaluasi Konsesi Tambang dan Jihad Lingkungan</div>
<div></div>
<div>Tahun 2025 juga diwarnai dengan polemik keputusan Muhammadiyah menerima</div>
<div>konsesi tambang. Secara internal dan eksternal, evaluasi terus dilakukan dengan</div>
<div>ketat. Muhammadiyah menyadari bahwa masuk ke industri ekstraktif adalah pisau</div>
<div>bermata dua.</div>
<div>Di satu sisi, ini adalah ikhtiar kemandirian ekonomi organisasi. Namun di sisi lain,</div>
<div>taruhan moralnya sangat tinggi. Muhammadiyah berkomitmen untuk menerapkan</div>
<div>Green Mining atau pertambangan yang berwawasan lingkungan. Evaluasi akhir</div>
<div>tahun menekankan bahwa jika pengelolaan tambang ini tidak mampu memberikan</div>
<div>manfaat bagi masyarakat sekitar atau justru merusak ekologi, maka Muhammadiyah</div>
<div>harus berani mengambil langkah mundur demi marwah organisasi. Muhammadiyah</div>
<div>tidak ingin &amp;quot;jihad ekonomi&amp;quot; ini mencederai &amp;quot;jihad lingkungan&amp;quot; yang selama ini</div>
<div>disuarakan.</div>
<div>Muhammadiyah kini berada di bawah mikroskop publik. Muhammadiyah harus</div>
<div>membuktikan bahwa mereka bisa melakukan apa yang gagal dilakukan banyak</div>
<div>korporasi, yaitu pertambangan yang tidak meninggalkan luka pada bumi. Evaluasi</div>
<div>ketat sedang berjalan. Jika konsesi tambang ini justru memperparah bencana atau</div>
<div>meminggirkan masyarakat lokal, Muhammadiyah harus memiliki keberanian moral</div>
<div>untuk mengevaluasi total keberadaannya di sektor tersebut. Islam Berkemajuan</div>
<div>adalah Islam yang menjaga pohon tetap berdiri dan sungai tetap jernih.</div>
<div>Dan alangkah baiknya jika memang Muhammadiyah tidak ada kompetensi dalam</div>
<div>bidang pertambangan, alangkah lebih baik mengembalikan konsesi tambang tsb</div>
<div>pada pemerintah. Jangan sampai konsesi tambang yang diterima, justru menjadi</div>
<div>sebuah pembungkaman terhadap eksistensi Muhammadiyah.</div>
<div>Resiliensi Menghapi Bencana</div>
<div>Seiring dengan isu lingkungan, serangkaian bencana alam yang melanda Indonesia</div>
<div>di penghujung 2025, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor menjadi</div>
<div>pengingat keras bahwa resiliensi harus menjadi prioritas. Dalam pandangan</div>
<div>Muhammadiyah, kebencanaan bukan sekadar peristiwa alam atau takdir semata,</div>
<div>melainkan sebuah panggilan iman untuk melakukan &amp;quot;Jihad Kemanusiaan&amp;quot; yang</div>
<div>terukur.</div>
<div>Pencegahan bencana dimulai dari meja-meja kajian dan kurikulum pendidikan</div>
<div>melalui konsep Eco-Theology. Muhammadiyah meyakini bahwa menjaga ekosistem</div>
<div>adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah, sehingga ke depan setiap pembangunan</div>
<div>AUM wajib melalui audit ekologi yang ketat untuk memastikan infrastruktur kita</div>
<div>menjadi benteng penyelamat, bukan perangkap nyawa.</div>
<div>Upaya meminimalisir korban jiwa juga diwujudkan melalui transformasi MDMC</div>
<div>(Muhammadiyah Disaster Management Center) menuju versi yang lebih profesional</div>
<div>dengan spesialisasi keahlian tinggi. Melalui gerakan &amp;quot;Satu Masjid, Satu Regu</div>
<div>Tangguh&amp;quot;, Muhammadiyah memproyeksikan lahirnya tim-tim kecil di tingkat ranting</div>
<div>yang mampu melakukan evakuasi mandiri dalam &amp;quot;Golden Time&amp;quot; 15 menit pertama</div>
<div></div>
<div>yang krusial. Didukung oleh integrasi teknologi peringatan dini dalam aplikasi</div>
<div>SatuMu, informasi ancaman bencana kini dapat tersampaikan secara real-time ke</div>
<div>genggaman para kader, memungkinkan tindakan mitigasi diambil lebih awal sebelum</div>
<div>bencana mencapai puncaknya.</div>
<div>Namun, refleksi 2025 menggeser paradigma dari sekadar &amp;quot;tanggap darurat&amp;quot; menuju</div>
<div>&amp;quot;resiliensi berkelanjutan&amp;quot;. Muhammadiyah mendorong mitigasi bencana berbasis</div>
