<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Arsip - Muhammadiyah Kudus</title>
	<atom:link href="https://www.kudusmu.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.kudusmu.id/category/artikel/</link>
	<description>Gerakan Islam Berkemajuan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Feb 2026 14:45:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2025/10/cropped-icon-muhorid-1-150x150.jpg</url>
	<title>Artikel Arsip - Muhammadiyah Kudus</title>
	<link>https://www.kudusmu.id/category/artikel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2026 08:21:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6582</guid>

					<description><![CDATA[<p>Edisi Khusus: Selasa Berbahasa Jawa – Nguri-uri Budaya, Mbangun KarakterKUDUS — Basa Jawa minangka salah siji pusaka budaya sing kebak nilai luhur. Ing jerone, ana piwulang tata krama, unggah-ungguh, lan sopan santun kang wigati banget kanggo pambentukan karakter bocah. Minangka sekolah unggulan, SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan netepi komitmen kasebut liwat program “Selasa Berbahasa Jawa”. Apa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/">BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="5"><b data-path-to-node="5" data-index-in-node="0">Edisi Khusus: Selasa Berbahasa Jawa – Nguri-uri Budaya, Mbangun</b></p>
<p data-path-to-node="5"><b data-path-to-node="5" data-index-in-node="0"> KarakterKUDUS</b> — Basa Jawa minangka salah siji pusaka budaya sing kebak nilai luhur. Ing jerone, ana piwulang tata krama, unggah-ungguh, lan sopan santun kang wigati banget kanggo pambentukan karakter bocah. Minangka sekolah unggulan, SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan netepi komitmen kasebut liwat program <b data-path-to-node="5" data-index-in-node="299">“Selasa Berbahasa Jawa”</b>.</p>
<h3 data-path-to-node="6"><b data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Apa Iku Selasa Berbahasa Jawa?</b></h3>
<p data-path-to-node="7">Program iki dudu mung sesrawungan biasa, nanging ajakan kanggo kabeh warga sekolah—guru, karyawan, lan siswa—supaya:</p>
<ol start="1" data-path-to-node="8">
<li>
<p data-path-to-node="8,0,0"><b data-path-to-node="8,0,0" data-index-in-node="0">Nggunakake basa Jawa</b> nalika komunikasi ing lingkungan sekolah.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="8,1,0"><b data-path-to-node="8,1,0" data-index-in-node="0">Sinau bedane tembung ngoko lan krama</b> supaya pas karo sapa sing diajak guneman.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="8,2,0"><b data-path-to-node="8,2,0" data-index-in-node="0">Nerapake unggah-ungguh</b> utamane marang guru, kanca, lan wong tuwa.</p>
</li>
</ol>
<h3 data-path-to-node="9"><b data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Kegiatan lan Pasinaon</b></h3>
<p data-path-to-node="10">Saben dina Selasa, swasana sekolah dadi luwih &#8220;njawani&#8221;. Siswa ora mung sinau teori, nanging langsung praktik liwat:</p>
<ul data-path-to-node="11">
<li>
<p data-path-to-node="11,0,0"><b data-path-to-node="11,0,0" data-index-in-node="0">Dialog cekak</b> nganggo basa Jawa sing bener.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="11,1,0"><b data-path-to-node="11,1,0" data-index-in-node="0">Maca crita rakyat</b> utawa paribasan kanggo nambah wawasan.</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="11,2,0"><b data-path-to-node="11,2,0" data-index-in-node="0">Nembang lagu dolanan</b> supaya swasana sinau dadi nyenengake.</p>
</li>
</ul>
<blockquote data-path-to-node="12">
<p data-path-to-node="12,0"><b data-path-to-node="12,0" data-index-in-node="0">“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”</b> <i data-path-to-node="12,0" data-index-in-node="53">(Regane wong katon saka omongane lan tumindake)</i></p>
</blockquote>
<h3 data-path-to-node="13"><b data-path-to-node="13" data-index-in-node="0">Pojok Kosakata (Kamus Cilik)</b></h3>
<p data-path-to-node="14">Ayo bocah-bocah, bareng-bareng dicoba digunakake saben dina ya!</p>
<ul data-path-to-node="15">
<li>
<p data-path-to-node="15,0,0"><b data-path-to-node="15,0,0" data-index-in-node="0">Sugeng enjing:</b> Selamat pagi</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,1,0"><b data-path-to-node="15,1,0" data-index-in-node="0">Matur nuwun:</b> Terima kasih</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,2,0"><b data-path-to-node="15,2,0" data-index-in-node="0">Nyuwun sewu:</b> Permisi / mohon maaf</p>
</li>
<li>
<p data-path-to-node="15,3,0"><b data-path-to-node="15,3,0" data-index-in-node="0">Panjenengan:</b> Anda (kanggo wong sing luwih sepuh)</p>
</li>
</ul>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/selasa-berbahasa-jawa-sd-muhammadiyah-pasuruhan/">BULETIN SEKOLAH: SD Unggulan Muhammadiyah Pasuruhan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2026 02:28:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perintah pertama yang sering dirujuk dalam konteks keagamaan dan dianggap mengubah dunia adalah “Bacalah “ atau “Iqra”. Perintah ini merupakan wahyu pertama dalam Al-Qur’an, menekankan pentingnya pengetahuan, literasi, dan pembelajaran sebagai fondasi peradaban manusia.Membaca merupakan sebuah praktik dan kebiasaan yang sangat penting dalam perkembangan intelektual dan social suatu masyarakat. Salah satu realitas yang tidak bisa [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/">PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perintah pertama yang sering dirujuk dalam konteks keagamaan dan dianggap mengubah dunia adalah “Bacalah “ atau “Iqra”. Perintah ini merupakan wahyu pertama dalam Al-Qur’an, menekankan pentingnya pengetahuan, literasi, dan pembelajaran sebagai fondasi peradaban manusia.Membaca merupakan sebuah praktik dan kebiasaan yang sangat penting dalam perkembangan intelektual dan social suatu masyarakat.</p>
<p>Salah satu realitas yang tidak bisa dipungkiri adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001% Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang memiliki kebiasaan membaca secara aktif. Sementara itu menurut survei Badan Pusat Statistik ( BPS ) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10 % penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Kondisi itu sangat memprihatinkan, terutama bagi negara dengan mayoritas penduduk muslim. Situasi ini sangat kontras dengan penduduk negara-negara maju seperti Jepang dan Finlandia ( literasi kuat dan system pendidikan inklusif ).</p>
<p>Dalam laporan peringkat literasi membaca Indonesia bervariasi tergantung surveinya, namun umumnya masih rendah, pada PISA( Programme for International Student Assessment ) tahun  2022, Indonesia berada peringkat 71 dari 81 negara, di Asia Tenggara masih di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Brunei Darussalam, dengan sekor literasi membaca 359, jauh di bawah rata-rata dunia. Sementara itu, studi lain menyebut Indonesia peringkat 31 dari 102 negara ( 2024 ) untuk kegemaran membaca, dengan minat baca sangat rendah ( hanya 1 dari 1000 orang rajin membaca).</p>
<p>Keberadaan gawai pintar ( smart Phone ) turut serta menjadi tantangan tersendiri, karena seringkali lebih banyak mendorong generasi muda tuk bermain game ketimbang membaca. Lebih banyak bermain media social dari pada menelaah buku-buku maupun kitab suci Al -Qur’an sebagai rujukan berbagai ilmu pengetahuan di dunia. Sehingga budaya membaca, menulis, menelaah, dan budaya literasi lainya hilang seiring dengan menjamurnya gawai pintar ( smart Phone).</p>
<p>Jika kita kembali kepada paradigm yang dibangun oleh wahyu Ilahi, maka wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, adalah perintah membaca pertama dalam Al-Qur’an adalah “ Iqra’  <strong><b>(</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b>اقرأ</b></strong><strong><b> </b></strong><strong><b>)</b></strong> “ yang berarti bacalah, berasal dari wahyu pertama ( Surat Al- ‘Alaq  Ayat 1.  <strong><b>اِقْرَأْ بِسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَق</b></strong><strong><b> .</b></strong>Bacalah ( wahai Muhammad ) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk ). (Q.S Al-Alaq 96 :1).</p>
<p>Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa membaca bukan hanya teks, tapi juga membaca alam semesta, diri sendiri, dan tanda-tanda kebesaran Tuhan sebagai kunci pengetahuan, peradaban dan keimanan yang kokoh. Perintah ini menjadi fondasi literasi Islam, yang mendorong umat untuk memahami, merenung, dan belajar sepanjang hayat, bukan sekedar menghafal atau membaca tanpa makna. Perintah dari Allah kepada rasul-Nya bukanlah shalat ataupun zakat, melainkan membaca , sebuah perintah untuk membuka wawasan dan kesadaran intelektual. Ironisnya, umat Islam justru mengalami kegersangan budaya ilmu.</p>
<p>Makna “ Iqra “ Lebuh Dalam</p>
<ol>
<li><b></b><strong><b>Bukan Hanya teks tertulis</b></strong>: Jibril tidak membawa naskah, artinya “ Iqra” melampau membaca buku, ini adalah perintah membaca fenomena alam, social, sejarah, dan diri sendiri</li>
<li><b></b><strong><b>Sumber Ilmu dan Peradaban: </b></strong>Membaca adalah jalan dari tidak tahu menjadi tahu, menjadi sumber pengetahuan untuk membangun peradaban dan umat yang berilmu.</li>
<li><b></b><strong><b>Membaca dengan Hati :</b></strong>Memahami makna. Merenungkan, dan mengamalkan, bukan sekedar membaca tanpa penghayatan atau hanya judul.</li>
</ol>
<p><strong><b>Penerapan Prinsip</b></strong> <strong><b>“Iqra” dalam Kehidupan </b></strong></p>
<ol>
<li><b></b><strong><b>Literasi Digital :</b></strong>Sebelum menyebar informasi, teliti sumbernya ( Verifikasi ), baca dengan hati, dan sebarkan yang bermanfaat.</li>
<li><b></b><strong><b>Membangun Peradaban:</b></strong>Jadikan ilmu bekal hidup, bukan hanya hiasan, agar iman tidak kosong dari pengetahuan dan akal tidak berjalan tanpa cahaya wahyu</li>
<li><b></b><strong><b>Kunci Kebangkitan :</b></strong>Mengembalikan semangat “ Iqra “ adalah seruan untuk bangkit dan hidup bermakna dengan berpikir jernih dan mengabdi pada kebenaran.</li>
</ol>
<p>Iqra’ adalah titah awal yang menjadi fondasi dari seluruh rangkaian wahyu, dan memiliki daya transformasi luar biasa , ia mengubah cara pandang, jiwa, dan akal masyarakat Arab dan selanjutnya menginspirasi dunia. Tidak dapat dipungkiri, kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan tehnologi Barat pun tidak lepasi sumbang sih peradaban Islam. Pada masa Dinasti Abbasiyah menjadi lumbung ilmu pengetahuan dunia. Disana berlangsung kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, pengembangan ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dll. Barat banyak beruntung pada peradaban Islam dalam hal pengembangan Ilmu.</p>
