Penulis : Tunjung EW
Organisasi Islam Ini Justru Terjebak Materialisme?
Muhammadiyah, nama yang identik dengan modernitas dan kemapanan. Setelah 113 tahun, organisasi yang lahir dari K.H. Ahmad Dahlan ini telah menjelma menjadi raksasa aset dengan ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, puluhan universitas. Semua menjadi simbol kekuatan material yang sulit ditandingi. Tetapi mari kita bicara jujur. Muhammadiyah, organisasi Islam yang lahir dari semangat pembaruan radikal. Namun, apakah kekayaan material ini yang diciptakan oleh gerakan Tajdid secara otomatis menjamin tercapainya Islam Berkemajuan? Kita perlu menggunakan pisau bedah paling tajam dalam otak kita dalam kerangka berpikir Materialisme Dialektika. Bukan untuk menjadi komunis ataupun sosialis, tetapi untuk mengkritisi basis material dan kesadaran ideologis Muhammadiyah saat ini.
Materialisme Dialektika mengajarkan bahwa kondisi material sebagai penentu utama kesadaran, ideologi, dan budaya. Dan pakah basis material Muhammadiyah (yaitu amal usaha yang bersifat korporatif dan kapitalis) kini telah membentuk suprastruktur yang statis dan kompromis, jauh dari semangat revolusioner K.H. Ahmad Dahlan? Muhammadiyah mungkin sedang berada dalam persimpangan jalan untuk menjadi surga kapitalis yang nyaman atau menjadi pelopor keadilan sosial sejati.
Siapa Pemilik Sejati Gerakan Ini?
Materialisme Dialektika Karl Marx selalu berbicara tentang konflik kelas. Dan tanpa kita sadari dalam konteks Muhammadiyah juga terlihat dalam kontradiksi antara elit pengelola AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) dan umat/publik yang dilayani. Atas dasar profesional terkadang hal itu menjadi sebuah dinding pembatas. Dengan gerakan yang berbasis pada kesejahteraan umat dalam gerakan sosial untuk masyarakat. Muhammadiyah lahir dari spirit kepedulian sosial (Al-Ma’un) yaitu melayani kaum duafa dan yatim. Amal usaha yang di kembangkan Persyarikatan Muhammadiyah dibangun dari semangat kerelawanan dan kebersamaan.
Seiring membesarnya setiap amal usaha yang di kelola dan dikembangkan, Muhammadiyah merasa bahwa kelembagaan ini harus dikelola secara profesional. Sehingga lahirlah kelas pimpinan dan profesional yang secara ekonomi jauh lebih mapan daripada rata-rata anggotanya. Rumah sakit kini mengejar surplus, fasilitas kesehatan untuk mengejar akreditasi dan sekolah menetapkan biaya yang merujuk peningkatan branding. Hal ini dilakukan agar umat Islam aktif menyeimbangkan serta mampu menyelesaikan masalah sosial yang ada.
Dialetika Kerangka Berpikir dan Kompromi Kekuasaan
Modernitas telah membawa Muhammadiyah pada posisi sebagai salah satu yang paling mapan secara institusional di Indonesia. Tetapi juga salah satu yang paling progresif secara pemikiran, namun dalam era modern ini Amal Usaha Muhammadiyah menuntut efisiensi dan surplus. Umat sebagai basis material ini mau tidak mau mengubah kerangka berpikir dalami gerakannya. Sehingga Muhammadiyah muncul sebagai sintesis yang cerdas dari kedua antitesis tersebut. Muhammadiyah tidak menolak Modernitas Barat secara buta, tetapi juga tidak menerima Tradisionalisme yang stagnan.
Kesadaran dalam semangat kerelawanan tentu saja akan terancam dengan digantikan etika profesionalisme. Karena amal usaha yang punya dasar jasa tentu saja akan mengejar profit. Sehingga Muhammadiyah berpotensi tidak lagi menjadi milik semua orang, melainkan menjadi premium brand yang hanya terjangkau oleh kelas menengah-atas. Jika hal tersebut tidak dijaga maka barang tentu dari kalangan elit kelas atas akan terdapat sekat dengan umat. Jika biaya Amal Usaha Muhammadiyah terlalu mahal, maka akan muncul konflik.
Umat yang dibela dan di harapkan KH. Ahmad Dahlan justru kesulitan mengakses layanan yang dibangun atas nama mereka. Lahirnya amal usaha ini seharusnya mampu menjaga dialog kebutuhan semua umat, yang bisa berkolaborasi serta berkelanjutan. Agar hal tersebut tetap efektif dalam semangat kepedulian sosial (Al Maun). Jika Muhammadiyah hari ini tidak berani menjadikan kolektivitas dan aksesibilitas sosial sebagai indikator utama kesuksesan, maka hanya akan di lihat sebagai korporasi raksasa, bukan lagi gerakan sosial keagamaan.
Muhammadiyah memiliki semangat perjuangan yang sangat ideal, yaitu non politik praktis. Namun, apakah ini murni ideologis ataukah konsekuensi materialistis? Karena secara ideologis, Muhammadiyah ingin menjaga kemandirian agar bisa kritis terhadap kekuasaan. Sebagai contoh amal usaha di Muhammadiyah akan sangat tergantung dari stabilitas politik dan regulasi. Rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, hal itu akan bertarung dalam ranah komersialisasi. Seperti pasar bebas yaitu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Mengaapa, karena hal itu berhubungan dengan perijinan operasional segala amal usaha yang akan di jalankan. Sehingga kompromi-kompromi politik akan berkecimpung didalamnya.