<div>komunitas. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah Muhammadiyah disiapkan menjadi</div>
<div>titik evakuasi yang mandiri. Penanganan bencana bukan lagi soal memberikan</div>
<div>sembako, melainkan bagaimana membangun kembali mental dan ekonomi</div>
<div>masyarakat pascabencana agar tidak jatuh ke dalam kemiskinan permanen.</div>
<div>Jembatan Budaya dengan Merangkul Muallaf dan Pluralitas</div>
<div>Muhammadiyah terus memantapkan perannya sebagai jembatan budaya. Melalui</div>
<div>Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), perhatian terhadap kaum muallaf ditingkatkan.</div>
<div>Dakwah bagi muallaf tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga</div>
<div>pendampingan sosial dan ekonomi.</div>
<div>Di wilayah-wilayah dengan basis budaya yang kuat, Muhammadiyah memilih jalan</div>
<div>&amp;quot;Dakwah Kultural&amp;quot;. Menghargai tradisi lokal tanpa harus kehilangan jati diri tauhid.</div>
<div>Muhammadiyah hadir sebagai peneduh, merangkul mereka yang baru mengenal</div>
<div>Islam dengan wajah yang ramah, bukan marah. Ini adalah manifestasi dari rahmatan</div>
<div>lil &amp;#39;alamin—menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk bagi kelompok-kelompok</div>
<div>minoritas dan marginal.</div>
<div>Menatap 2026</div>
<div>Menyongsong tahun 2026, Muhammadiyah memikul tanggung jawab besar untuk</div>
<div>membuktikan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar teori di atas kertas.</div>
<div>Penataan digital yang kuat, kesejahteraan pegawai yang terjamin, pengelolaan</div>
<div>sumber daya alam yang etis, serta ketangguhan dalam menghadapi bencana adalah</div>
<div>indikator keberhasilan yang akan terus diperjuangkan.</div>
<div>Muhammadiyah akan terus bergerak, melintasi zaman, sembari memastikan tidak</div>
<div>ada satu pun warga bangsa yang tertinggal dalam gerbong kesejahteraan. Karena</div>
<div>pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari megahnya gedung</div>
<div>yang dibangun, melainkan dari seberapa banyak air mata yang mampu diusap dan</div>
<div>seberapa banyak martabat manusia yang mampu diangkat.</div>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/">Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 06:30:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6368</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Asmaul Chusna,S.E Assalamu’alaikum.wr.wb Segala puji bagi Allah SWT yang selalu dan senantiasa memberikan kita nikmat yang terhitung jumlahnya,baik nikmat islam,iman ,sehat dan sempat,sehingga sampai saat ini kita masih bisa saling berbagi ilmu dengan cara belajar dan juga membaca artikel yang bermanfaat. Tahukah anda,kegunaan mulut yang telah Allah berikan pada kita?tentu saja untuk makan,minum [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/">ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh : Asmaul Chusna,S.E</h4>
<h4>Assalamu’alaikum.wr.wb</h4>
<p>Segala puji bagi Allah SWT yang selalu dan senantiasa memberikan kita nikmat yang terhitung jumlahnya,baik nikmat islam,iman ,sehat dan sempat,sehingga sampai saat ini kita masih bisa saling berbagi ilmu dengan cara belajar dan juga membaca artikel yang bermanfaat.</p>
<p>Tahukah anda,kegunaan mulut yang telah Allah berikan pada kita?tentu saja untuk makan,minum dan lebih lebih untuk BERBICARA.dalam agama kita,berbicara tidak asal ngomong saja,tapi harus disertai dengan etika yang baik,sopan santun dan juga adab.</p>
<p>Adab berbicara adalah tata krama dan etika yang harus diperhatikan saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam Islam, berbicara bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga merupakan suatu bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan baik dan benar. Komunikasi yang santun mencerminkan akhlak seorang Muslim dan muslimah yang dapat mempererat hubungan antar sesama.</p>