<p>Iqra’ menawarkan fondasi epistemic yang kokoh. Ia bukan hanya identitas keilmuan seorang Muslim. Melainkan juga sumber inspirasi yang tak akan pernah kering oleh waktu atau zaman. Karena Iqra’adalah titah Ilahi dari pemilik kehidupan dunia dan akhirat.</p>
<p><em><strong>Penulis: Mufawazah, S.Ag Guru MI Muh. Bae</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/perintah-pertama-yang-mengubah-dunia/">PERINTAH PERTAMA YANG MENGUBAH DUNIA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2026 04:29:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6393</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Kudus menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 di Hotel @HOM Kudus, Sabtu (9 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan serta penguatan tata kelola kelembagaan Lazismu ke depan. Rakerda Lazismu Kudus 2026 mengusung tema “Transparansi, Sinergi, dan Penguatan Kelembagaan” [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/">Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KUDUS – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Kudus menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2026 di Hotel @HOM Kudus, Sabtu (9 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan serta penguatan tata kelola kelembagaan Lazismu ke depan.<img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6395" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3561-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Rakerda Lazismu Kudus 2026 mengusung tema “Transparansi, Sinergi, dan Penguatan Kelembagaan” dan dihadiri oleh jajaran pengurus Lazismu serta perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, yakni drs. Zulfa Kurniawan, M.S.E., Ali Zamroni, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Moh Inami, M.Ag.<img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6398" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3571-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></p>
<p>Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan yang disampaikan oleh drs. Zulfa Kurniawan, M.S.E., yang menekankan pentingnya profesionalisme, transparansi, serta kolaborasi antarunsur persyarikatan dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan pembukaan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr. Moh Inami, M.Ag.</p>
<p>Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan agenda inti Rakerda Lazismu. Pada sesi awal, disampaikan laporan kinerja Lazismu Kudus oleh Ustadz Umar Teguh Sabda Laksana, S.Pd.I., yang memaparkan capaian program, penghimpunan, serta penyaluran dana ZIS selama periode sebelumnya.</p>
<p>Agenda berikutnya diisi dengan materi fikih zakat yang disampaikan oleh Dewan Syariah Lazismu, yakni Ustadz Abdul Wachid, S.Pd.I., M.H., sebagai penguatan pemahaman syariah dalam pengelolaan dan pendistribusian dana zakat agar tetap sesuai dengan ketentuan Islam.</p>
<p>Rakerda kemudian dilanjutkan dengan penyepakatan rencana penghimpunan dan penyaluran dana ZIS tahun 2026, dengan target sebesar Rp5,6 miliar. Target tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat program Lazismu, khususnya di bidang sosial kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi umat di Kabupaten Kudus.</p>
<p>Melalui Rakerda ini, Lazismu Kudus menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kinerja lembaga secara akuntabel, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.</p>
<p>dalam rangka Rakerda, Lazismu kudus membagikan Penghargaan sebagai apresiasi kantor layanan Cabang dan Amal usaha muhammadiyah, berikut daftar kantor layanan yang mendapatkan penghargaan.:</p>
<p>1. Penghargaan Administrasi terbaik diraih oleh KL PCM kota<img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6414" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491.jpeg" alt="" width="834" height="623" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491.jpeg 834w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-300x224.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-768x574.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-562x420.jpeg 562w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-150x112.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-696x520.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-3-e1768029262491-265x198.jpeg 265w" sizes="(max-width: 834px) 100vw, 834px" /></p>
<p>2. penghargaan penghimpun zis terbanyak diraih oleh KL PCM Gebog<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6413" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488.jpeg" alt="" width="960" height="766" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-300x239.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-768x613.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-526x420.jpeg 526w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-150x120.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-2-e1768029362488-696x555.jpeg 696w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>3. Penghargaan penghimpun zis AUM dan penghargaan petembuhan kantor layanan diraih oleh KL RS Sarkies Kudus<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6402" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-scaled.jpeg" alt="" width="2560" height="1920" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-scaled.jpeg 2560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-300x225.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1024x768.jpeg 1024w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-768x576.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1536x1152.jpeg 1536w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-2048x1536.jpeg 2048w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-560x420.jpeg 560w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-150x113.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-696x522.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1068x801.jpeg 1068w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-1920x1440.jpeg 1920w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG_3592-265x198.jpeg 265w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6412" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958.jpeg" alt="" width="960" height="713" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-300x223.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-768x570.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-565x420.jpeg 565w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-80x60.jpeg 80w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-150x111.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-485x360.jpeg 485w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-696x517.jpeg 696w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.20-1-e1768029430958-265x198.jpeg 265w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>5. penghargaan Konten Fundrising teraktif diraih oleh Pesantren Muhammadiyah Kudus<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6411" src="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853.jpeg" alt="" width="960" height="766" srcset="https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853.jpeg 960w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-300x239.jpeg 300w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-768x613.jpeg 768w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-526x420.jpeg 526w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-150x120.jpeg 150w, https://www.kudusmu.id/wp-content/uploads/2026/01/WhatsApp-Image-2026-01-10-at-14.10.19-e1768029523853-696x555.jpeg 696w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/rakerda-lazismu-kudus-2026-2/">Lazismu Kudus Gelar Rakerda 2026, Perkuat Transparansi dan Sinergi Kelembagaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 08:06:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6371</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Tunjung Eko Wibowo Penghujung tahun 2025 bukan sekadar pergantian kalender bagi Muhammadiyah, melainkan sebuah momentum &#38;quot;muhasabah&#38;quot; (evaluasi diri) yang mendalam. Di tengah dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan domestik yang kompleks, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini terus berupaya mengaktualisasikan semangat Islam Berkemajuan dalam setiap gerak langkahnya. Tahun ini menjadi saksi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/">Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Oleh: Tunjung Eko Wibowo</div>
<div></div>
<div>Penghujung tahun 2025 bukan sekadar pergantian kalender bagi Muhammadiyah,</div>
<div>melainkan sebuah momentum &amp;quot;muhasabah&amp;quot; (evaluasi diri) yang mendalam. Di</div>
<div>tengah dinamika global yang kian tak menentu dan tantangan domestik yang</div>
<div>kompleks, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini terus berupaya</div>
<div>mengaktualisasikan semangat Islam Berkemajuan dalam setiap gerak langkahnya.</div>
<div>Tahun ini menjadi saksi bagaimana Muhammadiyah bertransformasi dari gerakan</div>
<div>konvensional menuju organisasi berbasis data, sembari tetap menjaga akar</div>
<div>tunggangnya pada kemanusiaan dan kesejahteraan umat.</div>
<div>Di penghujung tahun yang tidak sedang baik-baik saja. Gejolak iklim yang memicu</div>
<div>bencana di berbagai penjuru tanah air, disrupsi teknologi yang mengancam</div>
<div>lapangan kerja konvensional. Hingga isu ketimpangan ekonomi yang kian lebar</div>
<div>menjadi tajuk utama. Di tengah badai ini, Muhammadiyah sebagai salah satu</div>
<div>jangkar terbesar masyarakat sipil Indonesia yang berdiri di persimpangan jalan yang</div>
<div>krusial.</div>
<div>Muhammadiyah bukan sekadar periode administratif, melainkan tahun &amp;quot;Ijtihad</div>
<div>Transformasi&amp;quot;. Dari ruang-ruang rapat muncul sebuah kesadaran baru, bahwa Islam</div>
<div>Berkemajuan tidak boleh hanya berhenti di podium pidato. Ia harus mendarat di</div>
<div>aplikasi ponsel pintar, di kesejahteraan para guru honorer, hingga di etika penggalian</div>