Karena menciptakan kompromi politis, maka aset yang dimiliki harus tetap aman dan tidak ada konflik politis. Dan konsekuensi logis yang harus di hadapi adalah cenderung berdialog dengan halus (jika tidak boleh disebut diam). Padahal kemungkinan kebijakan pemerintah dalam ranah politik mengancam keadilan sosial. Hanya demi menjaga agar aset amal usaha yang di miliki tetap aman dan lancar. Dari hal tersebut Muhammadiyah benar-benar jangan sampai menghasilkan perhitungan pragmatis untuk melindungi investasi aset.
Islam Berkemajuan yang sejati harus berani kehilangan kenyamanan (yaitu, potensi subsidi atau dukungan regulasi) demi menyuarakan keadilan terstruktur. Jika Muhammadiyah takut mengkritik penguasa karena takut asetnya terganggu, maka basis umat telah membelenggu kebebasan ideologisnya. Semangat Tajdid awal Muhammadiyah begitu revolusioner yang berani menentang kebijakan pemerintah, ulama tradisional dan penjajah sekaligus. Dengan semangat itu Muhammadiyah akan tetap menjadi penyeimbang dalam sense of crisis bernegara. Karena pendekatan dan ideologi yang menantang kemapanan namun tetap berpedoman pada Al Qur’an dan sunnah rasul yang benar (sah dan sempurna), tidak melnggar hukum negara.
Tidak Terjebak dalam Dogma Organisatoris dan Konservatisme Elit
Setelah 113 tahun, ideologi Tajdid berisiko berubah menjadi pandangan yang kaku karena harus dipertahankan secara kelembagaan. Dengan ketakutan akan perubahan yang sangat frontal, elit organisasi yang nyaman dengan posisi, kekuasaan dan asetnya cenderung konservatif dan menolak perubahan itu. Jika merasa telah membangun sistem yang sempurna maka akan timbul hal yang tidak harus diubah. Hal itu akan cenderung terlaambat dalam melangkah, ragu mengambil keputusan. Apakah Islam Berkemajuan saat ini hanya diartikan sebagai kemajuan institusional (banyak gedung), bukan kemajuan pemikiran struktural (membongkar ketidakadilan)?
Untuk mencapai Islam Berkemajuan, Muhammadiyah harus membiarkan pemikiran yang kritis muncul dari dalam. Harus mampu mencegah kekuasaan materialisme yang menutup berkembangnya kesejahteraan sosial. Bahkan jika mengancam kestabilan aset material dan kenyamanan elit, harus mampu menjadikan Muhammadiyah sebagi lembaga kritis yang benar-benar modern. Muhammadiyah menjadi mapan secara institusional, dialektika berpindah ke ranah pemikiran agar mampu mempertahankan kemurnian di tengah tantangan zaman yang berubah cepat.
Keharusan menjaga identitas Islam yang murni (Tajrid) dan terhindar dari pemikiran yang menyimpang. Kebutuhan untuk beradaptasi dan menjawab isu-isu kontemporer yang tidak ada dalil nash (teks) spesifiknya, mulai dari ekonomi digital, gender, hingga krisis lingkungan. Keputusan keagamaan tidak hanya bersandar pada pendekatan teks tetapi juga menggunakan pendekatan rasional dan kontekstual/substansial. Sehingga gerakan Muhammadiyah akan menghasilkan ide brilliant pemikiran yang out-of-the-box dan relevan. Konflik antara puritanisme dan progresivitas dalam Muhammadiyah justru menjadi mekanisme self-correction yang menjamin bahwa Islam Berkemajuan tidak kehilangan akar, namun juga tidak kehilangan relevansi zaman
Menuju Islam Berkemajuan Sejati
Materialisme Dialektika tidak hadir untuk menghancurkan Muhammadiyah, melainkan untuk menjadi cambuk agar kembali ke jalur perubahan revolusioner dengan partisipasi umat. Muhammadiyah juga secara total menjadi organisasi masa yang besar dan menjaga Indonesia sengan Pancasila. Tetap menjadga independensi serta netralitas dan kompromi politik praktis. Mampu mengikuti perkembangan jaman dan teknologi yang mengikat pada modernisasi. Amal Usaha harus kembali pada spirit Al Ma’un yang berorientasi sosial, bukan hanya surplus semata. Perlu ada redistribusi akses yang nyata kepada kaum yang termarjinalkan dan tidak terjebak dalam profesionalisme yang kapitalis.
Kebebasan bersuara tidak boleh dinegosiasikan dengan keuntungan sesaat. Muhammadiyah harus berani menjadi oposisi moral yang tegak terhadap ketidakadilan struktural, bahkan jika itu mengancam keberlangsungan kelembagaan persyarikatan. Jika Muhammadiyah terus membiarkan basis umatnya menentukan kesadaran ideologisnya, maka ia akan berakhir menjadi korporasi konservatif yang besar dan kaya tetapi jauh dari cita-cita luhur Islam Berkemajuan. Inilah saatnya untuk membuktikan apakah Muhammadiyah hari ini adalah sekadar organisasi kaya raya yang nyaman ataukah ia adalah kekuatan revolusioner yang mengguncang dunia demi keadilan sosial? Umat menanti jawabannya!