<p>Adab berbicara dalam islam harus dilandasi dengan Al Qur’an dan juga Hadits,agar apa yang kita ucapkan akan selalu membawa kebaikan dan keberkahan.</p>
<p>Islam menekankan pentingnya berbicara dengan baik. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)</p>
<p>Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu berbicara dengan jujur dan benar, serta menghindari ucapan yang tidak baik.</p>
<p>Rasulullah SAW juga memberikan contoh yang baik dalam berbicara. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa kita harus memilih kata-kata yang baik atau lebih baik diam jika tidak ada yang perlu dan baik untuk kita katakan.</p>
<p><em><i>Adapun Adab Berbicara kepada Orang Lain,antara lain adalah</i></em> :</p>
<ol>
<li><strong><b>Menggunakan Bahasa yang Santun</b></strong>: Pilihlah kata-kata yang sopan dan santun saat berbicara. Hindari bahasa kasar atau menyinggung perasaan orang lain.</li>
<li><strong><b>Mendengarkan dengan Baik</b></strong>: Berikan perhatian penuh saat orang lain berbicara. Mendengarkan adalah bagian penting dari komunikasi yang baik untuk menunjukkan rasa hormat.</li>
<li><strong><b>Menghindari Menginterupsi</b></strong>: Jangan memotong pembicaraan orang lain. Biarkan mereka menyampaikan pendapat atau cerita mereka hingga selesai.</li>
<li><strong><b>Menghindari Ghibah (Gosip</b></strong>): Jangan membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka. Ghibah adalah tindakan yang dilarang dalam Islam dan dapat merusak hubungan antar sesama.</li>
<li>5<strong><b>. Bersikap Sabar dan Toleran</b></strong>: Dalam berdiskusi atau berdebat, penting untuk bersikap sabar dan toleran terhadap pandangan orang lain. Hormati perbedaan pendapat tanpa perlu memaksakan pendapat kita.</li>
<li><strong><b>Berbicara dengan Tujuan yang Baik</b></strong>: Pastikan bahwa setiap ucapan yang kita sampaikan memiliki tujuan yang baik dan konstruktif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</li>
<li>Mendoakan Kebaikan: Saat berbicara tentang orang lain, termasuk dalam diskusi, berdoalah untuk kebaikan mereka. Ini akan menciptakan suasana positif dan penuh kasih sayang.</li>
</ol>
<p><strong><em><b><i>Manfaat  Adab Berbicara dengan orang lain,antara lain :</i></b></em></strong></p>
<p>1<strong><b>.Mendapatkan Ridha Allah</b></strong>: Dengan menerapkan adab berbicara, kita berupaya untuk mendapatkan ridha Allah SWT, karena setiap perkataan yang baik adalah amal yang mulia.</p>
<p>2.<strong><b>Menjaga Nama Baik</b></strong>: Berbicara dengan baik akan menjaga nama baik kita di mata orang lain dan mencerminkan akhlak yang baik.</p>
<ol start="3">
<li><strong><b>Membangun Hubungan yang Baik</b></strong>: Komunikasi yang santun dan baik akan mempererat hubungan antar sesama dan menciptakan suasana yang harmonis..</li>
<li><strong><b>Menciptakan Suasana Positif</b></strong>: Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang positif, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.</li>
</ol>
<p>Jadi,Adab berbicara kepada orang lain adalah aspek penting dalam etika sosial dan akhlak seorang Muslim dan muslimah. Dengan demikian berbicara dengan baik, kita dapat membangun komunikasi yang efektif dan menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Marilah kita berusaha untuk selalu menerapkan adab berbicara dalam kehidupan sehari-hari, agar setiap interaksi kita menjadi bermakna dan membawa kebaikan. Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu berbicara dengan baik dan penuh sopan santun. Aamiin.</p>
<h4> <em><i>BUNGA MAWAR BUNGA MELATI</i></em></h4>
<h4><em><i>HARUM SEMERBAK,WANGI BAUNYA</i></em></h4>
<h4><em><i>AYO,BELAJAR BERBICARA DENGAN HATI-HATI</i></em></h4>
<h4><em><i>AGAR TIDAK MENYAKIT DAN JADI PANUTANNYA</i></em></h4>
<h4><em><i>Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.</i></em></h4>
<h4><em><i>SEMOGA BERMANFAAT</i></em></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/">ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