<div>lubang tambang.</div>
<div>Islam Berkemajuan Sebagai Kompas di Tengah Disrupsi</div>
<div>Islam Berkemajuan bukanlah slogan statis, melainkan sebuah ijtihad peradaban.</div>
<div>Muhammadiyah memandang bahwa di tahun 2025, tantangan umat Islam tidak lagi</div>
<div>sekadar pada persoalan ubudiyah, tetapi pada sejauh mana nilai-nilai agama</div>
<div>mampu menjawab krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan disrupsi teknologi.</div>
<div>Refleksi tahun ini menegaskan bahwa menjadi &amp;quot;berkemajuan&amp;quot; berarti berani keluar</div>
<div>dari zona nyaman. Muhammadiyah tidak hanya bicara tentang sejarah kebesaran</div>
<div>masa lalu, tetapi aktif memproduksi solusi nyata. Pandangan Islam Berkemajuan di</div>
<div>2025 diwujudkan melalui penguatan literasi publik dan moderasi beragama yang</div>
<div>tidak lagi bersifat defensif, melainkan proaktif dalam membangun dialog</div>
<div>antarkelompok.</div>
<div>Lompatan Digital Menuju Ekosistem Cerdas</div>
<div>Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah dengan diluncurkannya platform SatuMu (Satu</div>
<div>Muhammadiyah). Ini sebagai langkah berani dalam penataan organisasi menuju</div>
<div></div>
<div>digitalisasi total. Selama ini data Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar</div>
<div>di ribuan titik sering kali mengalami fragmentasi.</div>
<div>Dengan digitalisasi, Muhammadiyah kini mulai mengintegrasikan sistem</div>
<div>administrasi, keuangan, hingga manajemen kader dalam satu ekosistem digital.</div>
<div>Penataan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk transparansi dan</div>
<div>akuntabilitas publik. Ke depan, digitalisasi ini diharapkan mampu memangkas</div>
<div>birokrasi internal yang kaku, sehingga keputusan-keputusan strategis organisasi</div>
<div>dapat diambil berdasarkan basis data (data driven) yang akurat.</div>
<div>Dengan sistem digital yang terintegrasi, Muhammadiyah sedang membangun</div>
<div>transparansi. Tidak boleh lagi ada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang merasa</div>
<div>sebagai &amp;quot;kerajaan kecil&amp;quot; yang tertutup. Digitalisasi adalah jalan pedang</div>
<div>Muhammadiyah untuk memastikan bahwa setiap rupiah dana umat dikelola dengan</div>
<div>akuntabilitas tinggi yang bisa dipantau secara presisi.</div>
<div>Kesejahteraan Pegawai Kala Menatap 2026 dengan Rasa Optimisme</div>
<div>Salah satu isu yang paling sensitif namun esensial dalam refleksi 2025 adalah</div>
<div>kesejahteraan Sumber Daya Insani (SDI). Tidak dapat dipungkiri, terdapat</div>
<div>kesenjangan antara AUM yang sudah mapan (profit-oriented) dengan unit-unit</div>
<div>dakwah di akar rumput yang masih berjuang secara finansial.</div>
<div>Harapan besar diletakkan pada tahun 2026. Muhammadiyah sedang merancang</div>
<div>skema Manajemen Terpusat yang lebih berkeadilan. Fokusnya adalah</div>
<div>meningkatkan kesejahteraan guru-guru di sekolah dasar terpencil, perawat di klinik</div>
<div>kecil, serta karyawan anak usaha Muhammadiyah agar memiliki standar pendapatan</div>
<div>yang layak dan jaminan sosial yang lebih baik. Prinsipnya jelas: Muhammadiyah</div>
<div>tidak boleh menjadi organisasi yang kaya secara aset, namun membiarkan para</div>
<div>penggeraknya hidup dalam kekurangan. Kesejahteraan pegawai adalah prasyarat</div>
<div>mutlak bagi keberlanjutan dakwah.</div>
<div>Salah satu kritik yang paling jujur dalam refleksi tahun ini adalah tentang</div>
<div>kesejahteraan. Kita sering terpukau dengan megahnya gedung universitas atau</div>
<div>rumah sakit Muhammadiyah di kota besar, namun terkadang lupa pada guru-guru di</div>
<div>sekolah dasar pinggiran atau karyawan di unit usaha kecil.</div>
<div>Target besar di tahun 2026 adalah Standarisasi Kesejahteraan Pegawai.</div>
<div>Muhammadiyah sedang merumuskan skema subsidi silang antar AUM. Harapannya</div>
<div>surplus dari AUM besar dapat menyangga kesejahteraan pegawai di unit usaha</div>
<div>yang masih merangkak. Ini adalah ujian moral di organisasi ini. Mampukah</div>
<div>Muhammadiyah menyejahterakan orang-orang di dalamnya sebelum bicara</div>
<div>menyejahterakan umat secara luas? 2026 harus menjadi tahun di mana para</div>
<div>pengabdi di Muhammadiyah merasa bahwa organisasi ini adalah &amp;quot;rumah&amp;quot; yang tidak</div>
<div>hanya memberi berkah ukhrawi, tapi juga martabat finansial yang layak.</div>
<div>Evaluasi Konsesi Tambang dan Jihad Lingkungan</div>
<div></div>
<div>Tahun 2025 juga diwarnai dengan polemik keputusan Muhammadiyah menerima</div>
<div>konsesi tambang. Secara internal dan eksternal, evaluasi terus dilakukan dengan</div>
<div>ketat. Muhammadiyah menyadari bahwa masuk ke industri ekstraktif adalah pisau</div>
<div>bermata dua.</div>
<div>Di satu sisi, ini adalah ikhtiar kemandirian ekonomi organisasi. Namun di sisi lain,</div>
<div>taruhan moralnya sangat tinggi. Muhammadiyah berkomitmen untuk menerapkan</div>
<div>Green Mining atau pertambangan yang berwawasan lingkungan. Evaluasi akhir</div>
<div>tahun menekankan bahwa jika pengelolaan tambang ini tidak mampu memberikan</div>
<div>manfaat bagi masyarakat sekitar atau justru merusak ekologi, maka Muhammadiyah</div>
<div>harus berani mengambil langkah mundur demi marwah organisasi. Muhammadiyah</div>
<div>tidak ingin &amp;quot;jihad ekonomi&amp;quot; ini mencederai &amp;quot;jihad lingkungan&amp;quot; yang selama ini</div>
<div>disuarakan.</div>
<div>Muhammadiyah kini berada di bawah mikroskop publik. Muhammadiyah harus</div>
<div>membuktikan bahwa mereka bisa melakukan apa yang gagal dilakukan banyak</div>
<div>korporasi, yaitu pertambangan yang tidak meninggalkan luka pada bumi. Evaluasi</div>
<div>ketat sedang berjalan. Jika konsesi tambang ini justru memperparah bencana atau</div>
<div>meminggirkan masyarakat lokal, Muhammadiyah harus memiliki keberanian moral</div>
<div>untuk mengevaluasi total keberadaannya di sektor tersebut. Islam Berkemajuan</div>
<div>adalah Islam yang menjaga pohon tetap berdiri dan sungai tetap jernih.</div>
<div>Dan alangkah baiknya jika memang Muhammadiyah tidak ada kompetensi dalam</div>
<div>bidang pertambangan, alangkah lebih baik mengembalikan konsesi tambang tsb</div>
<div>pada pemerintah. Jangan sampai konsesi tambang yang diterima, justru menjadi</div>
<div>sebuah pembungkaman terhadap eksistensi Muhammadiyah.</div>
<div>Resiliensi Menghapi Bencana</div>
<div>Seiring dengan isu lingkungan, serangkaian bencana alam yang melanda Indonesia</div>
<div>di penghujung 2025, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor menjadi</div>
<div>pengingat keras bahwa resiliensi harus menjadi prioritas. Dalam pandangan</div>
<div>Muhammadiyah, kebencanaan bukan sekadar peristiwa alam atau takdir semata,</div>
<div>melainkan sebuah panggilan iman untuk melakukan &amp;quot;Jihad Kemanusiaan&amp;quot; yang</div>
<div>terukur.</div>
<div>Pencegahan bencana dimulai dari meja-meja kajian dan kurikulum pendidikan</div>
<div>melalui konsep Eco-Theology. Muhammadiyah meyakini bahwa menjaga ekosistem</div>
<div>adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah, sehingga ke depan setiap pembangunan</div>
<div>AUM wajib melalui audit ekologi yang ketat untuk memastikan infrastruktur kita</div>
<div>menjadi benteng penyelamat, bukan perangkap nyawa.</div>
<div>Upaya meminimalisir korban jiwa juga diwujudkan melalui transformasi MDMC</div>
<div>(Muhammadiyah Disaster Management Center) menuju versi yang lebih profesional</div>
<div>dengan spesialisasi keahlian tinggi. Melalui gerakan &amp;quot;Satu Masjid, Satu Regu</div>
<div>Tangguh&amp;quot;, Muhammadiyah memproyeksikan lahirnya tim-tim kecil di tingkat ranting</div>
<div>yang mampu melakukan evakuasi mandiri dalam &amp;quot;Golden Time&amp;quot; 15 menit pertama</div>
<div></div>
<div>yang krusial. Didukung oleh integrasi teknologi peringatan dini dalam aplikasi</div>
<div>SatuMu, informasi ancaman bencana kini dapat tersampaikan secara real-time ke</div>
<div>genggaman para kader, memungkinkan tindakan mitigasi diambil lebih awal sebelum</div>
<div>bencana mencapai puncaknya.</div>
<div>Namun, refleksi 2025 menggeser paradigma dari sekadar &amp;quot;tanggap darurat&amp;quot; menuju</div>
<div>&amp;quot;resiliensi berkelanjutan&amp;quot;. Muhammadiyah mendorong mitigasi bencana berbasis</div>
<div>komunitas. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah Muhammadiyah disiapkan menjadi</div>
<div>titik evakuasi yang mandiri. Penanganan bencana bukan lagi soal memberikan</div>
<div>sembako, melainkan bagaimana membangun kembali mental dan ekonomi</div>
<div>masyarakat pascabencana agar tidak jatuh ke dalam kemiskinan permanen.</div>
<div>Jembatan Budaya dengan Merangkul Muallaf dan Pluralitas</div>
<div>Muhammadiyah terus memantapkan perannya sebagai jembatan budaya. Melalui</div>
<div>Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), perhatian terhadap kaum muallaf ditingkatkan.</div>
<div>Dakwah bagi muallaf tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga</div>
<div>pendampingan sosial dan ekonomi.</div>
<div>Di wilayah-wilayah dengan basis budaya yang kuat, Muhammadiyah memilih jalan</div>
<div>&amp;quot;Dakwah Kultural&amp;quot;. Menghargai tradisi lokal tanpa harus kehilangan jati diri tauhid.</div>
<div>Muhammadiyah hadir sebagai peneduh, merangkul mereka yang baru mengenal</div>
<div>Islam dengan wajah yang ramah, bukan marah. Ini adalah manifestasi dari rahmatan</div>
<div>lil &amp;#39;alamin—menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk bagi kelompok-kelompok</div>
<div>minoritas dan marginal.</div>
<div>Menatap 2026</div>
<div>Menyongsong tahun 2026, Muhammadiyah memikul tanggung jawab besar untuk</div>
<div>membuktikan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar teori di atas kertas.</div>
<div>Penataan digital yang kuat, kesejahteraan pegawai yang terjamin, pengelolaan</div>
<div>sumber daya alam yang etis, serta ketangguhan dalam menghadapi bencana adalah</div>
<div>indikator keberhasilan yang akan terus diperjuangkan.</div>
<div>Muhammadiyah akan terus bergerak, melintasi zaman, sembari memastikan tidak</div>
<div>ada satu pun warga bangsa yang tertinggal dalam gerbong kesejahteraan. Karena</div>
<div>pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan tidak diukur dari megahnya gedung</div>
<div>yang dibangun, melainkan dari seberapa banyak air mata yang mampu diusap dan</div>
<div>seberapa banyak martabat manusia yang mampu diangkat.</div>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/refleksi-muhammadiyah-2025-islam-berkemajuan/">Meneguhkan Ijtihad Kemanusiaan Dalam Refleksi Muhammadiyah 2025 dan Arsitektur Masa Depan 2026</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 06:30:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6368</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Asmaul Chusna,S.E Assalamu’alaikum.wr.wb Segala puji bagi Allah SWT yang selalu dan senantiasa memberikan kita nikmat yang terhitung jumlahnya,baik nikmat islam,iman ,sehat dan sempat,sehingga sampai saat ini kita masih bisa saling berbagi ilmu dengan cara belajar dan juga membaca artikel yang bermanfaat. Tahukah anda,kegunaan mulut yang telah Allah berikan pada kita?tentu saja untuk makan,minum [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/">ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh : Asmaul Chusna,S.E</h4>
<h4>Assalamu’alaikum.wr.wb</h4>
<p>Segala puji bagi Allah SWT yang selalu dan senantiasa memberikan kita nikmat yang terhitung jumlahnya,baik nikmat islam,iman ,sehat dan sempat,sehingga sampai saat ini kita masih bisa saling berbagi ilmu dengan cara belajar dan juga membaca artikel yang bermanfaat.</p>
<p>Tahukah anda,kegunaan mulut yang telah Allah berikan pada kita?tentu saja untuk makan,minum dan lebih lebih untuk BERBICARA.dalam agama kita,berbicara tidak asal ngomong saja,tapi harus disertai dengan etika yang baik,sopan santun dan juga adab.</p>
<p>Adab berbicara adalah tata krama dan etika yang harus diperhatikan saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam Islam, berbicara bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga merupakan suatu bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan baik dan benar. Komunikasi yang santun mencerminkan akhlak seorang Muslim dan muslimah yang dapat mempererat hubungan antar sesama.</p>
<p>Adab berbicara dalam islam harus dilandasi dengan Al Qur’an dan juga Hadits,agar apa yang kita ucapkan akan selalu membawa kebaikan dan keberkahan.</p>
<p>Islam menekankan pentingnya berbicara dengan baik. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)</p>
<p>Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu berbicara dengan jujur dan benar, serta menghindari ucapan yang tidak baik.</p>
<p>Rasulullah SAW juga memberikan contoh yang baik dalam berbicara. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa kita harus memilih kata-kata yang baik atau lebih baik diam jika tidak ada yang perlu dan baik untuk kita katakan.</p>
<p><em><i>Adapun Adab Berbicara kepada Orang Lain,antara lain adalah</i></em> :</p>
<ol>
<li><strong><b>Menggunakan Bahasa yang Santun</b></strong>: Pilihlah kata-kata yang sopan dan santun saat berbicara. Hindari bahasa kasar atau menyinggung perasaan orang lain.</li>
<li><strong><b>Mendengarkan dengan Baik</b></strong>: Berikan perhatian penuh saat orang lain berbicara. Mendengarkan adalah bagian penting dari komunikasi yang baik untuk menunjukkan rasa hormat.</li>
<li><strong><b>Menghindari Menginterupsi</b></strong>: Jangan memotong pembicaraan orang lain. Biarkan mereka menyampaikan pendapat atau cerita mereka hingga selesai.</li>
<li><strong><b>Menghindari Ghibah (Gosip</b></strong>): Jangan membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka. Ghibah adalah tindakan yang dilarang dalam Islam dan dapat merusak hubungan antar sesama.</li>
<li>5<strong><b>. Bersikap Sabar dan Toleran</b></strong>: Dalam berdiskusi atau berdebat, penting untuk bersikap sabar dan toleran terhadap pandangan orang lain. Hormati perbedaan pendapat tanpa perlu memaksakan pendapat kita.</li>
<li><strong><b>Berbicara dengan Tujuan yang Baik</b></strong>: Pastikan bahwa setiap ucapan yang kita sampaikan memiliki tujuan yang baik dan konstruktif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</li>
<li>Mendoakan Kebaikan: Saat berbicara tentang orang lain, termasuk dalam diskusi, berdoalah untuk kebaikan mereka. Ini akan menciptakan suasana positif dan penuh kasih sayang.</li>
</ol>
<p><strong><em><b><i>Manfaat  Adab Berbicara dengan orang lain,antara lain :</i></b></em></strong></p>
<p>1<strong><b>.Mendapatkan Ridha Allah</b></strong>: Dengan menerapkan adab berbicara, kita berupaya untuk mendapatkan ridha Allah SWT, karena setiap perkataan yang baik adalah amal yang mulia.</p>
<p>2.<strong><b>Menjaga Nama Baik</b></strong>: Berbicara dengan baik akan menjaga nama baik kita di mata orang lain dan mencerminkan akhlak yang baik.</p>
<ol start="3">
<li><strong><b>Membangun Hubungan yang Baik</b></strong>: Komunikasi yang santun dan baik akan mempererat hubungan antar sesama dan menciptakan suasana yang harmonis..</li>
<li><strong><b>Menciptakan Suasana Positif</b></strong>: Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang positif, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.</li>
</ol>
<p>Jadi,Adab berbicara kepada orang lain adalah aspek penting dalam etika sosial dan akhlak seorang Muslim dan muslimah. Dengan demikian berbicara dengan baik, kita dapat membangun komunikasi yang efektif dan menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Marilah kita berusaha untuk selalu menerapkan adab berbicara dalam kehidupan sehari-hari, agar setiap interaksi kita menjadi bermakna dan membawa kebaikan. Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu berbicara dengan baik dan penuh sopan santun. Aamiin.</p>
<h4> <em><i>BUNGA MAWAR BUNGA MELATI</i></em></h4>
<h4><em><i>HARUM SEMERBAK,WANGI BAUNYA</i></em></h4>
<h4><em><i>AYO,BELAJAR BERBICARA DENGAN HATI-HATI</i></em></h4>
<h4><em><i>AGAR TIDAK MENYAKIT DAN JADI PANUTANNYA</i></em></h4>
<h4><em><i>Wassalamu’alaikum.Wr.Wb.</i></em></h4>
<h4><em><i>SEMOGA BERMANFAAT</i></em></h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/adab-berbicara-dalam-islam/">ADAB BERBICARA PADA ORANG LAIN DAN MANFAATNYA UNTUK KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Kader Unggulan Muhammadiyah: Proses Perbaikan Diri Berbasis Ideologi, Iman, dan Amal Berkemajuan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/membangun-kader-unggulan-muhammadiyah-proses-perbaikan-diri-berbasis-ideologi-iman-dan-amal-berkemajuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2025 03:57:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6306</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis : Yudi Kristianto, S.Pd Peserta Sekolah Tabligh Muhammadiyah dari Kudus Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jekulo Kudus Muhammadiyah adalah salah satu organisasi paling modern yang ada di Indonesia.Muhammadiyah lahir bukan semata sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid yang bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/membangun-kader-unggulan-muhammadiyah-proses-perbaikan-diri-berbasis-ideologi-iman-dan-amal-berkemajuan/">Membangun Kader Unggulan Muhammadiyah: Proses Perbaikan Diri Berbasis Ideologi, Iman, dan Amal Berkemajuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Penulis : Yudi Kristianto, S.Pd</h4>
<h4>Peserta Sekolah Tabligh Muhammadiyah dari Kudus</h4>
<h4>Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jekulo Kudus</h4>
<p>Muhammadiyah adalah salah satu organisasi paling modern yang ada di Indonesia.Muhammadiyah lahir bukan semata sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai <strong><b>gerakan Islam, dakwah, dan tajdid</b></strong> yang bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah pada hakikatnya adalah <strong><b>subjek ideologis</b></strong> yang memikul amanah perjuangan, bukan sekadar pelaku aktivitas organisasi. Kader unggulan Muhammadiyah hanya dapat lahir melalui proses perbaikan diri yang sadar, sistematis, dan berkesinambungan, berlandaskan iman, ilmu, dan amal.</p>
<ol>
<li><strong><b> Perbaikan Akidah dan Keikhlasan sebagai Fondasi Ideologis</b></strong></li>
</ol>
<p>Manhaj Kepribadian Muhammadiyah (MKCH) menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah <em><i>“gerakan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah”</i></em>. Maka, langkah pertama kader dalam memperbaiki diri adalah <strong><b>memurnikan akidah dan menata niat perjuangan</b></strong>. Kader unggulan adalah mereka yang berjuang karena Allah, bukan karena jabatan, simbol, atau kepentingan duniawi.</p>
<p>Oleh sebab itu para Kader harus ingat bahwa Allah Swt.berfirman :</p>
<p><strong><b>وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ</b></strong><br />
<em><i>“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”</i></em><br />
(QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Demikian pula anjuran Rasulullah ﷺ agar memulai dengan niat yang baik karena :</p>
<p><strong><b>إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</b></strong><br />
<em><i>“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”</i></em><br />
(HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan menegaskan pula bahwa beragama harus melahirkan <strong><b>kesadaran amal</b></strong>, bukan sekadar ritual:</p>
<p><em><i>“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”</i></em></p>
<p>Ungkapan ini menegaskan bahwa kader sejati adalah mereka yang berjuang dengan keikhlasan, bukan menjadikan Persyarikatan sebagai alat kepentingan pribadi.</p>
<ol start="2">
<li><strong><b> Penguatan Ilmu dan Pemikiran Islam Berkemajuan</b></strong></li>
</ol>
<p>Kepribadian Muhammadiyah menempatkan <strong><b>ilmu pengetahuan sebagai sarana utama kemajuan umat</b></strong>. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah wajib memperbaiki diri melalui peningkatan kapasitas intelektual dan kejernihan berpikir. Kader unggulan bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cerdas, kritis, dan berwawasan luas.</p>
<p>Allah Swt. berfirman:</p>
<p><strong><b>قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ</b></strong><br />
<em><i>“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?”</i></em><br />
(QS. Az-Zumar: 9)</p>
<p>Seorang tokoh dan ulama muhammadiyah terkenal, KH. Mas Mansur menegaskan:</p>
<p><em><i>“Islam tidak akan tegak dengan umat yang bodoh dan malas berpikir.”</i></em></p>
<p>Kader Muhammadiyah harus memahami Islam secara <strong><b>rasional, kontekstual, dan berorientasi solusi</b></strong>, sebagaimana prinsip <em><i>Islam Berkemajuan</i></em>—yakni Islam yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan.</p>
<ol start="3">
<li><strong><b> Pembentukan Akhlak dan Keteladanan sebagai Dakwah Nyata</b></strong></li>
</ol>
<p>Keunggulan kader Muhammadiyah tidak berhenti pada penguasaan ideologi dan ilmu, tetapi harus tercermin dalam <strong><b>akhlak dan kepribadian luhur</b></strong>. MKCH menegaskan bahwa Muhammadiyah berjuang dengan <em><i>“menampilkan akhlak Islam yang utama”</i></em>.</p>
<p>Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p><strong><b>إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ</b></strong><br />
<em><i>“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”</i></em><br />
(HR. Ahmad)</p>
<p>Pernah Buya Hamka memberikan nasehat yang begitu indah :</p>
<p><em><i>“Ketinggian iman harus tampak pada ketinggian budi pekerti.”</i></em></p>
<p>Kader unggulan Muhammadiyah harus menjadi <strong><b>teladan moral</b></strong>, menjunjung kejujuran, amanah, kedisiplinan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada kaum lemah. Tanpa akhlak, ideologi akan kehilangan daya dakwahnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong><b> Etos Amal, Profesionalisme, dan Tanggung Jawab Sosial</b></strong></li>
</ol>
<p>Kepribadian Muhammadiyah menegaskan bahwa perjuangan Muhammadiyah adalah <strong><b>amal nyata</b></strong>, bukan sekadar wacana. Oleh karena itu, kader unggulan harus memperbaiki diri dengan menumbuhkan etos kerja tinggi, profesional, dan bertanggung jawab dalam setiap amanah.</p>
<p>Allah Swt. berfirman:</p>
<p><strong><b>وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ</b></strong><br />
<em><i>“Katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.”</i></em><br />
(QS. At-Taubah: 105)</p>
<ol>
<li>AR Fachruddin, seorang tokoh panutan warga muhammadiyah yang sangat karismatik menyatakan:</li>
</ol>
<p><em><i>“Ukuran keberhasilan Muhammadiyah bukan pada banyaknya slogan, tetapi pada kesungguhan amalnya.”</i></em></p>
<p>Profesionalisme dalam Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah, karena amal usaha Persyarikatan merupakan instrumen dakwah dan pelayanan umat.</p>
<ol start="5">
<li><strong><b> Loyalitas Ideologis dan Militansi Berkeadaban</b></strong></li>
</ol>
<p>Kader unggulan Muhammadiyah adalah kader yang <strong><b>setia pada Persyarikatan, ideologi, dan misi perjuangan</b></strong>, tanpa terjebak fanatisme sempit. Militansi kader harus dibingkai dengan kebijaksanaan, keterbukaan, dan semangat ukhuwah.</p>
<p>Almarhum Buya Syafii Maarif dalam suatu kesempatan pernah berpesan :</p>
<p><em><i>“Muhammadiyah akan besar jika kadernya besar secara moral dan pikiran.”</i></em></p>
<p>Perbaikan diri kader berarti menempatkan kepentingan Islam, umat, dan Persyarikatan di atas kepentingan pribadi atau golongan.</p>
<p><strong><b>Penutup</b></strong></p>
<p>Menjadi kader unggulan Muhammadiyah adalah proses ideologis dan spiritual yang menuntut <strong><b>kesadaran diri, kedalaman iman, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, dan kesungguhan amal</b></strong>. Dengan berpegang teguh pada MKCH, Kepribadian Muhammadiyah, serta tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, kader Muhammadiyah akan tumbuh sebagai insan berkemajuan yang siap memikul estafet perjuangan.</p>
<p>Kualitas kader hari ini adalah masa depan Muhammadiyah esok hari. Maka, memperbaiki diri bukan sekadar pilihan, tetapi <strong><b>kewajiban ideologis setiap kader Muhammadiyah</b></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/membangun-kader-unggulan-muhammadiyah-proses-perbaikan-diri-berbasis-ideologi-iman-dan-amal-berkemajuan/">Membangun Kader Unggulan Muhammadiyah: Proses Perbaikan Diri Berbasis Ideologi, Iman, dan Amal Berkemajuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Muhasabah Nasional di Jumat Terakhir 2025: Menutup Lembaran, Membuka Kesadaran Baru</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/muhasabah-nasional-di-jumat-terakhir-2025-menutup-lembaran-membuka-kesadaran-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2025 03:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6301</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh ROKHMAT WIDODO Jumat terakhir 2025 datang seperti jeda panjang sebelum kalender dibalik. Ia bukan hanya tanggal di ujung tahun, tetapi ruang hening untuk menatap kembali jejak negeri yang kita tempuh bersama. Muhasabah nasional menjadi penting—bukan sekadar tradisi, tapi disiplin untuk melihat apa yang telah berhasil, apa yang masih timpang, dan apa yang harus diperbaiki. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/muhasabah-nasional-di-jumat-terakhir-2025-menutup-lembaran-membuka-kesadaran-baru/">Muhasabah Nasional di Jumat Terakhir 2025: Menutup Lembaran, Membuka Kesadaran Baru</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh ROKHMAT WIDODO</h4>
<div>Jumat terakhir 2025 datang seperti jeda panjang sebelum kalender dibalik. Ia bukan hanya tanggal di ujung tahun, tetapi ruang hening untuk menatap kembali jejak negeri yang kita tempuh bersama. Muhasabah nasional menjadi penting—bukan sekadar tradisi, tapi disiplin untuk melihat apa yang telah berhasil, apa yang masih timpang, dan apa yang harus diperbaiki. Tahun ini menyuguhkan rentetan peristiwa: politik yang berliku, ekonomi yang limbung dan bangkit perlahan, bencana yang mengguncang empati bangsa, hingga geliat masyarakat sipil yang kian vokal menuntut keadilan. Semua layak dicatat sebagai lembaran evaluasi, agar bangsa tidak sekadar mengenang, melainkan belajar dengan kepala dingin dan hati yang bersih.</div>
<div></div>
<div>Dalam sektor politik, 2025 memperlihatkan wajah demokrasi yang penuh dinamika. Persaingan antar elite memanas, isu revisi regulasi memecah ruang publik, sementara suara masyarakat akar rumput semakin berani menuntut transparansi. Media sosial menjadi gelanggang perdebatan yang kadang berlebihan namun juga melahirkan kesadaran baru tentang pentingnya partisipasi publik.</div>
<div></div>
<div>Sementara itu, kepercayaan terhadap lembaga publik naik turun mengikuti arah angin kebijakan. Pertanyaan muhasabahnya sederhana namun mendasar: demokrasi ini sedang menguat atau justru didera retak halus yang tak kasat mata? Evaluasi diperlukan berbasis data, bukan hanya persepsi: indeks korupsi, efektivitas anggaran, tingkat partisipasi warga dalam legislasi. Demokrasi sehat menuntut tata kelola yang akuntabel dan pemimpin yang tahan kritik.</div>
<div>Ekonomi nasional menjalani fase pemulihan bertahap. Harga pangan yang tak stabil mengguncang dapur rakyat kecil, sementara sektor digital serta energi hijau menunjukkan geliat progresif.</div>
<div></div>
<div>Pertumbuhan PDB yang positif memang layak disyukuri, namun muhasabah mengingatkan agar kita tak terjebak pada angka statistik. Pertanyaan penting kembali harus diangkat: siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan? Apakah UMKM mendapat akses modal mudah? Apakah peluang industri teknologi tersebar merata hingga luar Jawa? Ketimpangan masih terasa, tetapi peluang juga terbuka lebar jika kebijakan berpihak pada produktivitas nasional, inovasi, serta pembangunan yang merata.</div>
<div></div>
<div>Lingkungan memberikan alarm keras melalui banjir, kekeringan, kabut asap, dan berbagai bencana hidrometeorologis. Krisis iklim tak lagi wacana akademik, melainkan kenyataan yang mengetuk pintu rumah warga. Kerusakan hutan, tambang ilegal, dan tata ruang yang semrawut menambah daftar pekerjaan rumah. Evaluasi berbasis ilmiah mutlak diperlukan—mulai dari rehabilitasi hutan, pengendalian izin industri ekstraksi, hingga penataan kota tahan bencana. Pada saat yang sama, di berbagai wilayah muncul komunitas lingkungan, gerakan penanaman pohon, hingga riset kampus tentang energi terbarukan yang menawarkan harapan baru.</div>
<div></div>
<div>Bidang pendidikan dan sosial menjadi cermin lain yang layak direnungi. Akses pendidikan meningkat, tetapi kualitas belum merata. Di sisi kesehatan, beberapa daerah menghadapi kembali munculnya penyakit menular, sementara isu gizi buruk masih menghantui. Meski begitu, solidaritas masyarakat justru tumbuh: relawan kemanusiaan hadir di lokasi bencana, komunitas literasi menyebar hingga kampung-kampung, dan budaya filantropi bergerak tanpa menunggu perintah. Evaluasi diperlukan pada efektivitas kebijakan publik, peningkatan kualitas guru, penguatan layanan kesehatan primer, serta integrasi teknologi yang mendukung pembelajaran merata.</div>
<div></div>
<div>Sementara itu, ranah hukum dan media menjadi dua medan penting dalam muhasabah nasional. Kasus-kasus besar yang mendapat sorotan publik mengungkap bahwa reformasi hukum masih panjang. Transparansi peradilan, revisi undang-undang yang lebih adil, penegakan hukum tanpa pandang bulu—semua masuk daftar perbaikan. Di dunia digital, arus informasi bergerak cepat, kadang terlalu cepat hingga verifikasi tertinggal. Hoaks mudah menyulut emosi, namun di saat bersamaan lahir pula konten edukatif dan media alternatif yang memperkaya demokrasi. Literasi digital menjadi kunci agar publik tidak mudah terombang-ambing dalam kabar simpang siur.</div>
<div></div>
<div>Pada sisi lain, generasi muda menjadi cahaya yang membuat tahun ini tidak gelap. Mereka menjelma inovator, peneliti, perintis usaha kreatif yang menolak tunduk pada keadaan. Namun tantangan mental health menggema sebagai sinyal agar negara, sekolah, keluarga, dan komunitas menyediakan ruang aman untuk tumbuh. Dukungan psikososial bukan lagi pelengkap, tetapi kebutuhan dasar bagi bangsa yang ingin maju tanpa meninggalkan warganya dalam kesepian.</div>
<div></div>
<div>Jumat terakhir ini menjadi ruang hening yang menyatukan syukur dan introspeksi. Kita patut bangga pada pencapaian pembangunan, pemulihan ekonomi, dan ketangguhan sosial. Namun kita juga wajib jujur pada kekurangan: ketimpangan yang masih lebar, kerusakan lingkungan yang mengancam, kualitas demokrasi yang membutuhkan mata waspada. Muhasabah bukan untuk menyalahkan, melainkan menata langkah baru agar tahun depan lebih tertib dan visioner.</div>
<div></div>
<div>Perubahan besar sering bermula dari hal sederhana—dari warga yang menolak suap kecil, dari pejabat yang memilih transparan meski tak dilihat kamera, dari anak muda yang lebih memilih membaca buku daripada tenggelam dalam perdebatan sia-sia. Serpihan kebaikan kecil ini, bila dijahit bersama, dapat menjadi kekuatan besar bangsa.</div>
<div></div>
<div>Lembaran 2025 segera tertutup. Kita memasuki tahun baru dengan bekal kesadaran: bahwa perjalanan bangsa adalah tanggung jawab bersama, bahwa evaluasi harus melahirkan keputusan konkret, bahwa harapan tak boleh padam meski badai datang berganti. Semoga muhasabah nasional di Jumat terakhir ini tidak berhenti sebagai refleksi di atas kertas, tetapi tumbuh menjadi tindakan nyata di ladang kehidupan. Negara hadir dengan kebijakan, masyarakat hadir dengan kesadaran, pemuda hadir dengan kreativitas—dan Indonesia melangkah lebih matang, lebih berkeadilan, lebih manusiawi.</div>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/muhasabah-nasional-di-jumat-terakhir-2025-menutup-lembaran-membuka-kesadaran-baru/">Muhasabah Nasional di Jumat Terakhir 2025: Menutup Lembaran, Membuka Kesadaran Baru</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wasathiyah Muhammadiyah: Jalan Tengah yang Sering Disalahpahami, Bahkan oleh Mereka yang Mengklaimnya</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/wasathiyah-muhammadiyah-jalan-tengah-yang-sering-disalahpahami-bahkan-oleh-mereka-yang-mengklaimnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2025 07:04:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6274</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rokhmat Widodo Wasathiyah kerap dielu-elukan, tetapi jarang dipahami secara utuh. Ia disebut di mimbar, ditulis di spanduk, dan dipamerkan sebagai identitas, namun sering direduksi menjadi sikap aman—tidak tegas ke mana-mana, tidak jelas membela siapa. Dalam konteks Muhammadiyah, penyempitan makna ini justru berbahaya. Sebab wasathiyah bukan zona nyaman, melainkan posisi etis yang menuntut keberanian [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/wasathiyah-muhammadiyah-jalan-tengah-yang-sering-disalahpahami-bahkan-oleh-mereka-yang-mengklaimnya/">Wasathiyah Muhammadiyah: Jalan Tengah yang Sering Disalahpahami, Bahkan oleh Mereka yang Mengklaimnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Oleh : Rokhmat Widodo</h4>
<p>Wasathiyah kerap dielu-elukan, tetapi jarang dipahami secara utuh. Ia disebut di mimbar, ditulis di spanduk, dan dipamerkan sebagai identitas, namun sering direduksi menjadi sikap aman—tidak tegas ke mana-mana, tidak jelas membela siapa. Dalam konteks Muhammadiyah, penyempitan makna ini justru berbahaya. Sebab wasathiyah bukan zona nyaman, melainkan posisi etis yang menuntut keberanian intelektual dan konsistensi moral.<br />
Muhammadiyah tidak lahir dari kecenderungan untuk mencari jalan selamat. Sejak awal, gerakan ini berdiri di tengah badai: melawan praktik keagamaan yang membeku sekaligus berjarak dari arus modernitas yang menanggalkan nilai. Wasathiyah Muhammadiyah adalah sikap sadar untuk tidak terjebak dalam dua ekstrem itu. Ia bukan sikap ragu-ragu, melainkan pilihan ideologis yang berpijak pada tauhid, akal sehat, dan kemaslahatan manusia.<br />
Masalahnya, dalam perkembangan mutakhir, wasathiyah sering dijinakkan. Ia diperlakukan sebagai alat peredam konflik, bukan sebagai kerangka kritik. Padahal, dalam tradisi Muhammadiyah, jalan tengah justru bersifat aktif dan korektif. Tajdid—sebagai jantung gerakan—menuntut keberanian untuk membongkar yang mapan dan membangun yang relevan. Wasathiyah tanpa tajdid hanya akan menjadi moderasi kosmetik: tampak rukun, tetapi miskin daya ubah.<br />
Secara metodologis, Muhammadiyah menolak cara beragama yang hanya bertumpu pada literalitas teks tanpa nalar, sekaligus menolak kebebasan tafsir yang tercerabut dari rujukan wahyu. Di titik inilah wasathiyah bekerja sebagai disiplin berpikir. Ia menjaga keseimbangan antara kesetiaan pada sumber ajaran dan kepekaan terhadap konteks sosial. Sikap ini menegaskan bahwa moderasi bukan berarti mengurangi prinsip, tetapi menempatkan prinsip secara proporsional.<br />
Dalam ranah kebangsaan, wasathiyah Muhammadiyah kerap berada dalam posisi yang tidak populer. Ia menolak politik identitas yang memanipulasi agama, namun juga tidak tunduk pada logika kekuasaan yang ingin mensterilkan nilai moral dari ruang publik. Muhammadiyah memilih jalur keumatan yang kritis—hadir mengoreksi, bukan menguasai. Di sini, jalan tengah justru menjadi posisi yang paling sulit, karena ia berhadapan dengan tekanan dari dua arah sekaligus.<br />
Wasathiyah juga diuji dalam praktik sosial. Ketika agama direduksi menjadi simbol, Muhammadiyah menjawabnya dengan kerja nyata melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Amal usaha bukan sekadar instrumen organisasi, melainkan ekspresi teologis. Islam diterjemahkan menjadi layanan, bukan sekadar slogan. Inilah wasathiyah yang membumi: tidak sibuk menghakimi, tetapi konsisten memecahkan masalah.<br />
Namun tantangan terbesar wasathiyah hari ini datang dari dalam. Ketika moderasi hanya diulang sebagai jargon, ia kehilangan daya kritisnya. Ketika jalan tengah dimaknai sebagai sikap “jangan ribut”, ia berubah menjadi pembenaran atas ketidakadilan. Muhammadiyah dituntut untuk menjaga wasathiyah agar tetap bernyali—berani menyebut yang keliru sebagai keliru, meski datang dari arus mayoritas.<br />
Pada akhirnya, wasathiyah Muhammadiyah bukan strategi bertahan, melainkan etika perjuangan. Ia tidak menjanjikan tepuk tangan, tetapi menawarkan keberlanjutan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh ekstremisme dan kepalsuan moral, jalan tengah ala Muhammadiyah justru menjadi posisi paling radikal: setia pada nilai, jernih dalam nalar, dan tegas dalam keberpihakan pada kemanusiaan.</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/wasathiyah-muhammadiyah-jalan-tengah-yang-sering-disalahpahami-bahkan-oleh-mereka-yang-mengklaimnya/">Wasathiyah Muhammadiyah: Jalan Tengah yang Sering Disalahpahami, Bahkan oleh Mereka yang Mengklaimnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggugat Seremoni dan Moral Hari Ibu di Tengah Realitas Luka Perempuan</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/menggugat-seremoni-dan-moral-hari-ibu-di-tengah-realitas-luka-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2025 06:51:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6271</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Tunjung Eko Wibowo Setiap tanggal 22 Desember, ruang publik kita mendadak riuh oleh ornamen sentimentil. Iklan diskon kado bermunculan, baliho pejabat dengan ucapan selamat terpampang di sudut kota dan linimasa media sosial berubah menjadi galeri foto kenangan bersama Ibu. Kita seolah sedang merayakan sebuah &#8220;hari raya&#8221; besar yang sakral. Namun, di balik keriuhan seremoni [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/menggugat-seremoni-dan-moral-hari-ibu-di-tengah-realitas-luka-perempuan/">Menggugat Seremoni dan Moral Hari Ibu di Tengah Realitas Luka Perempuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><b>Oleh: Tunjung Eko Wibowo</b></strong></p>
<p>Setiap tanggal 22 Desember, ruang publik kita mendadak riuh oleh ornamen sentimentil. Iklan diskon kado bermunculan, baliho pejabat dengan ucapan selamat terpampang di sudut kota dan linimasa media sosial berubah menjadi galeri foto kenangan bersama Ibu. Kita seolah sedang merayakan sebuah &#8220;hari raya&#8221; besar yang sakral. Namun, di balik keriuhan seremoni tahunan ini, terselip sebuah paradoks yang sangat menggelisahkan. Apakah kemuliaan seorang Ibu kini telah tereduksi menjadi sekadar komoditas musiman dan instrumen untuk menutupi borok ketidakadilan yang kian menganga?</p>
<p>Dalam perspektif Islam yang progresif dan jernih, memuliakan Ibu bukan sekadar ritual kalender yang bersifat <em><i>atomistik</i></em> berdiri sendiri dan terputus dari hari-hari lainnya. Islam tidak mengenal konsep &#8220;hari raya&#8221; untuk Ibu dalam arti ritual tahunan yang menggugurkan kewajiban di hari-hari lainnya. Sebab di dalam Islam, memuliakan Ibu adalah ibadah harian yang melintasi batas waktu. Hal ini dipertegas dalam Al-Qur&#8217;an Surah Al-Isra ayat 23:</p>
<p><em><i>&#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-k</i></em><em><sup><i>1</i></sup></em><em><i>ali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8216;ah&#8217; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang </i></em><em><sup><i>2</i></sup></em><em><i>mulia.&#8221;</i></em> (QS. Al-Isra: 23)</p>
<p>Ayat ini menginstruksikan bakti yang bersifat <em><i>daily basis</i></em> atau harian—sebuah pengabdian tanpa jeda. Namun, kenyataan di lapangan hari ini menunjukkan wajah yang berbeda. Hari Ibu terjepit di antara seremoni hambar dan realitas luka perempuan yang sering kali ditutupi atas nama agama dan tradisi.</p>
<p><strong><b>Tragedi di &#8220;Rumah&#8221; Agama yang Mengusik Nurani Pesantren</b></strong></p>
<p>Salah satu luka paling perih yang harus kita akui dengan jujur adalah meningkatnya kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan agama, termasuk pesantren. Sangat ironis ketika institusi yang seharusnya menjadi benteng moral dan tempat paling aman bagi para santriwati calon-calon Ibu masa depan, justru menjadi medan trauma yang menghancurkan masa depan. Kasus pelecehan yang dilakukan oleh oknum pengasuh, guru agama, hingga pemilik pondok pesantren bukan sekadar kejahatan seksual biasa, melainkan pengkhianatan terhadap amanah wahyu Tuhan.</p>
<p>Dalam tradisi Islam yang murni, hubungan guru dan murid adalah hubungan spiritual yang sakral. Namun relasi kuasa yang sangat timpang antara &#8220;Kiai&#8221; atau &#8220;Ustadz&#8221; dengan santrinya sering kali disalahgunakan untuk melanggengkan nafsu bejat. Yang lebih menyedihkan adalah fenomena &#8220;dinding diam&#8221; yang menyertainya. Banyak kasus sengaja ditutupi oleh lingkungan internal dengan dalih menjaga marwah institusi agama atau menjaga aib guru.</p>
<p>Kita harus tegas menyatakan, <em><i>Menutupi kejahatan seksual bukanlah bagian dari menjaga agama</i></em><strong><b>.</b></strong> Islam hadir sebagai pembebas dari kezaliman. Memuliakan perempuan berarti memberikan keadilan hukum yang tanpa pandang bulu kepada pelaku, meski mereka berlindung di balik jubah agama. Membiarkan predator tetap berkuasa dengan dalih &#8220;menghormati guru&#8221; adalah bentuk penghinaan tertinggi terhadap hak asasi perempuan yang dijamin oleh syariat itu sendiri.</p>
<p><strong><b>Gugatan Moral terhadap Nikah Siri dan Objektifikasi</b></strong></p>
<p>Luka lain yang kerap luput dari gegap gempita Hari Ibu adalah praktik nikah siri yang kian marak digunakan sebagai jalan pintas legalisasi syahwat. Banyak perempuan terjebak dalam pernikahan yang tidak tercatat secara negara, yang dalam praktiknya sering kali hanya menempatkan perempuan sebagai objek pemuas nafsu tanpa jaminan hak-hak hukum yang jelas.</p>
<p>Secara fikih formal, nikah siri mungkin memenuhi rukun minimalis, namun secara moral-sosial ia sering kali gagal mewujudkan (kemaslahatan. Tanpa perlindungan negara, seorang Ibu yang dinikah siri tidak memiliki posisi tawar saat terjadi kekerasan atau penelantaran ekonomi. Ia tidak memiliki akses hukum untuk menuntut nafkah bagi dirinya maupun identitas bagi anak-anaknya.</p>
<p>Nikah siri sering kali menjadi alat bagi laki-laki untuk melarikan diri dari tanggung jawab sebagai pelindung/pemimpin. Jika kita benar-benar ingin memuliakan Ibu, kita harus menentang segala bentuk ikatan yang merendahkan martabat perempuan menjadi sekadar objek seksual sementara. Memuliakan Ibu berarti memastikan ia memiliki legalitas yang kuat agar ia tidak dibuang begitu saja saat sang suami merasa bosan atau enggan bertanggung jawab secara finansial.</p>
<p>Nikah siri sering menjadi alat laki-laki untuk lari dari tanggung jawab sebagai pelindung. Islam secara tegas memberikan mandat kepemimpinan yang berbasis perlindungan, bukan penindasan, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 34:<sup>3</sup></p>
<p><em><i>&#8220;Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari har</i></em><em><sup><i>4</i></sup></em><em><i>tanya&#8230;&#8221;</i></em> (QS. An-Nisa: 34)</p>
<p>Ayat ini sering kali disalahpahami sebagai lisensi untuk mendominasi. Padahal, kata pelindung dalam ayat tersebut menuntut tanggung jawab penuh, termasuk memberikan nafkah dan perlindungan keamanan. Sangat ironis jika seorang suami menuntut layanan seksual namun membiarkan istrinya bekerja keras sendirian sebagai tulang punggung keluarga tanpa dukungan moral maupun materi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><b>Ibu sebagai Tulang Punggung dalam Kepungan KDRT</b></strong></p>
<p>Di luar persoalan hukum, kita juga harus jujur melihat data sosial kita. Dewasa ini, banyak perempuan yang menyandang status Ibu sekaligus menjadi tulang punggung utama keluarga di tengah keberadaan suami yang sehat secara fisik namun abai secara moral. Banyak Ibu yang harus memeras keringat menjadi buruh cuci, pedagang pasar, hingga pekerja migran karena sang suami tidak memahami hak dan kewajibannya.</p>
<p>Dalam tafsir patriarki yang sempit, agama sering kali hanya digunakan untuk melegitimasi posisi laki-laki sebagai pemuas nafsu seksual, tanpa memenuhi kewajiban nafkah. Perempuan dipaksa menjadi &#8220;superhuman&#8221; yang menanggung beban ekonomi sekaligus domestik, sementara hak-hak emosionalnya diinjak-injak. Fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baik fisik maupun verbal, menjadi hantu yang nyata. Rumah yang seharusnya menjadi oase ketenangan (<em><i>sakinah</i></em>), bagi banyak perempuan justru berubah menjadi penjara yang penuh teror.</p>
<p>Islam modern harus tegas menyuarakan bahwa pernikahan bukan kontrak perbudakan. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa suami terbaik adalah yang paling lembut dan paling baik perlakuannya kepada istrinya. Membiarkan perempuan bekerja sendiri memenuhi kebutuhan keluarga sementara suami berpangku tangan adalah bentuk kezaliman nyata yang dikutuk agama. Bakti seorang anak dan penghormatan seorang suami—seharusnya mewujud dalam bentuk meringankan beban, bukan menambah derita.</p>
<p><strong><b>Menembus Komodifikasi dalam Mengembalikan Bakti ke Akar Ibadah</b></strong></p>
<p>Salah satu ancaman nyata bagi makna Hari Ibu di era digital adalah komodifikasi perasaan. Industri kapitalis dengan cerdik membungkus kasih sayang dalam paket-paket konsumsi. Akibatnya, ukuran &#8220;bakti&#8221; perlahan bergeser dari nilai substansial—seperti kehadiran fisik dan ketenangan batin menjadi nilai material. Ada bahaya yang mengintai di balik peringatan setahun sekali ini, perasaan sudah &#8220;selesai&#8221; menunaikan kewajiban setelah mengunggah foto manis di media sosial.</p>
<p>Pandangan Islam modern mengajak kita untuk melihat melampaui estetika digital tersebut. Memuliakan Ibu adalah sebuah marathon(perjalanan panjang), bukan sprint(bukan kecepatan sekali selesai). Ia adalah tentang konsistensi dalam kesabaran saat menghadapi masa tua mereka, kelembutan dalam bertutur kata dan keberanian untuk membela hak-hak mereka di depan publik. Seorang Ibu yang sedang berjuang melawan trauma pelecehan atau Ibu yang kelelahan karena beban ganda, tidak membutuhkan kado mahal yang hanya memberikan kesenangan sesaat. Mereka membutuhkan kehadiran, pengertian dan sistem yang menjamin keamanan mereka.</p>
<p><strong><b>Menuju Perlindungan yang Utuh dan Berkeadilan</b></strong></p>
<p>Menggugat seremoni Hari Ibu berarti kita menolak perempuan ditempatkan hanya sebagai objek. Perempuan bukan sekadar objek pemuas syahwat, bukan sekadar mesin pencetak anak dan bukan sekadar &#8220;tambal sulam&#8221; ekonomi keluarga. Mereka adalah subjek hukum dan subjek spiritual yang setara di hadapan Tuhan.</p>
<p>Agar pemuliaan ini tidak berhenti di bibir saja, kita membutuhkan transformasi nyata:</p>
<ol>
<li><i></i><em><i>Transparansi dan Ketegasan Hukum:</i></em>Institusi pendidikan agama harus memiliki mekanisme perlindungan santri yang kuat. Tidak boleh ada perlindungan pengampunan bagi pelaku kekerasan seksual, terlepas dari apa jabatannya di pesantren atau organisasi keagamaan bahkan pemerintahan serta pejabat publik.</li>
<li><i></i><em><i>Reposisi Peran Laki-laki:</i></em>Pendidikan pranikah harus menekankan bahwa menjadi suami berarti menjadi pelindung yang siap berbagi beban, bukan sekadar menuntut layanan seksual. Pendidikan pranikah sangat diperlukan dari berbagai agama, bukan hanya wejangan, tetapi benar-benar dilakukan oleh calon keluarga, penerapan, pemahaman hukum serta agama.</li>
<li><i></i><em><i>Penguatan Hak Konstitusional:</i></em>Negara harus mempersempit celah nikah siri yang eksploitatif dan memastikan UU TPKS (Penghapusan Kekerasan Seksusal) diimplementasikan hingga ke tingkat akar rumput tanpa hambatan budaya atau tafsir agama yang bias.</li>
</ol>
<p><strong><b>Merdeka dari Sekat Sebagai Hari Besar</b></strong></p>
<p>Mari kita ubah paradigma kita. Jangan biarkan bakti kita kepada Ibu layu bersama gugurnya bunga yang kita berikan di tanggal 22 Desember. Kemuliaan seorang Ibu terlalu besar untuk dikerdilkan dalam satu hari saja. Hari Ibu seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Sejauh mana kita telah memanusiakan Ibu kita di tengah hiruk-pikuk ambisi pribadi? Apakah kita sudah memberikan waktu yang berkualitas atau hanya memberikan sisa-sisa dari kelelahan kita?</p>
<p>Dalam Islam, setiap hari adalah &#8220;hari raya&#8221; bagi Ibu. Setiap pagi saat kita bangun adalah kesempatan untuk mencari rida Tuhan melalui senyumannya. Setiap malam adalah waktu untuk memastikan ia tidur dalam keadaan aman dan tenang. Kita butuh aksi nyata yang melindungi perempuan dari kekerasan dan pelecehan, bukan sekadar puisi tahunan yang hambar.</p>
<p>Karena pada akhirnya, surga yang berada di bawah telapak kaki Ibu tidak akan pernah bisa dicapai oleh mereka yang membiarkan kaki itu terus berjalan di atas duri ketidakadilan. Sudah saatnya kita memerdekakan bakti dari sekat kalender dan memanusiakan perempuan sebagaimana Tuhan memuliakannya.</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/menggugat-seremoni-dan-moral-hari-ibu-di-tengah-realitas-luka-perempuan/">Menggugat Seremoni dan Moral Hari Ibu di Tengah Realitas Luka Perempuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Persimpangan Iman dan Keluarga: Dilema Mualaf Menghadapi Natal</title>
		<link>https://www.kudusmu.id/di-persimpangan-iman-dan-keluarga-dilema-mualaf-menghadapi-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammadiyah Kudus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2025 02:25:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.kudusmu.id/?p=6211</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis : Tunjung Eko Wibowo Indonesia sebagai negara yang majemuk dan multi etnis, menjadi negara dengan ragam agama dan budaya. Sebuah negara yang kehidupan masyarakatnya bersentuhan langsung keberagaman sebagai pilar utama. Dalam setiap akhir tahun selalu menghadirkan perayaan besar, khususnya Natal. Namun bagi satu kelompok minoritas yang tumbuh pesat termasuk mualaf, Natal bukan sekadar momen [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/di-persimpangan-iman-dan-keluarga-dilema-mualaf-menghadapi-natal/">Di Persimpangan Iman dan Keluarga: Dilema Mualaf Menghadapi Natal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Penulis : Tunjung Eko Wibowo</h4>
<p>Indonesia sebagai negara yang majemuk dan multi etnis, menjadi negara dengan ragam agama dan budaya. Sebuah negara yang kehidupan masyarakatnya bersentuhan langsung keberagaman sebagai pilar utama. Dalam setiap akhir tahun selalu menghadirkan perayaan besar, khususnya Natal. Namun bagi satu kelompok minoritas yang tumbuh pesat termasuk mualaf, Natal bukan sekadar momen liburan nasional. Ia adalah waktu ujian pergulatan batin, di mana garis antara akidah dan kekeluargaan diuji secara nyata.</p>
<p>Mualaf yang kini memegang teguh keyakinan ketauhidannya, harus menghadapi orang tua dan keluarga asal mereka yang masih memeluk agama Protestan atau Katolik. Mereka berdiri di persimpangan dua cinta yang sakral, komitmen mutlak kepada Allah swt dan kewajiban moral untuk berbakti kepada orang tua (<em><i>birrul walidain</i></em>).</p>
<p>Bagaimana jika seorang mualaf dapat memenuhi panggilan Ilahi untuk berbakti tanpa mengkompromikan loyalitas dan penolakan akidah? Karena kebanyakan dari kita semua, agama yang dianut lebih banyak karena keturunan. Apabila dalam pencarian hidup pada akhirnya mualaf, dalam bentuk apapun itu hak pribadi. Namun Islam dalam hal ini tetap mempunyai ketegasan dan tuntunan akhlak yang universal, sehingga diterima oleh masyarakat yang multiras dan multietnis.</p>
<p><strong><b>Prinsip Dasar Universal Sebagai Fondasi Konsensus Umat</b></strong></p>
<p>Meskipun terdapat ragam organisasi dan mazhab dalam Islam, (penulis) berkaca dari sikap Muhammadiyah terhadap perayaan agama lain berakar kuat pada pemurnian akidah dan pemisahan tegas antara urusan Ibadah (hubungan vertikal dengan Allah) dan <em><i>Muamalah</i></em> (hubungan horizontal antarmanusia). Sehingga mualaf dapat melewati masa-masa dengan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia.</p>
<p><em><i>Prinsip yang jelas</i></em></p>
<p>Muhammadiyah berpegangan pada prinsip yang menegaskan independensi akidah Islam, yang dituliskan dalam <em><i>Surat Al-Kafirun  ayat 6</i></em><strong><b>,</b></strong> (Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku).</p>
<ul>
<li>Muhammadiyah cenderung mengharamkan ucapan &#8220;Selamat Natal.&#8221; Hal ini sebagai upaya mencegah jalan yang mengarah pada haram. Walaupun ucapan tersebut berniat sosial, secara teologis mengandung pengakuan. Maka dari itu tetap berprinsip bahwa (dirinya) sudah Islam. Jika diucapkan dianggap masih memiliki keyakinan terhadap (ketuhanan) Yesus.</li>
<li>Partisipasi Ritual yang tidak boleh dilakukan lagi. Termasuk didalamya menghadiri Misa keluarga (apalagi di Gereja) atau kebaktian. Karena Misa/Kebaktian sebagai ibadah wajib yang sarat makna keimanan yang bertentangan langsung dengan <em><i>syahadat </i></em>yang diucapkan oleh Mualaf.</li>
</ul>
<p>Hal ini buka sebagai bentuk tindakan <em><i>intoleran</i></em>, tetapi justru hal ini untuk menghormati pemeluk peribadatan agama lain. Bukan sekedar <em><i>kafir</i></em> atau <em><i>haram</i></em>, tetapi bentuk menghargai itu sebagai menjaga sebuah keyakinan yang sebenarnya.</p>
<p><em><i>Kewajiban universal dalam toleransi</i></em></p>
<p>Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan ikatan kekeluargaan. Sehingga kewajiban berbakti kepada orang tua sangat dijunjung tinggi, walaupun non muslim kecuali orang tua memaksa anak melakukan kejahatan atau melanggar perintah Tuhan dan agama. Dan didalamnya Persyarikatan Muhammadiyah sangat menjunjung tinggi prinsip toleransi dalam pergaulan sosial.</p>
<p>Dalam menghadapi dilema keluarga mualaf, terdapat sudut pandang yang perlu diketahui, yaitu :</p>
<ul>
<li>Sebagai mualaf harus ada penolakan dalam hal akidah, karena memang sudah berbeda</li>
<li>Kewajiban berbakti kepada orang tua (birrul walidain) tetap berlaku. Bakti ini diwujudkan dalam urusan duniawi, seperti merawat, menghormati, memberi nafkah, dan menjaga hubungan.</li>
<li>Dalam kehidupan keluarga ada kewajiban untuk tetap bergaul sebagai mahkluk sosial. Memelihara kerukunan antarumat beragama adalah bagian dari <em><i>muamalah</i></em>yang dianjurkan</li>
</ul>
<p>Intinya kita wajib menolak ajaran mereka, tetapi haram menolak kasih sayang kita kepada mereka.</p>
<p><strong><b>Mualaf di Muhammadiyah Itu Praktis</b></strong></p>
<p>Mudahnya kita pisahkan dulu antara ibadah dan muamalah, sehingga kita tidak perlu berbelit-belit untuk diperdebatkan. Prinsip dasarnya bagaimana mualaf tidak melanggar tauhid serta akidanya tapi dapat berinteraksi dengan baik. Sehingga kehidupan berkeluarga dan bersosial masih tetap bisa dijalani sebagai manusia dan keluarga.</p>
<p><em><i>Silaturahmi bentuk ibadah yang bukan ritual keagamaan</i></em></p>
<p>Sebagai bentuk <em><i>birrul walidain</i></em> yang dianjurkan, sebagai mualaf datang dengan niat menjenguk, menunjukkan kasih sayang, makan bersama dan berbagi cerita. Sebagai wujud baktinya anak terhadap orang tuanya. Kunjungan ini harus diatur di luar waktu ritual inti (Misa Malam atau Pagi).</p>
<p><em><i>Kedepankan sosial toleransi sesama manusia</i></em></p>
<p>Bentuk toleransi sosialmanusia adalah menghormati, menjaga dan mempunyai batasan yang telah di tentukan. Sehingga tidak ada konflik atau perselisihan antar manusia sebagai mahkluk Tuhan. Kehadiran sebagai mualaf harus diposisikan sebagai kunjungan sosial kekeluargaan, bukan bagian dari perayaan keagamaan. Mualaf dapat menyibukkan diri di area keluarga (ruang makan atau tamu) dan saling mmenghormati untuk tidak mengikuti dalam prosesi doa. Penyampaian maksud penolakan juga disampaikan dengan kelembutan seorang muslim.</p>
<p><strong><b>Sikap Cerdas Mualaf </b></strong></p>
<p><em><i>Mengucapkan dengan Kelembutan dan Doa Kebaikan</i></em></p>
<p>Dalam konteks ucapan &#8220;Selamat Natal,&#8221; perbedaan pandangan ulama sering membingungkan. Muhammadiyah misalnya, cenderung mengharamkan agar tetap berpegang tuguh dengan keimanan Islam. Natal sendiri adalah bentuk keteguhan teologis terhadap Yesus. Walaupun ada sebagian orang masih dianggap sebagai ucapan sosial dan bukan ritual.</p>
<p>Bagi mualaf di masyarakat majemuk, berlaku bijak saja dengaan ucapan-ucapan kebiasaaan yang baik atau doa yang baik secara umum. Sebagai bentuk ucapan yang baik adalah bentuk semangat dalam kebaikan.</p>
<p>Ucapan Natal, bisa saja diganti dengan, <em><i>“Semoga papa mama selalu dalam kedamaian dan kebahagian di hari libur ini”</i></em></p>
<p>Jika secara khusus, <em><i>“Papa Mama, kami sekeluarga datang untuk kebahagiaan bersama keluarga di liburan ini dan semoga selalu diberi kesehatan”</i></em></p>
<p>Bila diucapkkan untuk keluarga besar, <em><i>“Semoga Tuhan Allah swt, selalu memberikan berkah perlindungan dan kebaikan untuk kalian serta keluarga ini”</i></em></p>
<p>Ucapan-ucapan diatas menunjukkan sebuah<em><i> </i></em>toleransi dan kemanusiaan tanpa menyentuh keyakinan prinsip keagamaan. Sehingga hal itu rasanya tidak berisiko merusak Tauhid. Jalan tengah ini tentu tidak jadi pertentangan sehingga menenangkan hati tanpa mengorbankan keimanan.</p>
<p><em><i>Ekspresi Kasih Sayang yang Halal</i></em></p>
<p>Memberikan ekspresi sebagai penghormatan juga hal yang <em><i>lumrah</i></em>. Seperti yang sering dilakukan dengan pemberian hadiah. Sebagai bentuk <em><i>muamalah</i></em> dengan kerabat atau orang tua dianjurkan sebagai wujud bakti. Mualaf diperbolehkan memberikan hadiah kepada keluarga non-Muslim saat Natal. Namun hadiah tersebut bukan barang yang akan digunakan dalam ritual peribadatan (misalnya, patung, salib, atau properti gereja). Pilihlah hadiah yang bersifat umum seperti makanan, pakaian, atau kegemaran dari keluarga tersebut dan bisa dengan kebutuhan rumah tangga.</p>
<p><strong><b>Prinsip Ketaatan di Tengah Tekanan</b></strong></p>
<p>Ujian terberat datang ketika orang tua menuntut partisipasi dalam ritual atau mengancam memutuskan hubungan (membenci). Islam telah memberikan batasan serta solusi yang memberikan makna sebuah kebaikan. Kita harus memberikan pemaahaman dengan baik dan tidak menyinggung, bahwa peribadatan keagamaan sudah tidak bisa jalankan lagi.</p>
<p>Karena paada prinsipnya ketaatan kepada Allah (menjaga akidah) berada di atas Ketaatan kepada Makhluk (orang tua). Namun, penolakan ini harus diiringi dengan keunggulan akhlak yang luar biasa. Dalam penolakan tersebut kita ganti dengan kebaikan non-ritual yang melimpah (hadiah, bantuan finansial, waktu bersama). Buktikan bahwa penolakan ini adalah karena prinsip, bukan karena kurangnya cinta atau bakti. Sikap ini membuktikan bahwa penolakan itu murni karena iman dan cinta anak kepada orang tua tidak pernah berkurang</p>
<p><strong><b>Implikasi bagi Masyarakat Multikultural</b></strong></p>
<p>Sikap bijak mualaf dalam menghadapi Natal tidak hanya tentang urusan pribadi, tetapi juga tentang wajah Islam di mata masyarakat majemuk. Kita juga mampu menunjukkan kebaikan sebagai citra Muhammadiyah tetap toleran, lembut dan menjaga silaturahmi dengan keluarga.</p>
<p><em><i>Peran dan pesan kedamaian</i></em></p>
<p>Ketika seorang mualaf mampu menjaga keimanan dengan kokoh namun tetap memperlakukan orang tuanya dengan penuh hormat dan kasih sayang. Kita menjadi teladan nyata dari konsep rahmat bagi seluruh alam. Tindakan ini efektif mematahkan stigma bahwa Islam adalah agama yang kaku atau tidak toleran terhadap ikatan kekeluargaan.</p>
<p>Tetap konsisten dalam memurnikan akidah dari unsur-unsur syirik. Menciptakan akhlak terbaik yang mampu menjadi teladan yang unggul, di mana ketegasan iman tidak menghalangi praktik toleransi sosial dan bakti kepada keluarga.</p>
<p><em><i>Mungkinkah Mualaf Mendapat Dukungan dari Komunitasnya? </i></em></p>
<p>Katanya, mualaf tidak boleh dibiarkan sendirian dalam dilema ini. Tetapi yang selama ini terjadi, terkadang memang agak berbeda. Sebagai mualaf memang harus membuka diri dan tidak perlu malu. Dakam pemahaman (penulis) kemudahan itu didapatkan dari tetangga sesama muslim, masjid, organisasi, kajian).</p>
<p><strong><b>Harus diakui kita </b></strong>kesulitan dalam menyeimbangkan iman dan keluarga. Namun sebagai Jawa, bahwa perbedaan itu bukan penghalang untuk menjauh. Harus menyeimbangkan rasa dalam bentuk meningkatkan iman tanpa menjauhi keluarga.</p>
<p>Mencoba untuk mengejaar ketertinggalan, selalu belajar dengan bimbingan dari ustadz. Dengan kedalaman dan pemahaman, sehingga mualaf memiliki kekuatan batin untuk menolak tanpa merasa bersalah berlebihan.</p>
<p><strong><b>Menjaga Keimanan, Memelihara Kemanusiaan</b></strong></p>
<p>Mualaf berada dalam posisi yang unik, menjadi penghubung hidup antara dua keyakinan besar. Kisah ini adalah pelajaran tentang bagaimana akidah dan akhlak harus berjalan beriringan. Dengan mengamalkan ketegasan akidah dengan tidak ikut serta dalam ritual dan keluhuran akhlak (mempergauli orang tua dengan kebaikan yang maksimal).</p>
<p>Sebagai mualaf mampu menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang anti keluarga atau anti toleransi. Sebaliknya, Islam menggariskan jalan untuk memelihara ikatan darah sambil menjaga kebersihan jiwa dan keimanan. Di lingkungan Muhammadiyah, tantangan Natal adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa Islam menawarkan jalan tengah yang sempurna. Tegak lurus dalam prinsip, namun lentur dan penuh kasih sayang dalam pergaulan hidup.</p>
<p>Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada saudaraku mualaf untuk melewati ujian ini dengan ketenangan hati dan kebijaksanaan. Amin.</p>
<h5><em><i>(Dikupas dari sudut pandang mualaf)</i></em></h5>
<p>Artikel <a href="https://www.kudusmu.id/di-persimpangan-iman-dan-keluarga-dilema-mualaf-menghadapi-natal/">Di Persimpangan Iman dan Keluarga: Dilema Mualaf Menghadapi Natal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.kudusmu.id">Muhammadiyah Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
